Semburan Kebencian : Kebebasan atau Kemungkaran?

Semburan Kebencian : Kebebasan atau Kemungkaran?

- in Suara Kita
134
6

Sesaat sebelum memasuki ruang pemeriksaan di Polda Jawa Barat, Bahar bin Smith sempat sesumbar, “Jika nanti saya ditahan, itu artinya demokrasi di negeri ini telah mati”. Bahar pada akhirnya memang harus menerima kenyataan pahit. Dirinya ditahan Polda Jabar atas tuduhan penyebaran berita bohong atas ceramahnya yang menyinggung Letjend. Dudung Abdurrahman. Namun, hal itu tidak lantas berarti bahwa demokrasi di negeri ini telah mati.

Demokrasi kita baik-baik saja saat ini. Bahka, akan semakin baik dengan ditahannya Bahar bin Smith. Mengapa? Karena berkurang satu orang yang gemar mengokupasi panggung dakwah keagamaan untuk menebar kebencian. Sekaligus berkurang satu lagi orang yang gagal paham mengenai apa itu ujaran kebencian dan kebebasan. Tersebab, ujaran kebencian pada dasarnya ialah musuh demokrasi itu sendiri.

Newton Lee (2018) menjelaskan bahwa ada garis batas yang jelas antara kebebasan berpendapat (freedom of speech) dengan ujaran kebencian (hate speech). Menurut Lee, kebebasan berpendapat ialah kondisi dimana setiap individu bebas mengemukakan pandangannya di muka umum atau ruang publik secara konstruktif dengan tujuan mencari solusi atas problem bersama. Kata kunci dari kebebasan berpendapat ini ialah konstruktif dalam artian memiliki semangat membangun.

Sedangkan ujaran kebencian (hate speech) ialah lontaran perkataan verbal yang berisi cacian, cemoohan, makian, dan hinaan terutama yang mengarah pada identitas (fisik dan non fisik) individu atau kelompok dengan tujuan merusak tatanan sosial. Alih-alih bersifat konstruktif, ujaran kebencian lebih condong pada nuansa destruktif alias merusak. Jadi jelas bahwa ujaran kebencian tidak bisa disamakan dengan kebebasan. Itu artinya, dalih kebebasan berpendapat tidak bisa dipakai sebagai alibi untuk mengkamuflasekan ujaran kebencian.

Jika ditinjau dari sisi agama (Islam), ujaran kebencian justru merupakan bentuk dari kemungkaran. Munas Alim Ulama Nahdlatul Ulama di Lombok, Nusa Tenggara Barat pada tahun 2021 lalu telah menetapkan fatwa atas fenomena ujaran kebecian. Dalam forum Bahtsul Masail ad-Diniyah al-Maudluiyah disepakati bahwa kebencian merupakan bagian dari akhlak tercela (akhlaqul madzmumah). Maka, ujaran kebencian ialah tindakan haram, meskipun dilakukan atas tujuan baik seperti dakwah atau aktivitas amar ma’ruf nahi munkar lainnya. Dalam fatwa PBNU tersebut, disebutkan bahwa amar ma’ruf nahi munkar tidak dapat dilakuan dengan cara yang mengandung unsur ujaran kebecian.

Ujaran kebencian digolongkan sebagai kemunkaran karena tiga hal. Pertama, ujaran kebencian secara pribadi menyerang martabat individu. Di dalam fiqih, menyerang martabat individu ini tergolong sebagai pelanggaran terhadap prinsip maqasyid syariah, yakni hifdzul ird (menjaga kehormatan). Kedua, dalam konteks sosial, ujaran kebencian dapat mengancam persaudaraan (ukhuwah), baik itu ukhuwah Islamiyah (persaudaraan muslim), ukhuwah wathaniyah (persaudaraan bangsa), maupun ukhuwah insaniyah (persaudaraan manusia). Ketiga, ujaran kebencian telah melatari meningkatnya praktik intoleransi dan kekerasan atas nama agama.

Dari tafiran Newton Lee, maupun dari forum Bahtsul Masa’il NU, semuanya sepakat bahwa ujaran kebencian bukanlah bagian dari kebebasan. Jika kita mengacu pada filsafat dan ilmu sosial barat, maka yang dimaksud kebebasan ialah kondisi ketika manusia memiliki free-will yakni kehendak bebas tanpa ada kekuatan yang menghalanginya. Meski demikian, para filosof Barat sepakat bahwa kebebasan yang bersifat absolut alias mutlak hanyalah utopia. Kebebasan selalu terikat dan dibatasi oleh aturan hukum, norma sosial, dan keterbatasan manusia sebagai makhluk yang tidak sempurna.

Demikian pula dari perspektif Islam, dimana kebebasan manusia mustahil bersifat absolut. Dalam pandangan para filosof muslim, eksistensi manusia di muka bumi selalu tergantung pada kekuatan transendental, yakni Allah Swt. Segala kreatifitas dan daya pikir manusia tidak akan pernah bebas sampai melampuai kekuasaan Allah. Maka, dalam perspektif Islam, kebebasan manusia dalam berpikir, bertindak, dan berucap niscaya dibatasi oleh hukum Allah (syariah).

Ujaran kebencian sebagaimana menjadi isu yang hangat diperbincangkan publik belakangan ini tidak diragukan merupakan bagian dari kemungkaran. Sebagaimana galibnya kemungkaran, ia akan tetap menjadi hal yang hina dan nista meski dikemas dan dibalut dengan apa pun. Kebencian selamanya akan tetap menjadi kebencian meski dilabeli sebagai kebebasan. Dan, kebebasan yang hakiki justru bisa dirasakan oleh manusia ketika ia bisa lepas dari sentimen kebecian terhadap liyan.

Facebook Comments