Semangat Nusantara untuk Kejayaan NKRI

Semangat Nusantara untuk Kejayaan NKRI

- in Suara Kita
302
0

Perihal pemberian nama ‘Nusantara’ menjadi polemik baru di tengah pemindahan Ibu Kota Negara (IKN) Indonesia. Ada yang menyambut dengan antusias karena penamaan tersebut mengindikasikan bahwa bangsa Indonesia merupakan bangsa yang tidak lupa dengan sejarah bangsanya. Namun, ada juga yang menolak nama tersebut dengan alasan bahwa penamaan tersebut Jawa sentris atau dapat menghilangkan corak sosiologis, tradisi dan kebudayaan lokal masyarakat setempat.

Terlepas dari itu, pengesahan UU IKN yang terdiri dari 11 bab dan 44 pasal telah diketok palu oleh DPR. Artinya, kita harus bersiap-siap menyambut ibukota baru Negara Republik Indonesia dalam beberapa tahun mendatang. Hanya saja, agar kita tidak salah kaprah dalam menanggapi penamaan ‘Nusantara’ untuk ibukota NKRI yang baru, berikut beberapa kutipan penjelasan yang dapat dijadikan rujukan dalam menyikapi polemik yang sedang berlangsung tersebut.

Mengapa Nusantara?

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Nusantara merupakan sebutan nama bagi seluruh wilayah Kepulauan Indonesia. Secara morfologi, Nusantara berasal dari kata nusa (pulau) dan antara (luar atau seberang).

Dalam sejarah Indonesia, istilah ‘Nusantara’ muncul dalam Kitab Negarakertagama dan Pararaton, karya Mpu Prapanca. Dalam Negarakertagama, Nusantara mencakup sebagian besar wilayah Indonesia saat ini dan beberapa negara tetangga, seperti Malaysia, Singapura, dan Brunei. Dalam kitab Pararaton, ditulis lengkap Sumpah Palapa Gajah Mada ketika diangkat menjadi Patih Amangkubumi Majapahit.

Lamun huwus kalah Nusantara isun amukti palapa, lamun kalah ring gurun, ring Seran, Tanjung Pura, ring Haru, ring Pahang, Dompo, ring Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, Samana isun amukti palapa.” (Jika telah mengalahkan Nusantara, saya (baru akan) melepaskan puasa. Jika mengalahkan Gurun, Seram, Tanjung Pura, Pahang, Dompo, Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, demikian saya (baru akan) melepaskan puasa).

Terlepas dari itu, istilah ‘Nusantara’ juga diyakini sudah dimunculkan jauh-jauh hari sebelum era Majapahit, sebagai nama asli kerajaan Kutai Kertanegara. Hal ini senada dengan tulisan SW Tromp berjuduhl Uit de Salasila van Koetei yang termuat dalam Jurnal of The Humanities and Social Sciences of Southeast Asia, terbitan Brill, 1 Januari 1888 bahwa: menurut tradisi lisan setempat, sebelum Kutai menjadi nama kerajaan, kala itu wilayahnya menyandang nama Nusantara. Penulisan ‘Nusantara’ dalam tulisan asli Tromp tersebut ialah Noesëntara. SC Knappert yang juga seorang sejarawan juga menyebut dalam publikasi penelitiannya Beschrijving van De Onderafdeeling Koetei (Deskripsi Subdivisi/Onderafdeeling Kutai): menurut cerita penduduk asli, dulu daerah Kutai disebut Nusantara.

Selanjutnya, istilah ‘Nusantara’ juga kembali diperkenalkan oleh Ki Hajar Dewantara di masa perjuangan kemerdekaan untuk menyebut Hindia Belanda (sekarang Indonesia). Kini, nama tersebut akan digunakan untuk nama ibukota negara. Dalam penamaan tersebut, sejatinya ada pesan penting yang perlu dipahami sebagai makna filosofis agar kita bisa mewujudkan kejayaan nusantara sebagaimana yang telah dilakukan oleh nenek moyang kita.

Pertama, menyadari bahwa NKRI merupakan negara kepulauan. Bahwa NKRI tidak hanya memiliki cakupan wilayah yang luas, namun juga corak budaya juga akan beragam seiring perbedaan wilayah geografis. Maka itu, menyadari pentingnya bersatu Bhinneka Tunggal Ika adalah keniscayaan yang tidak dapat ditawar lagi.

Kedua, sebagai lecutan untuk senantiasa berkontribusi untuk kemajuan dan kejayaan Indonesia. Penggunaan ‘Nusantara’ yang notabene sama dengan istilah yang pernah digunakan dalam Sumpah Palapa mengindikasikan bahwa selain bersatu, NKRI harus menjadi bangsa yang maju. Sebagaimana Majapahit, yang tidak hanya berhasil menyatukan nusantara, tapi juga berhasil menciptakan stabilitas wilayah dan menjadi kiblat ekonomi wilayah Asia Tenggara dengan menjadi pusat perdagangan dengan menjadi pengekspor  lada, garam, dan lengkeng. Wallahu a’lam.

Facebook Comments