Setan

Setan

- in Suara Kita
269
1
Setan

Tumbuh-kembangnya sebuah peradaban ternyata tergantung pula oleh satu hal: kambing-hitam. Pada rezim nazi, hal itu adalah “Yahudi.” Pada era orde baru di Indonesia, hal itu adalah “komunis” ataupun “cina.” Bagaimana di masa sekarang, ketika radikalisme keagamaan berupaya menyesaki ruang publik bangsa Indonesia? Tentu, sebagaimana yang kita alami, kuping kita terbiasa dengan judgment semisal “komunis,” “cina,” plus “kafir.”

Saya pikir sudah menjadi tabiat dasar manusia untuk mencari dan menetapkan kambing-hitam atas segala sesuatu yang kita rasakan dapat menjadi alibi bagi suatu ketakbecusan. Manusia selalu mengidealkan sesuatu. Etika yang dianutnya, apapun bentuknya, selalu berkisar pada logika oposisi biner: baik-buruk, benar-salah, suci-najis, dosa-pahala, dst.

Tapi lacur, idealitas itu selalu berjalan beriringan dengan apa yang saya sebut sebagai perendahan. Taruhlah ibadah puasa Ramadhan. Dengan ibadah ini kita selalu mengidealkan yang namanya lapar dan haus. Dan kita memandangnya baik, benar, suci, berpahala. Kita pun, khususnya bagi umat Islam yang berada di luar empat jenis manusia “merdeka”—kanak-kanak, tidur, gila dan menstruasi pada perempuan—, selalu memandang sebaliknya pada kenyang.

Akan tetapi, ternyata apa yang kita idealkan itu tak selamanya dapat kita penuhi. Dengan berpuasa kita berharap kualitas hidup kita menjadi lebih baik lagi. Atau katakanlah, semakin diridhaiNya. Hidup kita selalu saja ajeg, sama seperti saat tak puasa. Ada kalanya kita pun frustasi untuk idealitas yang tak pernah dapat kita gapai—karena tetap, kita adalah manusia biasa. Lalu kita dengan gampangnya mencari kambing-hitam atas rasa frustasi kita akan idealitas yang tak terjelang tersebut:  warung-warung yang buka saat siang hari atau mbak-mbak yang memakai rok mini yang kebetulan lalu-lalang di depan kita. Kita pun akan segera beristighfar dan berta’awudz, atau yang bagi sudah gelap mata: men-sweeping-nya.

Baca juga : Jihad Puasa: Mengendalikan Hawa Nafsu Kekuasaan

Mereka semua adalah kambing-hitam atas idealitas kekhusyu’an dan kesucian yang gagal kita penuhi. Kalau pun tak seradikal itu dalam ekspresinya, ada sebagian dari kita yang memilih khalwah, menyingkir dari dunia ramai sementara waktu. Tapi tetap logikanya di sini, kita masih memandang rendah dunia, menyalahkannya, mengkambinghitamkannya, menyebabkan turunnya kualitas iman kita, menjauhkan kita dari rahmatNya. (Padahal kita tahu, rahmatNya tak pernah bergantung apakah kita budiman atau bajingan).

Pada puncaknya, kambinghitam itu adalah setan yang terkutuk. Warung-warung, mbak-mbak yang pakai rok mini tersebut adalah setan-setan yang tak pantas untuk kita kutuk semata, tapi juga kita coba untuk dicoba enyahkan secara fisik.

Seperti situasi terkini, dalam dunia politik praktis, ada sebagian orang yang mengamuk dan menyebabkan kerugian orang lainnya, atas idealitas mereka yang tak tercapai. Setan-setan itu adalah KPU, aparat penegak hukum, dan pemerintahan yang konstitusional.

Politik di hari ini adalah politik-keagamaan, politik yang kerap memakai simbol dan berbagai idiom keagamaan untuk kepentingan pragmatis semata. Sejak pilkada Jakarta pada tahun 2017, ekspresi politik sektarian itu tumbuh subur. Politik sektarian di Indonesia selalu saja mengutamakan satu komunitas tertentu atas komunitas lainnya. Meskipun seumpanya mereka non-muslim, mesti tetap bergaya laiknya kaum muslimin, lengkap dengan berbagai simbol, atribut dan idiom-idiomnya. Bagaimana dengan kategori kaffah yang notabene identik dengan tuntutan kalang Islam puritan? Tak ada soal, selama agama dipakai sebagai kemasan kepentingan politik tertentu, anything goes. Tak tahu malukah mereka, pada akhirnya? Sepertinya tidak, entah sejak kapan ke-“malu”-an bangsa ini telah pudar dan menghilang.

Dan kembali, pada 21-22 Mei 2019, politik-keagamaan di Indonesia mengemuka, yang sering dengan cara memaksa. Sekumpulan orang ingin melakukan people power—atau yang oleh penggagasnya kemudian direvisi menjadi “kedaulatan rakyat.” Riot pun sempat terjadi, meski tak seperti di era ‘98an.

Pada tahun di mana Soeharto memilih mundur itu, people power—kalau pun istilah ini tepat—dikobarkan oleh para aktivis yang notabene prodem. Tapi kini, gelombang massa itu justru anti-demokrasi. Pada tataran diskursus mereka kerap memakai embel-embel “Islam,” meski pada kenyataannya banyak dari mereka yang tak mencerminkan laku seorang muslim: tampang preman, bau alkohol, makan siang di trotoar saat ber-“jihad” di lapangan ketika Ramadhan, adalah beberapa fenomena yang sempat terekam kamera.

Saya pun teringat ISIS, organisasi teroris internasional yang terkenal ngepop itu. Pada tahun 2017, seorang wartawan Reuters sempat menyaru di sarang ISIS di suriah. Dan ia mengabarkan, mereka terkesan depresif dan karib dengan alkohol, penjarahan, juga seks—di mana perempuan-perempuan suku Yazidi menjadi santapannya sehari-hari.

Itulah hoax agung yang menyertai ghirah keislaman di hari ini. Pada tataran diskursus, gerakan politik-keagamaan itu sangatlah tampak “islami,” bahkan cenderung radikal dalam pemahaman dan frontal dalam eskpresi di lapangan—seolah-olah kiamat sudah dekat dan mereka telah dijamin surga tanpa hisab (teologi maut).

Tercatat, korban mati rata-rata masih belia, di bawah 31 tahun. Fenomena mati muda dengan kemasan agama semacam ini bukanlah fenomena baru. Beberapa teror bom yang bersangkut-paut dengan ISIS di Indonesia mayoritas dilakukan oleh kalangan muda usia yang ditandai dengan berbagai karakteristik: quick to condemn, to judge, and to execute. Mereka rata-rata gelisah, marah, dengan dunia yang bagi mereka bobrok, dunia yang tak berjalan sebagaimana yang mereka angankan. Dan dunia ini tak kunjung mengarah ke perbaikan. Mereka pun bertindak. Musuh digariskan. Kambing-hitam ditetapkan. Pada konteks sengketa pilpres 2019, musuh dan kambing hitam itu adalah KPU, aparat penegak hukum, dan pemerintahan yang terpilih secara konstitusional

Dan selalu saja, pada situasi terkini, untuk konteks idealitas khilafah islamiyah, setan itu adalah Pancasila, UUD 1945, Kebhinekaan, dan NKRI. Dengan berkaca pada puasa Ramadhan, kita lupa satu hal, bahwa setan itu, tak lain dan tak bukan, adalah diri kita sendiri, yang menjauh, tak bersauh.

Facebook Comments