Solusi Kenaikan BBM Katanya Khilafah: Solusi atau Ilusi?

Solusi Kenaikan BBM Katanya Khilafah: Solusi atau Ilusi?

- in Faktual
281
0
Solusi Kenaikan BBM Katanya Khilafah: Solusi atau Ilusi?

Ratusan massa dari berbagai elemen masyarakat menggelar demonstrasi yang dibungkus takblik akbar menolak kenaikan harga BBM di area Taman Kota Kendari, Jumat (9/9/2022). Dengan membawa bendera seperti atribut HTI yang sering mereka sebut bendera Rasulullah, mereka meneriakkan penerapan sistem khilafah sebagai solusi. “takbir, khilafah. Khilafah, khilafah” teriak massa dengan antusias.

Dalam orasinya, seorang orator mengatakan kebijakan kenaikan BBM tidak berpihak pada rakyat tetapi pada para kapitalis-oligarki. Sehingga menurutnya “persoalan ini hanya bisa selesai dengan menegakkan khilafah”. Saya membayangkan ketika mendengar pernyataan tegas sang orator massa akan menyambut : takbir!.

Sejatinya, sebelum organisasi HTI dibubarkan setiap kebijakan negara berkaitan dengan kenaikan harga BBM mereka lebih getol lengkap dengan atribut yang mencolok. Mungkin pasca dibubarkannya ormas ini, gerakan dengan subtansi teriakan yang sama masih ada walaupun dalam bentuk yang tidak menonjolkan atribut organisasi. Namun, slogan khilafah sebagai solusi masih setia menemani mimpi mereka.

Khilafah sebagai obat segala penyakit ini lebih tampak slogan dagelan yang dibuat-buat. Semakin terlihat bahwa konsep ini hanyalah mainan belaka. Tidak ada satupun masalah di dunia ini yang tidak bisa diselesaikan dengan khilafah. Masih ingat slogan solusi Kasus Freeport adalah khilafah, solusi covid-19 adalah khilafah, solusi Kenaikan BBM adalah khilafah, solusi penegakan korupsi adalah khilafah, solusi minyak goreng adalah khilafah dan masalah lainnya.

Argument yang selalu dibangun oleh para pengasong khilafah baik di media sosial maupun aksi jalanan adalah apapun solusinya adalah khilafah. Sedikit lebih meyakinkan mereka menyitir hal yang ideal dalam ajaran seperti kewajiban, hak dan aturan dalam Islam. Apapun aturan baik dalam agama maupun perundang-undangan adalah yang ideal. Jika mengatakan dalam khilafah bumi alam adalah untuk kepentingan umum, di undang-undang yang ada juga akan tersurat seperti itu.

Tidak sekedar argument ideal sebuah ajaran, para pengasong ini lalu melangkah lebih jauh tentang bukti. Tentu saja, bukti itu harus ditarik ke belakang saat dinasti dan kerajaan dalam sejarah khilafah berdiri. Misalnya, BBM gratis pada masa Dinasti Umayyah dan Abbasiyah. Masyarakat sejahtera pada masa dinasti tersebut hingga Turki Ustmani. Dan keadilan terjamin pada saat itu.

Yang tergambarkan adalah sebuah kisah manis. Yang tragis dan kelam dalam masa-masa khilafah sengaja ditutupi. Pembantaian, perang, konflik dan darah mengalir sesama muslim juga tidak tergambar. Praktek korupsi, nepotisme dan dictatoriat dinasti dalam sejarah sultaniyah tidak tampak dan tidak diperlihatkan.

Saya hanya membayangkan jika pengasong khilafah yang masih bebas berani dan berteriak di jalanan dan media sosial bertentangan dengan kebijakan sultan masa lalu sudah beda cerita. Mungkin mereka sudah dipancung dan dipasung. Tidak ada kekebasan yang demokratis di masa dinasti. Mereka justru mencela demokrasi, namun menyantap kenyamanan demokrasi dengan mengusung khilafah.

Namun, atas semua hal yang telah diteriakkan secara konsisten oleh para pengasong khilafah dalam momentum apapun dari sebuah kebijakan negara adalah sebuah mimpi untuk tidak mengatakan bualan. Mimpi memang harus diceritakan terus menerus agar menjadi motivasi. Tetapi mimpi pada hakikatnya adalah mimpi yang tidak pernah nyata.

Orang yang selalu bermimpi akan lebih senang dengan impiannya. Mereka akan kecewa menghadapi kenyataan dan tidak berani menerima kenyataan yang sebenarnya. Mereka masih menganggungkan mimpi yang indah dan selalu tidak suka dengan apa yang terjadi.

Karena argument yang tidak kuat dengan hanya menawarkan mimpi, para pengasong khilafah sejatinya hanya memberi ilusi. Mereka menebar ilusi seolah sebagai solusi. Menyatakan hal ideal, tetapi melupakan sejarah tragis masa lalu. Mungkin mereka hanya bermimpi yang indah, tetapi melupakan mimpi horror dan mencekam dari sebuah kisah dan sejarah khilafah masa lalu.

Entahlah hanya mereka yang memahami cara bermimpi. Tetapi masyarakat Indonesia sudah paham bahwa yang mereka jual hanyalah ilusi. Karena ilusi inilah masyarakat menjadi terpecah. Bahkan ISIS pernah mewujudkan ilusi itu dalam bentuk cerita yang lebih horror dan menakutkan. Mereka sebut diri mereka juga sebagai khilafah yang dijanjikan. Semoga Tuhan selalu melindungi bangsa ini dari penebar ilusi yang memecah belah dengan menunggangi isu yang berkembang.

Facebook Comments