Spirit Dakwah Kultural Ala Wali Songo

Spirit Dakwah Kultural Ala Wali Songo

- in Suara Kita
192
1
Spirit Dakwah Kultural Ala Wali Songo

Perkembangan dakwah Islam sejak beberapa tahun terakhir menunjukkan geliat yang menarik untuk diperhatikan lebih lanjut. Kemunculan teknologi informasi dan komunikasi memberikan saluran baru pagi pendakwah untuk menyampaikan ajaran Islam melalui berbagai kanal.

Terlebih ketika media sosial menjangkau nyaris seluruh lapisan masyarakat dalam satu dasawarsa terakhir ini. Dunia dakwah Islam pun menjadi kian semarak dengan kehadiran para penceramah agama yang populer di media massa maupun media sosial.

Ironisnya, pada saat yang sama, fenomena ledakan dakwah Islam di media massa dan media sosial itu juga melahirkan sejumlah persoalan. Salah satunya ialah masifnya kemunculan model dakwah Islam yang tidak adaptif dan sensitif pada perbedaan agama, mazhab dan aliran yang berkembang di tengah umat.

Mimbar-mimbar pengajian dan dakwah yang sedianya berisi tuturan kata-kata bijak nan menyejukkan acapkali berubah menjadi mimbar untuk unjuk arogansi, bahkan menebar kebencian pada kelompok yang dianggap berbeda. Dakwah Islam yang idealnya menjadi sarana menyampaikan kebaikan lantas berubah menjadi ajang menebar prasangka dan kebencian.

Disadari atau tidak, fenomena dakwah Islam yang menebar kebencian ini telah menyebabkan renggangnya hubungan antaragama di Indonesia. Komunitas beragama saling bersitegang satu sama lain lantaran konten dakwah yang provokatif dan cenderung memecah belah. Situasi kian parah ketika agama berkelindan dengan kepentingan politik praktis. Para juru dakwah pun kerapkali menjadi corong bagi kepentingan elite politik tertentu.

Pendekatan Dakwah

Corak dakwah yang dipenuhi ujaran kebencian dan prasangka terhadap kelompok lain itu jelas menodai citra Islam yang sesungguhnya. Dalam catatan sejarah, Islam selalu digambarkan sebagai agama yang disebarkan dengan penuh kasih sayang. Meski terdapat jejak peperangan berdarah dalam dakwah dan penyebaran Islam, namun secara keseluruhan Islam tetap mengedepankan cara-cara kemanusiaan dalam berdakwah.

Baca Juga : Refleksi Keteladanan Rasulullah SAW dalam Mewujudkan City of Tolerance

Rasulullah sendiri memberikan teladan ihwal bagaimana mendakwahkan Islam. Dia tidak hanya tampil sebagai komunikator yang mumpuni, namun juga mampu meminimalisasi gesekan sosial yang mungkin timbul karena aktivitas dakwahnya. Strategi dakwah ala Rasulullah itu juga ditampilkan oleh sekelompok ulama penyebar Islam pertama kali di Nusantara, yakni Wali Songo.

Membicarakan sejarah penyebaran Islam di Nusantara, utamanya di Pulau Jawa, tentu tidak bisa lepas dari peran Wali Songo di dalamnya. Selama tujuh abad lamanya, yakni dari Abad ke VII Masehi hingga XIV M agama Islam nisbi tidak mampu menembus wilayah Jawa. Sebagian besar masyarakat Jawa kala itu memeluk agama Hindu, Budha dan agama tradisional lain.

Namun, menginjak awal abad ke XV, hampir seluruh Pulau Jawa sudah dapat diislamkan. Salah satu yang berperan paling signifikan ialah penyebaran Islam yang dilakukan oleh Wali Songo. Prestasi Wali Songo mengislamkan tanah Jawa kurang dari 100 tahun adalah prestasi yang patut diapresiasi. Terlebih di saat yang sama, pengislaman Tanah Jawa itu nisbi tanpa diwarnai konflik sosial apalagi peperangan.

Imdadun Rahmat (2017), dalam bukunya berjudul Islam Indonesia, Islam Paripurna: Pergulatan Islam Pribumi dan Islam Transnasional mengklasifikasikan dakwah Wali Songo ke dalam lima pendekatan.

Pertama, pendekatan teologis, yakni penanaman nilai-nilai ketauhidan dan keislaman ke seluruh lapisan masyarakat. pendekatan ini terutama dilakukan oleh Maulana Malik Ibrahim dan juga Sunan Ampel.

Kedua, pendekatan ilmiah, yakni penyebaran Islam secara sistematis melalui pendirian pesantren. Fungsi pesantren tidak hanya sebagai tempat pembelajaran Islam, namun juga melahirkan pendakwah yang siap menyebarkan Islam ke seluruh Nusantara. Pendekatan ini terutama dipraktikkan oleh Sunan Giri.

Ketiga, pendekatan kelembagaan, yakni dakwah Islam yang menyasar pada pemerintah. Selain berdakwah langsung ke masyarakat bawah, Wali Songo juga melakukakan pendekatan struktural ke pemerintah. Sunan Kudus misal, melakukan pendekatan terhadap Kasultanan Demak Bintoro dan Sunan Gunung Jati di Kasultanan Cirebon. Mereka berhasil membangun pengaruh di kalangan birokrat, bangsawan dan pedagang yang memudahkan aktivitas dakwah Islam di wilayah Kasultanan tersebut.

Keempat, pendekatan sosial, yakni dakwah yang langsung menyentuh masyarakat kecil yang tinggal di pedesaan yang umumnya hidup miskin. Dakwah Islam dengan pendekatan sosial tidak hanya berfokus pada penanaman ajaran Islam, namun juga bertujuan mengangkat derajat kehidupan masyarakat. Sunan Drajat dan Sunan Muria adalah dua tokoh yang mempraktikkan pendekatan ini. Keduanya tidak hanya mengajarkan Islam, namun juga mengajari masyarakat dalam bercocok tanam, beternak, berdagang dan aktivitas ekonomi lainnya.

Kelima, pendekatan kultural, yakni dakwah Islam yang menggunakan strategi kebudayaan. Anggota Wali Songo yang berdakwah dengan strategi  kultural ini ialah Sunan Kalijaga dan Sunan Bonang. Sunan Kalijaga menggunakan wayang kulit sebagai medium dakwahnya. Sedangkan Sunan Bonang menggunakan alat musik gamelan.

Meminimalisasi Gesekan

Di antara kelima pendekatan tersebut, pendekatan kultural agaknya menjadi salah satu yang paling berperan meminimalisasi gesekan sosial yang terjadi di masyarakat. Seperti kita ketahui, penyebaran agama baru di komunitas yang telah memiliki agama sebelumnya jelas potensial menimbulkan konflik. Hal ini pula yang terjadi dalam konteks penyebaran Islam pertama kali di Jawa.

Di satu sisi, Islam mengajarkan konsep ketauhidan, yakni keesaan Tuhan sebagai satu hal yang mutlak. Di sisi lain, sebagian masyarakat Jawa telah memeluk agama Hindu atau Budha yang dalam banyak hal cenderung politeistik atau mengakui banyak dewa. Tidak mudah untuk memperkenalkan konsep teologi baru di tengah masyarakat yang telah memiliki konsep teologi dan budaya yang berbeda dan telah mapan selama beberapa abad.

Namun, alih-alih menghapus paksa konsep teologi dan budaya Jawa yang telah mapan, Sunan Kalijaga dan Sunan Bonang justru mengapropiasinya. Keduanya menganggap budaya sebagai bagian dari masyarakat yang sulit, atau bahkan mustahil dipisahkan begitu saja. Maka, jalan terbaik adalah mengadopsi kebudayaan itu sebagai bagian dari strategi dakwah.

Apa yang dilakukan oleh Sunan Kalijaga dan Sunan Bonang tidak sekedar melakukan islamisasi budaya Jawa, yakni menambahkan unsur Islam dalam tiap kesenian dan kebudayaan Jawa. Lebih dari itu, Sunan Kalijag dan Sunan Bonang juga menciptakan seni, tradisi dan budaya baru yang bernafaskan Islam untuk menggantikan seni, tradisi dan budaya masyarakat Jawa yang bertentangan dengan ajaran dan nilai Islam.

Strategi ini relatif berhasil tidak hanya dalam menyebarkan islam di Pulau Jawa, namun juga berhasil meredam potensi konflik yang mungkin ditimbulkan karena aktivitas dakwah Islam tersebut. Melalui strategi kultural inilah Islam berhasil diterima di hati masyarakat, nyaris tanpa unsur paksaan apalagi peperangan.

Metode dan strategi dakwah melalui pendekatan kultural seperti dipraktikkan oleh Wali Songo, terutama Sunan Kalijaga dan Sunan Bonang inilah yang seharusnya dielaborasi lebih lanjut oleh para pendakwah di era kiwari. Menghadapi realitas sosial yang serba plural, ditambah kemajuan teknologi informasi dan komunikasi yang kian canggih, para pendakwah dituntut mampu mencari model dakwah yang ramah terhadap perbedaan dan tidak menyulut bara perpecahan.

Facebook Comments