Spirit Hijrah Nabi dan Pemindahan Ibu Kota

Spirit Hijrah Nabi dan Pemindahan Ibu Kota

- in Suara Kita
155
1
Spirit Hijrah Nabi dan Pemindahan Ibu Kota

Tahun baru Islam atau Hijriah tahun ini jatuh pada tanggal 1 September 2019. Dalam ajaran Islam, kedatangan tahun baru hendaknya disambut dengan memperbanyak muhasabah (refleksi diri) dan i’tibar (mengambil pelajaran) atas tahun yang telah berlalu.

Peringatan tahun baru Hijriyah dinisbatkan pada peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Yatsrib. Dalam etimologi Bahasa Arab, hijrah dimaknai sebagai perpindahan seseorang dari satu tempat ke tempat lain. Sedangkan secara terminologis, hijrah dapat dimaknai sebagai satu aktivitas pergeseran dari kondisi yang buruk ke kondisi yang lebih baik.

Dalam catatan sejarah, momentum hijrah Nabi Muhammad dari Mekkah ke Yatsrib lebih dilatari oleh persolan sosio-teologis. Dalam bukunya yang berjudul The History of Arabs, sejarawan Philip K. Hitti menyebut bahwa faktor utama Nabi melakukan hijrah ialah menghindar dari tindakan barbar kaum Qurais yang selalu menghujat bahkan menyiksa Nabi Muhammad dan pengikutnya.

Yatsrib dipilih sebagai kota tujuan hijrah Nabi tentu bukan tanpa sebab. Kala itu, Yatsrib tengah mengalami konflik horisontal akibat perselisihan dua suku, yakni Aws dan Khazraj. Nabi Muhammad yang dikenal sebagai sosok bijaksana didaulat sebagai jurudamai. Di kota inilah, Nabi Muhammad mengembangkan tata kehidupan sosial politik yang dilandasi prinsip egalitarianisme. Nabi Muhammad mengikat komunitas Yatsrib yang terdiri atas berbagai etnis, suku dan agama ke dalam satu konsensus berbentuk Piagam Madinah (Madinah Charter). Kota Yastrib pun berganti nama menjadi Madinah yang berarti berperadaban.

Momentum perpindahan Nabi Muhammad dari Makkah ke Yastrib itulah yang dijadikan sebagai patokan awal kalender Islam yang disusun pada masa Khalifah Umar bin Khatab. Pertimbangannya kala itu ialah bahwa hijrahnya Nabi Muhammad bisa menjadi semacam inspirasi untuk memulai sebuah lembaran baru dalam kehidupan. Selain itu, bulan Muharram dalam tradisi masyarakat Arab pra-Islam juga memiliki kedudukan mulia dan sakral. Di bulan Muharram, masyarakat Arab pra-Islam tidak melakukan peperangan untuk menghormati kesucian bulan tersebut.

Baca Juga : Menguatkan Persaudaraan dengan Hijrah Kebangsaan

Peringatan tahun baru Hijriyah bagi umat muslim Indonesia kali ini bertepatan dengan momentum penting terkait kepastian pemindahan ibu kota negara. Seperti diketahui, beberapa hari lalu Presiden Joko Widodo mengeluarkan maklumat resmi bahwa ibu kota dipindahkan ke Kalimantan Timur, tepatnya di Kabupaten Penajam Paser Utara dan Kabupaten Kutai Kartanegara. Presiden Jokowi juga menyebut secara rinci tahapan pemindahan ibu kota yang akan dilaksanakan mulai tahun ini dan direncanakan rampung di tahun 2024.

Wacana pemindahan ibu kota sebenarnya bukan isu baru, melainkan sudah mengemuka sejak era pemerintahan Presiden Sukarno. Namun, meski rezim silih berganti memimpin negeri ini, wacana tersebut tidak jua dieksekusi ke dalam kebijakan nyata. Belakangan, di masa pemerintahan Jokowi, wacana pemindahan ibu kota kembali digaungkan lebih kuat. Tidak hanya sekadar wacana, namun sudah masuk ke dalam kajian dan perhitungan serius.

Menguatnya wacana pemindahan ibu kota ini merupakan konsekuensi logis dari kondisi Jakarta yang dirasa tidak lagi mampu mengemban tugas sebagai pusat ekonomi dan pemerintahan sekaligus. Jakarta kian kehilangan daya dukungnya sebagai ibu kota negara. Indikasinya dapat dilihat dari sejumlah persoalan pelik mulai dari kemacetan, polusi udara, kepadatan penduduk, ketersediaan lahan dan air bersih sampai angka kriminalitas.

Data dari The TomTom Traffic Index menyebut, Jakarta merupakan salah satu kota dengan tingkat kemacetan terparah di dunia. pada tahun 2018, Jakarta berada di urutan ke-7 dari 403 kota termacet di dunia. Sedangkan terkait polusi udara, data AirVisual pada tahun 2019 ini menempatkan udara Jakarta sebagai paling buruk ke-3 di dunia di bawah kota Kuwait dan New Delhi. Menurut AirVisual, Indeks Kualitas Udara Jakarta rata-rata berada di angka 158 dan masuk dalam kategori “tidak sehat”.

Kondisi serupa terjadi dalam konteks kepadatan penduduk. Hasil riset Oxford Economics bertajuk Global Cities 2018 memprediksi Jakarta akan menjadi kota berpenduduk terbesar di dunia pada 2035, yakni 38 juta jiwa. Di tahun itu, penduduk Jakarta diprediksi melampaui Tokyo dengan 37, 8 juta orang.

Prediksi itu agaknya cukup masuk akal. Berdasar data Badan Pusat Statistik (BPS), penduduk Jakarta tiga tahun belakangan meningkat. Di tahun 2015, penduduk Jakarta 10, 28 juta jiwa, lalu naik menjadi 10, 28 juta di tahun 2016. Di tahun 2017, jumlah penduduk Jakarta juga naik menjadi 10, 37 juta jiwa.

Kenaikan  jumlah penduduk secara signifikan ini tentu berdampak pada ketebatasan lahan juga ketersediaan air bersih. Belum lagi ancaman ekologis lain seperti naiknya permukaan air laut yang berbanding lurus dengan turunnya permukaan tanah di Jakarta. Pendek kata, Jakarta tidak lagi layak dijadikan sebagai kota pusat segala kegiatan ekonomi, politik dan pemerintahan.

Hijrah Mentalitas

Pemindahan ibu kota ke Kalimantan Timur dalam banyak hal bisa dilihat dari perspektif momentum hijrah Nabi Muhammad ke Yastrib. Tentu bukan bermaksud menyepadankan sosok presiden dengan Nabi Muhammad. Namun lebih ke bagaimana dua peristiwa itu bisa dimaknia dalam satu sudut pandang.

Menurut KH. Nazarudin Umar, makna hijrah Nabi Muhammad tidak identik dengan perjalanan eskapisme yang dilatari sikap kepasrahan atas kekalahan. Kepindahan Nabi Muhammad ke Yastrib bukan karena putus asa atau frustasi atas perlakuan kaum Quraisy terhadap dirinya. Hijrah yang dilakukan Nabi Muhammad adalah sebuah perjalanan menuju kondisi yang lebih baik.

Oleh karena itu, Nabi Muhammad tidak menyisakan sedikit pun dendam pada kota Mekkah dan kaum Quraisy. Dalam sebuah riwayat, Nabi pernah berujar “ana fakhirun bi quraisyin” yang bermakna “aku tetap bangga menjadi orang Quraisy”. Dalam pandangan Abdelmajid Sharfi yang tertuang dalam bukunya Islam Between Divine Message and History, sikap Nabi Muhammad yang demikian itu menunjukkan kualitasnya sebagai pemimpin yang visioner.

Seorang pemimpin tentu harus mampu berpikir ke depan; menimbang segala kemungkinan dan berani mengambil keputusan berikut resikonya. Hal itulah yang ditunjukkan oleh Nabi Muhammad. Ia berani mengambil keputusan untuk hijrah ke Yastrib dengan mempertimbangkan banyak hal dan berani menempuh risiko, bahkan nyawa sebagai taruhannya. Hijrah sebagai usaha menuju kondisi lebih baik memang tidak pernah mudah dan banyak tantangan. Namun, justru di momen-momen krusial inilah karakter kepemimpinan seseorang diuji.

Spirit hijrah Nabi Muhammad yang dilandasi sikap optimisme dan tidak dilandasi keputusasaan inilah yang patut kita refleksikan dan kita ambil pelajaran. Terlebih bagi bangsa Indonesia yang akan menghadapi pekerjaan berat yakni memindahkan ibu kota. Pekerjaan berat ini tentu membutuhkan peran aktif semua elemen bangsa dan sinergi apik antara pemerintah dan masyarakat.

Oleh karena itu, pemindahan ibu kota ke Kalimantan idealnya tidak dipahami sebagai bentuk keputusasaan dalam memecahkan persoalan Jakarta yang kadung kompleks dan akut. Sebaliknya, pemindahan ibu kota seharusnya kita makna sebagai ikhtiar mewujudkan pusat pemerintahan yang kondusif dan memiliki daya dukung memadai. Dipilihnya Kalimantan Timur adalah keputusan tepat lantaran wilayah tersebut nisbi aman dari potensi bencana alam, memiliki lahan luas, sudah tersedia infrastruktur pokok dan berada di bagian tengah wilayah Indonesia.

Selain itu, perpindahan ibu kota ini idealnya juga tidak dipahami sebagai sekadar hijrah secara fisik, yakni perpindahan kantor pemerintahan dari Jakarta ke Kalimantan Timur. Lebih dari itu, pemindahan ibu kota idealnya juga menjadi momen terjadinya hijrah pola pikir dan perilaku kita sebagai bangsa.

Bangsa ini harus hijrah dari mentalitas koruptif, malas, serba instan dan hal-hal negatif lainnya menuju ke pola pikir dan perilaku lebih baik. Pemindahan Ibu Kota diharapkan juga mampu mengubah mindset pembangunan yang selama ini cenderug Jawasentris atau Jakartasentris menuju pembangunan yang berparadigma keadilan dan kesetaraan.

Facebook Comments