Silaturrahmi Kebangsaan; Mengubur Kebencian Menabur Kasih Sayang

Silaturrahmi Kebangsaan; Mengubur Kebencian Menabur Kasih Sayang

- in Suara Kita
153
0
Silaturrahmi Kebangsaan; Mengubur Kebencian Menabur Kasih Sayang

Telah kita ketahui bersama bahwa media sosial (medsos) telah menjelma menjadi kekuatan dahsyat nan luar biasa dalam pembentukan opini publik di era digital dewasa ini. Dibandingkan dengan media konvensional ataupun tercetak, medsos mempunyai potensi lebih cepat dalam produksi dan diseminasi informasinya. Bahkan, hanya sekali klik, secepat kilat informasi di medsos mampu melesat tanpa sekat.

Medsos ibarat pedang bermata dua. Di satu sisi, dapat berdampak buruk dimanfaatkan oleh oknum tak bertanggung jawab sebagai sarana menularkan virus ujaran kebencian, hoax, dan penebar permusuhan. Namun, sisi positifnya bisa bermanfaat untuk efektivitas dan efisiensi menyebarkan pesan atau narasi kebaikan. Termasuk di momentum lebaran kali ini, bisa dijadikan sebagai sarana menjalin silaturrahmi meski levat virtual. Dengan medsos kita bisa secara efisien menabur kasih sayang dan saling maaf memaafkan antar sesama.

Dengan keunggulan yang demikian, momentum iIdul Fitri ini tentu medsos dapat berperan membangun Silaturrahi Kebangsaan 4.0  seperti menularkan virus ujaran kasih sayang dan toleransi. Apalagi, di momentum lebaran ini, kita umat Islam diajarkan untuk selalu meningkatkan kepedulian dan kasih sayang terhadap sesama makhluk Allah SWT.

Apalagi, realita menunjukkan, ujaran kebencian di medsos belumlah redup dan masih banyak oknum tak bertanggung jawab melakukan tindakan dosa ini. Manakala ujaran kebencian sudah sedemikian masif, perang melawannya bukan lagi hanya soal akal sehat atau kecanggihan teknologi, akan tetapi cara-cara soft-approach dengan menanamkan kesadaran ujaran kasih sayang dan silaturrahi kebangsaan di medsos. Apalagi, momentum Idul Fitri inilah sangat tepat untuk mengetuk hati para netizen agar sadar bahwa kita hidup di dunia diajarkan untuk saling menyayangi bukan membenci serta saling maaf memaafkan atas segala kesalahan yang telah lalu.

Oleh karenanya, sebagai generasi digital natives, di momentum lebaran ini sudah saatnya menjadikan medsos sebagai sarana menularkan virus ujaran kasih sayang dan toleransi. Caranya ialah menggunakan medsos secara bijak (etis) dengan memproduksi, mengakses, dan menyebarkan informasi yang sehat. Konten medsos terkait ujaran kebencian, adu domba, dan tindakan intoleran harus dihindari. Kita harus sebarkan konten-konten positif ujaran kasih sayang dan toleransi. Kita jangan mudah terprovokasi emosional untuk menyebarkan ujaran kebencian atau pun tindakan intoleran.

Lebih lanjut, medsos sebagai corong publik harus bisa hadir sebagai mitra, bersimbiosis mutualisme dengan pemerintah, rakyat, perusahaan  IT, programer, dan praktisi IT lainnya. Semua entitas itu dapat bekerja sama untuk memberantas ujaran kebencian di jagat maya ataupun di medsos. Mengingat, Jurgen Habermas dalam Stucturwandel der Offentlichkeit mengungkapkan bahwa ruang publik bisa menjembatani antara negara dengan masyarakat sipil.

Seiring dengan berjalannya waktu, medsos yang merupakan ruang publik paling populer perlu adanya penanaman kasih sayang dalam keluarga, sekolah, dan masyarakat. Dalam keluarga orang tua harus mampu menjadi kontrol anak-anaknya dalam bermedsos. Anak dididik sedini mungkin untuk mengakses informasi positif bernuansa positif terkait ujaran kasih saying. Orang tua juga mengajarkan tradisi syawalan sedari dini di dalam keluarga.

Penanaman kasih sayang dan saling maaf memaafkan juga ditanamkan di sekolah melalui kegiatan Syawalan. Dan juga yang tak kalah penting bisa dilakukan dengan menggencarkan pendidikan kebangsaan dan budaya saling tolong menolong dalam kebaikan di sekolah. Revolusi dalam pendidikan literasi kasih sayang juga dapat dilakukan dengan langkah konkrit seperti membaca kritis dan menulis etis. Fisher (1993) berujar, literasi merupakan kegiatan membaca-berpikir-menulis. Artinya kita dalam membaca informasi di medsos bukan sekedar membaca, akan tetapi menganalisis, mengkritisi, dan evaluasi mana informasi positif mana informasi provokatif, sehingga informasi yang kita dapatkan benar-benar bernuansa kasih sayang. Pun demikian kaitannya dalam pendidikan kebangsaan, contohnya adalah informasi yang kita tabur adalah informasi yang toleran.

Kalau membaca dan menulis kritis telah dilakukan maka informasi yang kita bagikan pun adalah informasi kasih sayang dan toleran Ruang gerak ujaran kebenciaan justru akan mudah kita putus dan tutup dengan adanya budaya literasi kritis dan literasi kebangsaan. Semua itu tentunya membutuhkan suatu gerakan pendidikan literasi kasih sayang dan kebangsaan, termasuk di medsos.

Sementara, pendidikan literasi kasih sayang dan kebangsaan di masyarakat jagat maya bisa dilakukan dengan kampanye (ajakan) kasih sayang dan toleransi antar sesama. Hal tersebut dapat dilakukan dengan memviralkan konten-konten positif yang sejuk melalui poster atau. Harapannya dengan adanya berbagai tindakan konkrit silaturrahmi kebangsaan tersebut terlebih di momentum lebaran kali ini, masyarakat akan sadar bahwa kita dianjurkan untuk kasih sayang dan saling maaf memaafkan terhadap sesama baik di dunia nyata maupun di jagat maya, sehingga persatuan dan keutuhan bangsa dapat tetap terjaga, semoga.

Facebook Comments