Semangat Pahlawan 2021; Mengaktualisasi Nilai-Nilai Kepahlawanan di Masa Kini

Semangat Pahlawan 2021; Mengaktualisasi Nilai-Nilai Kepahlawanan di Masa Kini

- in Suara Kita
1055
0
Semangat Pahlawan 2021; Mengaktualisasi Nilai-Nilai Kepahlawanan di Masa Kini

Jika menengok ke belakang tentang momen hari pahlawan 10 November 1995, kita akan disuguhkan dengan dua pilihan, berjuang atau ditindas. Berjuang untuk sebuah kebebasan atau ditindas oleh penjajah, yang kemudian kita sulit mendapatkan ruang untuk berekspresi. Mungkin, jika Bung Tomo serta jajaran pahlawan 10 November apabila tidak memilih berjuang, kebebasan yang kita rasakan mungkin tidak akan pernah ada. Bisa saja sampai saat ini kita masih dijajah, atau baru akan melakukan sebuah perlawanan. Itulah mengapa sangat penting mengenal dan mengetahui sejarah. Sebab, berangkat dari pengalaman sejarah, dari bacaan buku sejarah itulah kita diperlihatkan oleh keadaan-keadaan genting tentang arti kebersamaan, keresahan, ketakutan, sampai dengan pentingnya setetes darah.

Dalam konteks sekarang ini, menjadi pahlawan tidak harus berjuang mengangkat senjata serta ikut berperang. Kita bisa menjadi pahlawan dalam bentuk apapun. Misalnya, menjadi guru, kita sudah menjadi pahlawan bagi bangsa Indonesia. Sebab, sudah berhasil membawa banyak orang pada tatanan kehidupan yang lebih baik dari sebelumnya. Fakta membuktikan, dalam arus globalisasi yang mengalami kemajuan pesat, tuntutan untuk menjadi paham dan cerdas adalah sebuah keharusan setiap insan. Dengan tujuan agar dirinya tidak tergerus oleh kemajuan zaman yang semakin mengalami kemajuan. Dan, salah satu untuk mendapatkan pemahaman serta pengetahuan tersebut ialah melalui jalur pendidikan hingga peran seorang guru yang harus ada di dalamnya.

Maka tidak mengherankan apabila ada banyak pepatah yang mengungkapkan, guru merupakan pahlawan tanpa tanda jasa. Mereka mampu melahirkan generasi yang santun, cerdas, sampai dengan berhasil membangun bangsa Indonesia. Pun, keberhasilan tersebut juga tidak lepas dari catatan sejarah yang kemudian dikembangkan seorang guru, hingga kemudian disampaikan dengan baik kepada anak didik. Hingga menjadi bahan rujukan dalam membingkai tatanan kehidupan untuk dirinya dan orang lain.

Sebagaimana yang diungkapkan Kuntowioyo, bahwa Dimensi sejarah akan mampu memberikan sebuah gambaran penting untuk generasi yang akan datang, bagaimana sejarah itu lahir dan bagaimana sejarah itu berkembang. Kuntowijoyo memberikan sebuah penegasan, bahwa sejarah tidak hanya berhenti pada tatanan akademik semata, muliakan bisa meresap pada diri kita masing-masing, hingga bisa mengenal dan mengembangkan sejarah tersebut lebih jauh, sebagai jalan untuk kemajuan bangsa Indonesia. Karena pada faktanya sejarah adalah masa lalu yang memberikan transformasi pemikiran untuk menjadi lebih baik ke depannya.

Mengenang sejarah memang penting, tetapi membuat sejarah jauh lebih penting. Karena untuk membangun bangsa, tidak hanya sekedar mengenang perjalanan sejarah semata, melainkan juga harus diimbangi dengan konteks kehidupan sekarang. Dengan kata lain kita memang diharuskan untuk merefleksikan perjalanan sejarah dalam kehidupan sekarang. Tapi jangan lupa juga bahwa setiap generasi memiliki perjuangannya masing-masing. Dan, belajar dari sejarah kelam tersebut, seharusnya kita sadar dan siap membangun bangsa Indonesia lebih maju. Semangat persatuan harus senantiasa didedikasikan sebagai jalan untuk menuju kehidupan yang arif dan mendamaikan.

Jadilah pahlawan sesuai dengan apa yang kau inginkan, baik menjadi seorang guru, seniman, budayawan ataupun sebagai staf-staf kenegaraan. Tetapi, yang paling utama ialah hati dan niat selalu berusaha untuk memajukan Indonesia dan menjaga keutuhan yang ada di dalamnya. Sebab, itulah tujuan dari sebuah perjuangan, merdeka, bebas, dan membangun kebersamaan, hingga kemudian menjadi kesatuan dan persatuan yang siap menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia. Jadilah pahlawan untuk dirimu sendiri dulu, kemudian baru beranjak untuk orang lain. Sebab, semua tindak-tanduk sebuah kebaikan dan keburukan semua berangkat dari diri sendiri.

Facebook Comments