Sikap Moderat Ala Sayyidina Ali Bin Abi Thalib sebagai Strategi Toleransi

Sikap Moderat Ala Sayyidina Ali Bin Abi Thalib sebagai Strategi Toleransi

- in Suara Kita
147
0
Sikap Moderat Ala Sayyidina Ali Bin Abi Thalib sebagai Strategi Toleransi

Saya begitu terkesima dengan sikap moderat Sayyidina Ali Bin Abi Thalib. Ketika ditanya tentang siapa kaum khawarij itu. “Apakah mereka itu kafir?” Beliau menjawab “Justru mereka jauh dari kekafiran”. “Apakah mereka (Khawarij) munafik?”, Beliau menjawab “Sungguh orang munafik tidak mengingat Allah SWT kecuali sedikit. “Lalu, siapa mereka (Khawarij) itu?”. Beliau menjawab “Mereka adalah saudara-saudara kita yang memusuhi kita dan kita tidak boleh memerangi mereka sebelum mereka memerangi kita”.

Dari sini kita bisa memahami betul. Bahwa jawaban Sayyidina Ali Bin Abi Thalib itu selalu menyatakan mereka yang berbeda sebagai (saudara). Bukan sebagai musuh apalagi mengkafir-kafirkan atau menyesat-nyesatkan. Bahkan, sekalipun dalam hal perbedaan agama, Sayyidina Ali Bin Abi Thalib selalu menyatakan bahwa mereka adalah (saudara). Sebagaimana ungkapan yang paling masyhur, bahasanya “Jika dia bukan saudaramu dalam Iman, maka dia adalah saudaramu dalam kemanusiaan”.

Dari sini kita bisa diperlihatkan sikap moderat Sayyidina Ali Bin Abi Thalib. Beliau menampakkan internalisasi keagamaan yang memiliki substansi ajaran yang “egalitarian” “tenggang rasa” “inklusif” dan condong merahmati. Beliau tidak mudah mengkafir-kafirkan. Beliau tidak mudah menganggap satu golongan itu salah, sesat atau munafik. Bahkan dengan mereka yang berbeda tidak menganggap sebagai musuh apalagi lawan agama. Tetapi, beliau selalu menyebut mereka yang berbeda adalah saudara.

Karena ini sebagai satu bukti bahwa Islam sejatinya memiliki konsep ajaran yang secara subtansial mengandung ajaran yang moderat dan condong tolerant. Bagaimana tidak? Jika Nabi Muhammad SAW saja dalam kesehariannya sering menjenguk non-muslim sakit, sering menerima tamu-tamu non-muslim dan bahkan menjamin keselamatan mereka.

Hal ini pun juga ditampakkan kembali oleh Sayyidina Ali Bin Abi Thalib. Bagaimana, beliau selalu menerima perbedaan dengan tidak menyalahkan. Bahkan selalu menerima mereka yang berbeda agama sebagai saudara. Karena, meskipun mereka beda iman, mereka adalah saudara dalam kemanusiaan. Artinya, beliau selalu membangun koneksi satu-sama lain untuk bisa selalu terhubung dalam perantara apa-pun. Sebagaimana, meskipun tidak saudara dalam iman, berarti saudara dalam kemanusiaan. Atau-pun saudara dalam iman, tetapi berbeda pendapat, beliau tetap menganggap mereka adalah saudara yang memusuhi. Namun, beliau tidak mau memerangi sebelum mereka memerangi.

Artinya, di sini kita bisa memahami pula. Bahwa, Sayyidina Ali Bin Abi Thalib tampaknya memiliki satu sikap yang mengacu kepada jalan (perdamaian). Beliau sangat anti peperangan. Karena ini sebagai bukti nyata bahwa Islam di dalam Al-Qur’an memang memiliki tiga syarat secara darurat diperbolehkan berperang. Pertama, ketika diusir dari tempat-tinggalnya. Ketika dilarang beribadah dan ketika diperangi.

Dari sinilah, mengapa kita perlu mempraktikkan apa yang telah Sayyidina Ali Bin Abi Thalib. Sebagai basis toleransi di negeri ini. Dengan tidak mudah saling menyalahkan, mengkafir-kafirkan atau-pun merasa paling benar. Karena beliau selalu menganggap mereka adalah saudara meskipun berbeda secara pendapat atau-pun berbeda secara keyakinan.

Sebagaimana cara kerjanya. Kita tidak boleh merasa paling benar, mudah mengkafir-kafirkan atau-pun selalu menganggap orang yang berbeda agama sebagai musuh. Sebab, sekelas beliau Sayyidina Ali Bin Abi Thalib saja tidak pernah menganggap mereka yang berbeda pendapat atau berbeda keyakinan sebagai golongan sesat atau kafir. Karena, beliau selalu menganggap mereka-mereka itu sebagai saudara. Sebagaimana kita hari ini, meskipun kita berbeda pendapat atau berbeda keyakinan, sejatinya kita adalah saudara dalam kemanusiaan dan dalam nasionalisme NKRI.

Facebook Comments