Stigmatisasi Khilafah-Jihad dan Mengapa Kita Perlu Mengkaji Sejarah Politik Islam?

Stigmatisasi Khilafah-Jihad dan Mengapa Kita Perlu Mengkaji Sejarah Politik Islam?

- in Suara Kita
1504
0
Stigmatisasi Khilafah-Jihad dan Mengapa Kita Perlu Mengkaji Sejarah Politik Islam?

Khilafah dan jihad barangkali ialah dua istilah penting yang paling sering disalahpahami, baik oleh umat Islam maupun non-Islam. Bagi para simpatisan gerakan Islam garis keras, khilafah kerap dimaknai secara sempit sebagai bentuk pemerintahan Islam berdasar pada penerapan syariah (hukum Islam) yang berkuasa secara global. Sedangkan jihad dimaknai sebagai perang mengangkat senjata melawan musuh Islam atau kaum kafir.

Penafsiran yang sempit itu cenderung mereduksi makna khilafah dan jihad yang sesungguhnya. Alhasil, banyak kalangan merasa traumatik mendengar kata khilafah dan jihad. Maka, lahirlah stigmatisasi atawa cara pandang yang negatif terhadap khilafah dan jihad. Banyak kalangan merasa alergi dengan konsep khilafah dan jihad. Stigmatisasi itu pada akhirnya justru merugikan umat Islam itu sendiri.

Di titik inilah pentingnya kita mengkaji sejarah politik Islam untuk mengetahui realitas dunia Islam di masa lalu. Tujuannya bukan untuk mengajak umat terjebak pada romantisisme apalagi regresivisme. Melainkan untuk memahami sisi terang sekaligus sisi gelap dunia Islam, terutama panggung politiknya yang diwarnai oleh kisah kelam maupun jaya.

Sisi Gelap Khilafah

Upaya memahami sejarah Islam ini penting terutama di tengah maraknya fenomena penyelewengan makna khilafah dan jihad. Kelompok Islam garis keras kerap berkeyakinan bahwa khilafah ialah solusi atas berbagai problem dunia Islam kontemporer? Demikian pula, kelompok Islam garis keras mengklaim bahwa jihad yang diartikan sebagai peperangan fisik merupakan cara dunia Islam bangkit dari keterpurukan. Benarkah demikian?

Jika kita menengok sejarah Islam, semua yang diklaim oleh kelompok garis keras itu tidak lebih dari sebuah propaganda yang utopis. Realitas menunjukkan bahwa di era kekhalifahan, utamanya Ummayah dan Abbasiyah, panggung politik Islam sangat dinamis dan bahkan kerap diwarnai oleh tragedi kemanusiaan. Peralihan kekuasaan dari satu khalifah ke khalifah lain kerapkali tidak berjalan mulus, alih-alih diwarnai kontestasi dan konfrontasi. Intrik politik yang berujung pada pembunuhan dan peperangan kadung menjadi hall umrah dalam suksesi kekuasaan di era kekhalifahan Ummayah dan Abbasiyah.

Di era kekhalifahan Ummayah dan Abbasiyah, Islam memang berhasil membangun peradaban terutama di bidang ilmu pengetahuan. Nama-nama ilmuwan muslim yang masyhur di seluruh dunia, mulai dari Al Khawarizmi, Al Kindi, Ibnu Sina, Ibnu Rusyd dan nama-nama lainnya muncul di era kekhalifahan Ummayah dan Abbasiyah. Namun, harus diakui pula bahwa era kekhalifahan Ummayah dan Abbasiyah tidak sesuci yang kita bayangkan.

Di dalamnya terjadi berbagai penyelewengan agama dan moral. Mulai dari gaya hidup hedonisme, korupsi, nepotisme, sampai perang perebutan kekuasaan. Sisi gelap era kekhalifahan Ummayah dan Abbasiyah ini penting diketahui umat Islam zaman sekarang. Tujuannya agar kita tidak mudah terjebak propaganda kaum konservatif-radikal yang mengklaim khilafah sebagai solusi taken for granted bagi seluruh problematika dunia Islam.

Tiga Bentuk Penyimpangan

Apa yang harus dilakukan oleh umat Islam saat ini ialah menghindarkan khilafah dan jihad dari tiga bentuk penyimpangan. Pertama, yakni eksploitasi yakni upaya menjadikan khilafah dan jihad sebagai senjata untuk meraih kekuasaan dan melawan pemerintahan yang sah. Selama ini, kelompok Islam radikal menjadikan isu khilafah dan jihad sebagai senjata untuk mendelegitimasi otoritas pemerintahan yang sah serta memprovokasi umat untuk membangkang pada pemimpinnya. Kalangan islamis-radikal gencar mempropagandakan khilafah dan jihad semata sebagai upaya merebut kekuasaan melalui cara-cara teror dan kekerasan.

Kedua, yakni politisasi yakni upaya menjadikan khilafah dan jihad sebagai komoditas politik untuk meraih simpati publik. Sudah jamak kita lihat bagaimana para politisi berhaluan konservatif-kanan menjadikan sentimen keagamaan sebagai bahan jualan untuk mendapat dukungan elektoral. Dalam konteks Islam, para politisi konservatif-kanan ini kerap menjual isu khilafah dan jihad untuk menarik simpati pemilih di kalangan umat Islam. Mereka kerap berjanji bahwa jika terpilih, mereka akan menerapkan syariah (hukum Islam) demi kemajuan dan kesejahteraan umat. Namun, fakta acap berkata lain. Di kemudian hari, para politisi konservatif-kanan itu tidak sedikit yang justru terlibat kasus korupsi, dan penyalahgunaan wewenang lainnya.

Ketiga, yakni justifikasi yakni upaya menjadikan khilafah dan jihad sebagai argumen pembenaran atas tindakan kekerasan dan kebencian yang dilakukan segelintir orang. Selama ini, kelompok teroris kerap menjadikan khilafah sebagai agenda pokok gerakan mereka dan mengklaim gerakan tersebut sebagai jihad fi sabilillah. Dengan begitu, tindakan barbar dan nirkemanusiaan itu lantas dianggap sebagai tindakan suci. Tindakan yang demikian ini jelas telah mengotori kesucian makna khilafah sebagai konsep kepemimpinan dalam Islam dan jihad sebagai jalan perjuangan.

Ke depan, umat Islam memiliki tugas berat untuk membersihkan khilafah dan jihad dari stigmatisasi, eksploitasi, politisasi dan justifikasi. Caranya ialah dengan menelusuri jejak sejarah peradaban Islam. Dari situ, umat Islam akan sampai ke pemahaman bahwa khilafah dan jihad merupakan ajaran Islam, namun ajaran yang harus senantiasa ditafsirkan secara dinamis dan progresif alias relevan dengan situasi zaman. Khilafah bukanlah konsep pemerintahan atau kepemimpinan yang baku dan taken for granted. Sebaliknya, khilafah ialah corak politik Islam yang sangat terbuka atas segala jenis penafsiran.

Demikian pula jihad tidaklah semata berarti sebagai sebuah perjuangan fisik apalagi peperangan dalam menegakkan kebenaran ilahi. Jihad juga bisa dimaknai sebagai upaya meredam hawa nafsu negatif serta upaya memperbaiki diri dan komunitas secara berkelanjutan. Makna jihad dalam konteks sosial-kemanusiaan itulah yang justru relevan diterapkan di zaman sekarang. Sebuah era ketika umat Islam sebagian besar hidup di negara-negara yang aman, damai, dan berkeadilan.

Facebook Comments