Shazam, Kebersamaan dan Selebriti Politik

Shazam, Kebersamaan dan Selebriti Politik

- in Suara Kita
553
1
Shazam, Kebersamaan dan Selebriti Politik

DC Comics sebagai salah salah pesaing dari Marvel Universe dalam produksi film pahlawan super, beberapa bulan yang lalu meluncurkan film terbarunya berjudul “Shazam!”. Film ini menceritakan seorang anak yang tiba-tiba mendapatkan sebuah kekuatan super dari penyihir tua yang mewariskan seluruhnya kepadanya. Namun, sisi paling menarik kala saya menyaksikan film tersebut adalah Shazam atau Billy Batson saat mempelajari kemampuan super miliknya direkam dan diunggah di aplikasi berbagi video Youtube oleh temannya sendiri, Freddy.

Aktivitas Freddy membagikan video tersebut membuat Shazam lebih dahulu terkenal sebelum melakukan aksi apapun dalam menyelamatkan manusia dari berbagai masalah, sebagaimana pahlawan super lainnya sebelumnya. Peran layanan jejaring sosial seperti Youtube juga memiliki peran dominan mendongkrak popularitas seseorang termasuk pahlawan super sekalipun. Dalam posisi terkenal tersebut, sudah pasti memiliki fans (pendukung) yang akan memujanya sebagai bagian dari kehidupan mereka.

Dari sisi pendukung yang memuja dalam bingkai sebuah kelompok, amatan saya terhadap persoalan segregasi politik bahkan sampai di sisi agama telah terjadi di Indonesia sekarang difokuskan. Tentu, tidak sedikit dari kita membaca atau bahkan bisa terlibat pada dua kelompok pendukung masing-masing Capres di kontestasi Pilpres kemarin, Cebong dan Kampret. Segregasi ini tidak hanya terasa di media sosial tapi juga terasa di kehidupan sehari-hari masyarakat, sehingga bisa saja membahayakan persatuan dan kebersamaan yang selama ini telah terjaga selama ini.

Saya menilai jika segregasi ini tidak dihadapi dengan benar maka dampak kerusakan yang ditimbulkan sangat besar sekali dan perlu waktu yang lama untuk menyembuhkannya. Sebab, saat pilihan politik tidak lagi dihadapi sebagai bagian dari proses demokrasi yang sehat, di mana perbedaan pilihan adalah hal yang biasa dan wajar sehingga tidak mengancam fondasi kemasyarakatan yang telah ada.

Baca juga : Bukan Sekedar Kemenangan, Tetapi Kenegarawanan

Politik telah berubah menjadi kehidupan gelap dari selebritas, merujuk pada kondisi pilihan seseorang hanya dipengaruhi rasa suka yang sering tidak bisa dilogiskan. Selain itu, tidak hanya pada rasa suka tapi juga dilanjutkan dengan mendaulat diri sebagai pengikut, atau dalam istilah yang populer sekarang dengan “Follower”. Iya, politisi sekarang, terutama di ranah media sosial, lebih banyak menjadi selebriti ketimbang menjalankan peran mereka sebagai wakil rakyat atau politisi yang memiliki visi dan misi yang jelas untuk memajukan negara.

Peran seorang selebriti sekarang dalam bingkai budaya kontemporer pasti beririsan dengan berbagai wilayah budaya lainnya yang sudah pasti berkembangan dan berlipat ganda dengan cara yang belum pernah terjadi sebelumnya, tulis Henrik dan Sara Linden dalam buku Fans and Fans Culture: Tourism, Consumerism, and Social Media. Mereka kemudian mengutip David Marshal yang menjelaskan, selebriti memiliki fungsi mengkonstruksi dan menghubungkan antara kapitalisme, demokrasi dan individualisme.

Di awal kehadiran selebriti memang mendekonstruksi struktur sosial feodalisme masa lalu, saat segregasi antara borjuis dengan proletar masih mendominasi. Namun, selebritis massa kemudian berubah menjadi adalah proses demokratisasi ketenaran yang sangat bergantung sekali dengan fan yang belum pernah ditemui sebelumnya dalam kehidupan manusia. Di sinilah kemunculan majalah khusus fan bertebaran yang sekarang digantikan oleh berita gosip, yang peran utamanya adalah menjembatani ketidaktahuan fan pada sosok yang diidolakan. Akhirnya, ramai para selebritis membuat “realitas” akan dirinya yang disebut sebagai “diri” mereka.

Kondisi di atas dengan sangat mudah kita lihat dalam dunia politik kita sekarang ini, di mana para politisi, tentu dengan bantuan media dan media sosial, memframing diri yang ditampilkan di depan publik. Walau persoalan ini sebenarnya lebih kompleks karena lebih banyak hal berkelindan dalam bingkai seorang politisi. Tapi, kita melihat bahwa politisi sekarang yang banyak membincang persoalan di luar dari persoalan politik kebangsaan yang terjebak pada permasalahan remeh seperti model baju yang dipakai, model muka dari satu daerah, gestur tubuh hingga di mana melaksanakan salat.

Kehidupan pribadi seorang politisi akhirnya makin mendominasi perbincangan di masyarakat ketimbang program dan politik kebangsaan yang ramah akan perbedaan. Sebab, semuanya diukur dari suka atau tidaknya terhadap sosok politik yang “ditampilkan” di ruang publik. Realitas artifisial akhirnya mendominasi di dunia politik kita, sehingga kita disibukkan dengan persoalan yang tidak menyentuh inti permasalahan yang dihadapi oleh rakyat.

Kalau di akhir film, Shazam mengucapkan “apa gunanya kekuatan jika tidak bisa dibagi dengan yang lain” maka ada baiknya kita pelintir sedikit kata tersebut dengan “apa gunanya memiliki kekuasaan jika tidak bisa berguna bagi orang lain”. Para politisi kita bisa belajar dari kata tersebut demi keutuhan bangsa dan negara kita, kita harus mengurangi kebrutalan dari para pendukung dan menularkan politik yang bersih demi mengubah mereka menjadi pemilih cerdas dan tidak lagi memperlakukan politik sebagai ajang selebriti yang penuh dengan hater dan lover. Karena, proses demokrasi dan politik adalah ajang bersama bagi seluruh rakyat di negeri ini untuk bisa berkontribusi bagi negara. Jadi, hindarilah segala perpecahan yang bisa mengancam keutuhan termasuk perbedaan pilihan politik.

Ayo mulai dari sekarang, kita bersihkan linimasa kita dan percakapan sehari-hari dari merundung, menghina apalagi membincang berita bohong yang selama ini sering kita lakukan sepanjang ajang proses demokrasi berlansung hingga hari ini. Jadikan media sosial kita benar mewujudkan apa yang selama ini dibayangkan, mendekatkan yang jauh dan merapatkan yang dekat.

Facebook Comments