Setelah Haji Jangan Merasa Paling Suci!

Setelah Haji Jangan Merasa Paling Suci!

- in Suara Kita
147
1
Setelah Haji Jangan Merasa Paling Suci!

Haji merupakan ibadah yang tidak mudah, sebab mulai dari antrian keberangkatan haji di Indonesia rata-rata 18 tahun. Misalnya di daerah Sulawesi Selatan saja harus antri 36 tahun, DKI Jakarta 20 tahun antri dan yang paling cepat di daerah Maluku dengan 10 tahun mengantri berangkat haji. Untuk kondisi Sulawesi Selatan hendaknya mulai rentang usia 12 tahun (usia dibolehkan daftar haji) sampai usia 20 tahun menjadi waktu ideal daftar haji. Perlu mengetahui waktu ideal daftar haji adalah terkait kemampuan secara fisik calon jamaah haji.

Haji sebagai rukun Islam yang terakhir. Ibadah haji hanya boleh dilakukan seorang mukmin yang mampu secara finansial dan kondisi kebugaran tubuhnya. Lebih-lebih dalam ibadah haji harus mampu menata lahiriyah dan batiniyah dirinya. Menginggat ibadah haji bukan hanya sekedar perjalanan ke baitullah, tetapi jauh lebih penting bagaimana menata dan menempatkan dirinya setelah haji di masyarakat. Sebab setelah haji, seseorang akan di figurkan dimasyarakat.

Sebagai publik figur semua tindakan dan prilakunya akan menjadi perhatian oleh masyarakat. Jadi, seolah-olah semua gerak-gerik selalu ada yang memperhatikan. Untuk menata diri seorang haji harus bisa menempatkan dirinya mulai sebelum haji, saat haji dan setelah haji. Hal ini penting karena menjadi tolak ukur penilain seseorang yang telah haji. Masyarakat menilainya berjenjang, misal seorang yang belum haji jarang bersedekah, saat mau haji mulai banyak sedekah, saat haji tambah banyak sedekah dan lebih-lebih setelah haji meningkat sedekahnya.

Haji bukan sekedar ibadah habluminallah tetapi juga  habluminannas. Indonesia memiliki dasar habluminallah dan habluminannas yang tersirat dalam Pancasila. Tinggal masyarakat mengamalkan Pancasila maka habluminallah dan habluminannas akan teramalkan juga. Seorang calon haji dan para haji-hajjah harus memberi contoh habluminallah dan habluminannas dengan baik di masyarakat.

Ibadah haji tentunya bagi umat Islam menjadi proses peningkatan kelas dalam beribadah dan bermuamalah. Perilaku habluminannas seorang haji dan calon haji menjadi sorotan. Bisa kita lihat semangat berbaginya, tolong-menolongnya, sikap menghormati antarsesama manusia juga harus meningkat. Semoga habluminallah dan habluminannas selalu terjaga dalam jiwa seorang haji-hajjah.

Baca Juga : Haji, Jihad, dan Perdamaian

Dasar hukum habluminallah dan habluminannas sudah tersampaikan dalam Al-Qur’an Surat Ali Imron ayat 112 yang artinya, “Mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka berpegang kepada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia, dan mereka kembali mendapat kemurkaan dari Allah dan mereka diliputi kerendahan. Yang demikian itu karena mereka kafir kepada ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi tanpa alasan yang benar. Yang demikian itu disebabkan mereka durhaka dan melampaui batas.”

Ayat ini dalam tafsir jalalayn ditafsiri sebagai berikut, “(Ditimpakan atas mereka kehinaan di mana pun mereka berada) sehingga bagi mereka tak ada kemuliaan dan keamanan (kecuali) dengan dua hal: (dengan tali dari Allah dan tali dari manusia) yang beriman, yang merupakan janji dari mereka kepada Ahli Kitab bahwa mereka akan diberi keamanan dengan imbalan pembayaran upeti, maka tak ada jaminan bagi mereka selain dengan itu (dan mereka kembali mendapat kemurkaan dari Allah dan ditimpakan atas mereka kerendahan. Demikian itu bahwa mereka) artinya disebabkan karena mereka (kafir akan ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi tanpa alasan yang benar. Demikian itu) sebagai pengukuhan (disebabkan mereka durhaka) akan perintah Allah (dan mereka melanggar batas) artinya melampaui yang halal hingga jatuh kepada yang haram.” Sudah sangat jelas bahwasanya habluminallah dan habluminannas harus seimbang dalam kehidupan sehari-hari.

Dasar hukum habluminallah dan habluminannas juga dikuatkan hadist Nabi yang diriwayatkan At-Tirmidzi yang artinya, “Dari Abu Dzar Jundub bin Junadah dan Abu Abdirrahman Muadz bin Jabal radhiyallahu ‘anhuma, dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallambeliau bersabda, “Bertakwalah kepada Allah di mana pun engkau berada. Iringilah keburukan dengan kebaikan, niscaya kebaikan tersebut akan menghapuskan (keburukan). Dan pergauilah manusia dengan akhlak yang mulia.” Jadi tambah jelas porsi habluminallah dan habluminannas dalam kehidupan beragama dan bersosial.

Habluminallah merupakan perintah bertaqwa kepada Allah setiap tempat dan setiap waktu. Maka dalam konteks dasar kenegaraan Indonesia termuat dalam sila ke satu yaitu, “Ketuhan yang maha Esa.” Artinya semua warga Indonesia diwajibkan bertuhan dan dalam beragama memiliki tugas taqwa atas perintah maupun larangan tuhan-Nya.

Sedangkan habluminannas dalam kehidupan sehari-hari menjadi alat untuk mewujudkan sila ke-kedua sampai sila ke-lima. “Kemanusian yang adil dan beradab,” butuh habluminannas dalam konteks kemanusian dan budi pekerti. “Persatuan Indonesia,” butuh habluminannas keharmonisan sosial untuk mempererat persatuan. “Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan dan perwakilan,” butuh habluminannas dalam bernegara dengan upaya mengedepankan musyawarah untuk kepentingan negara dan masyarakat. Terakhir, “Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia,” butuh habluminannas untuk mewujudkan masyarakat dan pemimpin yang mampu menjaga hak maupun kewajiban masing-masing.

Bangsa Indonesia pernah punya Presiden yang seimbang habluminallah dan habluminannas yaitu KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Aspek kemanusiaan menjadi perhatian utama sosok Gus Dur dalam setiap pemikiran, pandangan, dan gerak langkahnya. Maka dari itu, di dalam batu nisannya tertulis here rest a humanist, di sini istirahat seorang humanis. Sosok yang dekat siapa saja sekaligus mencintainya. Kalau soal bertuhan Gus Dur tak diragukan lagi.

Gus Dur pernah berpesan singkat, namun mendalam dan penuh makna. Beliau mengatakan tiga substansi soal hubungan antar-manusia, “Mari kita wujudkan peradaban di mana manusia saling mencintai, saling mengerti, dan saling menghidupi”. Pesan tersebut termaktub dalam buku Fatwa dan Canda Gus Dur Langgitan KH. Maman Imanulhaq (2010).

Seorang haji janganlah merasa paling suci, lalu berbuat dan berkuasa di masyarakat semena-mena karena gelar hajinya. Hendaknya seorang haji menseimbangkan habluminallah dan habluminannas demi terwujudnya umat yang humanis dengan derajat ketaqwaan. Sebab seorang haji-hajjah di tengah-tengah masyarakat menjadi publik figur yang dituntut memberi contoh baik beribadah maupun bermuamalah.

Facebook Comments