Silaturahmi: Gerakan Kultural Menangkal Kebencian dan Intoleran

Silaturahmi: Gerakan Kultural Menangkal Kebencian dan Intoleran

- in Suara Kita
271
0
Silaturahmi: Gerakan Kultural Menangkal Kebencian dan Intoleran

Suasana Idul Fitri masih terasa meski libur hari raya usai. Denyut silaturahmi secara virtual pun masih berdetak. Tradisi lebaran yang sarat akan nilai-nilai silaturahmi (baca: menyambung tali kasih sayang) masih selalu lestari. Hilir mudik arus mudik dalam bingkaian kearifan lokal menjadi alarm sosial bahwa umat Islam telah usai menjalankan ibadah puasa. Selama satu bulan lamanya, hawa nafsu dan perilaku dijaga. Hingga memasuki bulan Syawal, ada semacam ekspektasi wajar bahwa perilaku individu akan menjadi semakin baik, demikian juga dengan perilaku sosial.

Meski ujaran kebencian berseliweran di dunia maya (juga nyata), namun  ucapan selamat hari raya dan saling memaafkan masih menjadi core value di Bulan Syawal. Saling memaafkan sesungguhnya merupakan terapi untuk menggapai perdamaian dan mencegah  kebencian dan perilaku intoleran. Silaturahmi merupakan gerakan kultural untuk menangkal kebencian dan intoleran. Bahkan sangat niscaya, silaturahmi menjadi starting point untuk menolak paham radikal.

Silaturahmi, menyambung persaudaraan, dan ikhlas memaafkan merupakan terapi menuju pencapaian kesehatan mental. Sedangkan, kebencian dan intoleran yang dibalut dalam paham radikal merupakan virus bagi kesehatan mental. Dapat dipastikan bahwa kaum intoleran dan radikal memiliki kualitas kesehatan mental yang buruk. Radikalis berawal dari kondisi mental yang tidak sehat yang didominasi perasaan benci, gelisah, ingin menyerang, dan lain sebagainya. Kaum radikal kemudian memberikan memanipulasi teks-teks seolah kekerasan dan radikalisme dibenarkan agama. Dengan begitu, mereka merekrut radikalis baru yang dipuji sebagai ‘hero’ padahal radikalis baru merupakan kepanjangan tangan dari dalang perilaku radikal yang tak ingin nampak.

Hakikatnya, radikalisme bertentangan dengan ajaran Islam rahmatan lil ‘alamin. Kekerasan yang mengatasnamakan agama bukanlah bagian dari kegiatan beragama.  Pemahaman ini semestinya diwariskan tanpa putus, sehingga kaum radikal akan kesulitan dalam merekrut anggota baru. Spirit Idul Fitri harus selalu dipelihara agar kedamaian dan perilaku shalih sosial terwujud dalam laku sehari-hari. Ajaran agama menuntun pada ajaran kebaikan dan kasih sayang nir kekerasan. Allah Swt berfirman, “Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi bantuan kepada kerabat, dan Dia melarang perbuatan keji, kemungkaran, dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepada kamu agar kamu dapat mengambil pelajaran” (QS An Nahl: 90). 

Silaturahmi, menyambung kembali benang-benang persaudaraan yang mungkin terputus oleh kekhilafan insaniyah. Idul Fitri sebagai alarm sosial untuk menyambung kembali tali persaudaraan merupakan momentum untuk mengikis kebencian dengan saling memaafkan. Momen ini seharusnya menjadi babak baru untuk meningkatkan kesadaran akan indahnya silaturahmi. Silaturahmi harus selalu di up grade tak hanya melalui pertemuan kontak fisik, melainkan adanya interaksi batin yang saling memaafkan, menghormati, dan mengasihi. Kabar baiknya, silaturahmi yang hakiki seperti ini akan dapat melanggengkan kedamaian dan ketentraman hati. Dalam hati yang damai, tenang, dan tentram maka perasaan benci dan sikap intoleran akan mudah dihalau.

Silaturahmi sebagai gerakan kultural harus diimbangi dengan aspek-aspek spiritual. Menyadari bahwa memaafkan kesalahan dan menjaga perdamaian adalah bagian dari ibadah harus betul-betul terkristalisasi secara internal. Realisasi bahwa esensi silaturahmi adalah menyambung hati untuk mendapatkan keridhaan Allah Swt. harus selalu ‘hidup’ dalam interaksi harmoni. Penghapusan ujaran kebencian sejatinya dimulai dari niat untuk menjaga silaturahmi ‘sejuk’, sehingga iklim perdamaian akan lebih dominan. Tradisi kearifan Nusantara dalam bingkai lebaran semoga tak hanya pertemuan fisik yang hampa makna.

Ibarat devide et impera, radikalisme akan lemah di tengah kebersamaan persaudaraan dan ikatan silaturahmi yang suci dan kuat. Sikap saling mengasihi, memahami, dan toleran merupakan benteng kuat atas serangan radikalisme dari berbagai arah. Kebencian akan luruh dengan kebaikan dan ikatan persaudaraan. Esensi silaturahmi menyadarkan akan tekad untuk membalas ujaran kebencian dengan ujaran santun dan kasih sayang, serta dakwah bil hikmah. Dengan niat menyambung tali persaudaraan dan konsisten menebar dakwah sejuk, kita berharap bahwa akan tercipta kekebalan dari intoleransi dan radikalisme secara kolektif. Semoga!

Facebook Comments