Sterilisasi Mimbar Agama dari Doktrin Radikalisme dan Intoleransi

Sterilisasi Mimbar Agama dari Doktrin Radikalisme dan Intoleransi

- in Suara Kita
268
1
Sterilisasi Mimbar Agama dari Doktrin Radikalisme dan Intoleransi

Diakui atau tidak, dalam beberapa tahun terakhir mimbar agama kita juga telah menjadi sarang penyebaran doktrin radikalisme dan intoleransi yang disebarkan oleh tokoh-tokoh agama berpaham radikal.

Karena itu, pada titik ini, kita bisa menarik benang merah bahwa selama ini, perkembangan radikalisme dan intoleransi yang terus tumbuh subur bukan hanya disebarkan secara sembunyi-sembunyi, tetapi juga secara terang-terangan di mimbar-mimbar agama. Mimbar yang notabene tidak pernah kita sangka-sangka steril dari gempuran paham radikal dan intoleransi.

Tentu, ini adalah panggilan untuk kita semua. Panggilan untuk mengambil langkah guna melakukan sterilisasi terhadap mimbar agama kita yang juga telah menjadi sarang paham radikalisme dan intoleransi. Lalu, langkah apa yang bisa kita ambil guna sterilisasi mimbar agama kita dari paham radikal?

Berkait-kelindan dengan pertanyaan itu, maka perlu bagi kita untuk mengidentifikasi terlebih dahulu mimbar agama di masa kini. Dalam hemat penulis, di masa kini, pemahaman atau definisi kita terkait mimbar agama yang kita miliki tampaknya harus mengalami revisi atau perbaikan.

Sebab, di era kekinian, adalah kurang tepat jika kita hanya mendefinisikan mimbar agama sebagai mimbar di mana ada sesosok penceramah di sebuah tempat yang melakukan ceramah dan sekumpulan konstituen yang mendengarkan. Menurut penulis, definisi ini tidaklah cukup. Sebab, nyatanya, sudah banyak mimbar-mimbar agama yang bermetamorfosis ke dunia virtual, yang terkadang, antara siapa penceramahnya dan siapa pendengarnya sama-sama saling tidak mengetahui sama lain.

Inilah sebenarnya mimbar agama yang perlu kita tangani dan kita perhatikan lebih lanjut (sterilisasi). Sebab, dalam beberapa tahun terakhir, tren perkembangan paham radikalisme dan intoleransi yang merebak di masyarakat, khususnya yang menjangkiti anak muda, banyak yang melalui kanal-kanal virtual ini. Misal, melalu Facebook, YouTube dan lain-lain.

Perkuat Literasi Keagamaan di Era Digital

Dan, dalam hemat penulis, guna menstabilkan mimbar agama virtual kita ini dari paham radikal, ada dua hal yang perlu dilakukan. Pertama, memperkuat eksistensi keberadaan virtual police (polisi virtual)yang telah digagas sejak tahun 2021 lalu. Menurut penulis, keberadaannya perlu untuk diperkuat lagi agar mampu melakukan terobosan-terobosan baru mensterilisasi mimbar agama virtual kita dari doktrin radikalisme dan intoleransi.

Kedua, adalah memperkuat literasi keagamaan masyarakat. Literasi keagamaan adalah kemampuan masyarakat untuk membaca setiap ajaran-ajaran agama yang diperoleh dari internet secara kritis, tidak ditelan begitu saja. Sehingga, dengan ini, masyarakat kita, anak-anak muda khususnya, yang banyak berkecipung di dunia virtual menjadi tidak mudah dipengaruhi oleh paham-paham radikal.

Selain itu, upaya sterilisasi mimbar agama dari paham-paham radikal, seperti halnya di tempat-tempat ibadah, perlu untuk terus dikuatkan. Dengan demikian, akan terjadi pencegahan dari berbagai sisi.

Facebook Comments