Sterilisasi Doktrin Radikal di Mimbar Agama adalah Sterilisasi Akar Islamophobia!

Sterilisasi Doktrin Radikal di Mimbar Agama adalah Sterilisasi Akar Islamophobia!

- in Suara Kita
479
0
Sterilisasi Doktrin Radikal di Mimbar Agama adalah Sterilisasi Akar Islamophobia!

Cobalah kita pahami. Kepala BNPT, yaitu Komjen. Pol. Dr. Boy Rafli Amr. Beliau adalah seorang Islam yang taat. Maka, sangat tidak mungkin Beliau bersifat sentiment atau memunculkan islamophobia terhadap agama-Nya yang dianut. Sebab, perihal imbauan yang disampaikan beliau. Tentang bahaya motif propaganda kelompok radikal di mimbar keagamaan (Masjid). Itu semata demi melindungi kita agar terhindar dari kelompok radikal. Yaitu akar dari pencipta islamophobia  itu sendiri.

Kita mungkin pernah membaca suatu artikel atau suatu berita. Tentang pandangan orang Barat terhadap Muslim dan Islam. Utamanya tentang fenomena islamophobia yang terbangun. Itu tidak lain karena ulah kelompok radikal yang memanfaatkan agama-Nya untuk merusak dan bertindak zhalim. Maka, di sinilah kesimpulannya. Bahwa, imbauan, pencegahan dan sterilisasi mimbar keagamaan (Masjid) dari kelompok radikal. Sejatinya berfungsi memberantas akar dari islamophobia itu sendiri.

Jadi, sangat disayangkan sekali. Ketika imbauan Kepala BNPT itu justru direspons negatif karena dianggap kebencian terhadap umat Islam. Dengan cara membangun stigma bahwa ada penyebaran paham radikal di Masjid. Bahkan, banyak yang beranggapan salah. Mengenai imbauan itu. Lalu dianggap bahwa kepala BNPT menyebutkan “ada Masjid radikal”.

Sehingga, munculnya semacam tuduhan akan kebencian terhadap Islam dan munculnya semacam klaim bahwa kepala BNPT menyatakan kelompok radikal. Ini akan memunculkan semacam dua sikap. Pertama, munculnya semacam kelalaian dari masyarakat. Kedua, adanya stigma negatif tentang kepala BNPT dan instansi BNPT yang dianggap anti-Islam dll.

Maka, situasi yang demikian sejatinya akan semakin memperkeruh keadaan. Bagaimana tidak, jika respons masyarakat justru terbalik memahami imbauan itu ditanggapi dengan tuduhan. Bahwa kepala BNPT memiliki unsur kebencian terhadap Islam. Lalu kelalaian masyarakat untuk waspada yang semakin kurang. Sehingga, kelompok radikal ini akan semakin menari-nari dan terus memanfaatkan mimbar keagamaan sebagai ladang subur menabur propaganda radikal agar tumbuh bibit-bibit baru.

Padahal, faktanya tidak-lah seperti itu. Sebab, Imbauan adalah Imbauan yang bernilai nasihat. Sama halnya kita disuruh hati-hati jika melewati daerah A. Karena di situ rawan kecelakaan misalnya. Artinya, imbauan ini bukan berarti kesimpulan bahwa di daerah A ada kecelakaan. Artinya, imbauan itu menghadirkan semacam pesan yang tersirat bahwa kita harus waspada dan selalu hati-hati pada saat melewati daerah A tersebut.

Jadi, di sinilah kita harus sadar betul. Bahwa, imbauan kepala BNPT adalah bentuk kepedulian agar kita terbebas dari propaganda kelompok radikal di Masjid. Lalu, ketika kita benar-benar peduli dengan agama Islam dan berupaya memberantas islamophobia. Maka, cobalah ikuti nasihat kepala BNPT itu. Untuk bisa selalu hati-hati dan waspada perihal propaganda kelompok radikal di mimbar keagamaan.

Mengapa? karena ini adalah strategi agar kita bisa terbebas dari sosok kelompok radikal pencipta islamophobia atau kebencian terhadap Islam. Sebab, mereka-lah yang menciptakan kebencian terhadap umat Islam dan ajaran Islam. Karena, mereka memanfaatkan agama-Nya untuk merusak tatanan dan bertindak zhalim. Sehingga, yang wajib kita perangi adalah kelompok radikal.

Maka, untuk memberantas islmuphobia adalah dengan memberantas akar di balik pencipta kebencian terhadap umat dan ajaran Islam itu sendiri. Yaitu kelompok radikal adalah pencipta atau pembuat onar. Hingga muncullah kebencian terhadap umat Islam dan ajaran Islam.

Jadi, cobalah kita renungkan imbauan kepala BNPT itu. Sebab, kehati-hatian dan kewaspadaan kita terhadap propaganda kelompok radikal di mimbar keagamaan itu tidak akan membuat kita rugi. Namun menguntungkan sekali bagi kita. Sebab, kita tidak tahu di mana saja propaganda kelompok radikal itu berada dan memanfaatkan mimbar keagamaan. Maka, ketika kita telah menanamkan kehati-hatian dan kewaspadaan. Tentu kita bisa selamat dari propaganda kelompok radikal itu.

Facebook Comments