Smart Netizen: Menebar Cinta, Melawan Kekerasan Virtual

Smart Netizen: Menebar Cinta, Melawan Kekerasan Virtual

- in Suara Kita
194
2
Smart Netizen: Menebar Cinta, Melawan Kekerasan Virtual

Disadari atau tidak, media sosial kini penuh sesak dengan konten-konten berisi kekerasan virtual. Satu sama lain bisa saling hujat-menghujat lewat komentar atau status yang di-posting di media sosial. Sikap saling serang satu sama lain tersebut hingga tanpa disadari justru mereka memicu pertengkaran dan perpecahan itu sendiri.

Adalah kasus kekerasan yang menimpa AD, salah satu siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Pontianak yang sempat viral dalam pemberitaan media massa pada bulan April 2019 ini, sekaligus menjadi potret miris dari perilaku pengguna media sosial di Indonesia hari ini. Kasus kekerasan yang menimpa AD berawal dari aksi saling ejek atau bully antara AD dengan siswi salah satu Sekolah Menengah Atas (SMA) di media sosial. Mereka yang terlibat perselisihan ini diawali karena saling bully di media sosial hingga akhirnya mereka bertemu dan terjadi perkelahian diantara mereka pada hari Jum’at 29 Maret 2019.

Kasus di atas hanyalah salah satu gambaran kasus kekerasan virtual yang terjadi di media sosial yang berdampak pada kekerasan fisik antarpelakunya. Sebenarnya, masih banyak kasus lain yang serupa, yang diakibatkan ketidakdewasaan para pengguna sosial dalam menggunakan akun medsosnya. Ada yang berujung bui sebab jeratan UU ITE. Adapula yang berujung saling adu mulut, bertengkar fisik, bahkan saling bunuh-membunuh satu sama lain diakibatkan konten kekerasan virtual yang disebar di media sosial.

Tentu saja, segala macam perilaku tercela atau yang menunjukkan ekspresi kebencian berpotensi merusak hubungan persaudaraan. Dalam konteks ini, menjadi smart netizen sangat diperlukan untuk mengatasi kekerasan virtual yang marak berkembang. Mengingat, seorang smart netizen pasti akan mengedepankan prinsip saring sebelum sharing dan juga thinking before posting (berpikir sebelum memposting status atau komentar). Hal ini karena mereka akan berpikir panjang mengenai dampak negatif yang mungkin akan terjadi apabila memberikan komentar atau membuat status yang memicu kemarahan pihak lain.

Baca juga : Menjadi Nitizen Cerdas, Hindari Hiper-Informasi Adu Domba

Karenanya, corak utama seorang smart netizen adalah menebarkan cinta di media sosial. Hal ini karena cinta ialah sumber kehidupan. Cinta bisa mempererat tali silaturrahmi, menjauhkan dari perpecahan. Sedangkan kemarahan dan kebencian yang beredar di media sosial ialah sumber segala kerusakan.

Mahatma Gandhi pernah berujar, “Di mana ada cinta, di situ ada kehidupan”.  Cinta dapat menentukan corak kehidupan manusia. Cinta menjadi kekuatan moral (moral force) yang menggerakkan terjadinya pertemuan antarsegmen bangsa yang berbeda etnis, budaya, agama, politik, ekonomi, status sosial, dan aspek-aspek lainnya yang semula menjadi sekatnya.

Cinta mampu mencairkan bekunya hubungan antar komponen bangsa yang semula sibuk menganyam friksi dan menkultuskan faksi-faksinya (golongan-golongannya). Seseorang atau sekelompok orang yang mengasah pikiran dan gerakannya (aktivitasnya) atas dasar cinta, maka dunia tak akan rentan bersimbah darah. Mereka akan menjadi penyemai kedamaian dan kebahagiaan (Marwiyah, 2013).

Hanya saja, ketika melihat realita di media sosial, banyak perilaku warganet yang tidak menunjukkan semangat saling berbagi cinta kasih. Mereka begitu mudah menyebarkan konten provokasi, hoaks, dan ujaran kebencian. Perilaku yang mencerminkan egoisme tersebut tak jarang memicu bullying dan perselisihan yang tidak hanya terjadi di media sosial, tapi juga berlanjut di kehidupan nyata.

Perpecahan begitu rawan terjadi hanya akibat ulah jempol yang asal menyebarkan informasi tanpa memahami asas manfaat dan madlarat sebuah informasi. Maka itu, semua harus paham bahwa jempol kini memegang peranan penting dalam merawat peradaban manusia. Dengan jempol, kita bisa menebar cinta dan kasih sayang. Dengan jempol pula, kita bisa menghancurkan peradaban oleh karena konflik yang tersulut sebab egoisme yang tersirat dalam postingan seseorang di media sosial.

Apabila kebencian dan kemarahan tersebut dibiarkan tersebar di media sosial, tentu keharmonisan antarwarga negara bisa saja terancam. Kebinekaan sebagai sekaligus fitrah NKRI yang dibangga-banggakan, berada di ujung tanduk. Bisa saja terjadi konflik antar etnis, suku, bangsa, agama, dan penganut kepercayaan akibat provokasi, hoaks, dan ujaran kebencian kebencian di media sosial.

Melalui spirit cinta inilah, saatnya melawan narasi kekerasan virtual yang marak tersebar di media sosial dengan narasi cinta dan kasih sayang. Hal ini karena semua memahami betapa pentingnya arti cinta dan betapa merugikannya sebuah permusuhan. Toleransi antarwarga negara dapat tumbuh subur. Tidak ada lagi sentimen kebencian dan seteru antarwarga negara karena provokasi kebencian yang muncul dari kekerasan virtual. Wallahu a’lam.

Facebook Comments