Smart Netizen: Merajut Jejaring Perdamaian di Dunia Maya

Smart Netizen: Merajut Jejaring Perdamaian di Dunia Maya

- in Suara Kita
248
3
Smart Netizen: Merajut Jejaring Perdamaian di Dunia Maya

Dunia maya adalah dunia jejaring tanpa batas. Setiap individu mempunyai ruang kebebasan untuk berekspresi sesuai keinginannya. Galibnya, setiap netizen mengikuti jejaring yang sesuai dengan seleranya. Tokoh-tokoh idola yang dianggap otoritatif pun bermunculan sebagai panutan, baik karena kepakarannya maupun sebab sengaja diciptakan untuk tujuan ideologi dan preferensi pilihan politik. Jejaring ini kemudian membesar dan menimbulkan blok-blok. Bukan suatu yang mengherankan, jika antar blok saling mengklaim, menghujat, memprovokasi, bahkan sampai kepada tingkat saling mengafir-sesatkan.

Radikalisme tak terkecuali. Ia mempunyai jejaring yang kuat. Bahkan menurut penelitian terakhir, justru media sosial lebih ampuh dalam merekrut calon terorisme ketimbang cara-cara manual. Jika cara yang terakhir ini membutuhkan waktu berkisar 5-10 tahun, maka dengan bermodal media sosial –video sadis, provokasi, hasustan kebencian –maka hanya dengan 1 tahun, bahkan kurang dari itu, seseorang sudah bisa direkrut untuk jadi teroris.

Jejejaring medsos ibarat dua sisi berkontradiski: di satu sisi memberikan kemudahan, baik dalam konteks pertemanan, bisnis online, pengawasan, dst. Akan tetapi,  di lain sisi, ia justru sangat membahaya, jika digunakan untuk hal-hal yang bisa merusak kedamaian dan kerukunanan.

Kritisisme dan Kemanusian

Tidak ada cari lain agar bisa keluar dari sisi negatif dari media sosial itu kecuali memambangun jejaring perdamaian. Jejaring model ini perlu dirajut oleh segenap anak bangsa. Memang betul, media sosial adalah media tanpa  hirarkisitas. Semua netizen setara dan sama-sama punya akses  dan kebebasan yang sama. Kedudukan ini berkontribusi dalam mempengaruhi setiap ucapan, tindakan dan prilaku setiap pengguna.

Baca juga : Smart Netizen: Menebar Cinta, Melawan Kekerasan Virtual

Merajut jejaring perdamaian merupakan kerja nyata yang hanya bisa dilakukan oleh para netizen cerdas (smart netizen). Smart netizen yang dimaksud di sini adalah orang yang menjadikan kritisime dan kemanusian sebagai falsafah dalam bersosial media. Kedua kunci ini menjadi landasan dalam bahwah sadar setiap netizen yang sadar akan pentingnya menjaga kedamaian, kerukunan, dan harmoni.

Kritisisme adalah sikap selalu melihat celah dan mempertanyakan setiap hal dengan rasio sebagai alat. Kritisisme selalu bersikap skeptis terhadap setiap materi, unggahan, dan konten-konten yang berbau hoax dan ujaran kebencian. Maraknya kedua hal yang berbahaya ini tak lain adalah absennya sikap kritis di tengah-tangah para nerizen di dunia maya.

Jika kritisisme bersifat keluar, artinya selalu berusaha mencari kekurangan dan ketidakkonsistenan dari setiap sesuatu, maka kemanusian bersifat ke dalam. Ia selau mengnggap bahwa mamnusia lain sama dengan dirinya: suka kedamaian, harmoni, dan cinta-kasih, begitu juga sebaliknya benci akan ujaran kebencian, hasuatan, fitnah, dan hoax yang bisa membahayakan dirinya.

Kemanusiaan mengajarkan, bahwa setaip netizen adalah makhluk Tuhan yang harus dihormati hak-haknya, dilindungi martabatnya, dan dijaga perasaananya. Kemanusian yang mengalir di setiap hati para pengguna medsos  dengan sendirinya tidak akan rela untuk melukai kawan atau individu di luar dirinya yang sama-sama berjejaring di dunia maya.

Jejaring perdamaian dengan basis kritisisme dan kemanusian merupakan modal utama untuk meng-counter jejaring yang selama ini meresahkan masyarakat. Jika para netizen cerdas sama-sama bergotong royang merajut jejaring harmoni, perdamian, kerukunan di dunia maya, maka jejaring hoax, ujaran kebencian, dan radikalisme dengan sendiri akan terbenam.

Para pengamat menyatakan, sebenarnya orang yang berpayung dalam jejaring dis-harmani itu hanya sedikit, tapi sangat berisik. Artinya mereka hanya terdiri dari beberapa gelitir orang, tetapi mereka dengan lihai dan semangat untuk memaksimalkan fungsi medsos sesuai dengan tujuan ideologi meraka.

Hal yang sebaliknya terjadi pada orang-orang yang cinta akan perdamaian. Mereka banyak, tetapi diam hanya menjadi silent reader. Akibatnya media sosial seolah-olah dikuasai oleh kaum radikalis dan pencinta dis-harmoni. Di sini, sudah saatnya bagi setiap netizen untuk kembali bersuara dan membungkam mereka, dan berusaha sekuat tenaga agar jejaring perdamaian itu kembali kokoh.

Facebook Comments