STOP Radikalisme di Internet!

STOP Radikalisme di Internet!

- in Suara Kita
563
3

Peristiwa bom bunuh diri di Pos Polisi Tugu Kartasura Sukoharjo beberapa waktu yang lalu, sontak mengejutkan banyak pihak. Apalagi peristiwa tersebut terjadi sebelum hari raya Idul Fitri. Berdasarkan penyelidikan dari polisi, sebagaimana diberitakan oleh liputan6.com (10/6), bahwa pelaku berinisial RA (22) melakukan percobaan bom bunuh diri bukan seorang diri atau lone wolf. RA memiliki jejaring yang saling membantu. Polisi pun sudah menangkap 2 pelaku lain pada 9 Juni lalu.

Dari hasil penyidikan polisi, yang mengejutkan adalah fakta bahwa RA belajar merakit bom secara mandiri dari internet. Meski RA mengakui bahwa ia adalah simpatisan ISIS, namun ia belajar merakit senjata justru dari internet. Hal ini semakin menguatkan fakwa bahwa internet masih menjadi piranti yang massif untuk menyebarkan propaganda radikalisme. Sebab bukan hanya RA yang terpengaruh virus radikal dari internet, pelaku lain juga demikian.

Sebagaimana pelaku berinisial S yang menyerang Gereja Santa Lidwina Bedog di Jalan Jambon Trihanggo nomor 3 Gamping, Trihanggo, Sleman, pada 11 Februari 2018 silam. Pelaku penyerangan tersebut mendapat doktrinasi radikalisme juga dari internet. Kasus serupa juga terjadi pada peristiwa bom bunuh diri di Sibolga, Sumatra Utara, pada pertengahan Maret 2019 silam. Pelaku yang berinisial AH bersama istri dan anaknya, mengaku belajar merakit bom dari internet.

Baca juga : Memutus Mata Rantai Radikalisme di Media Sosial

Fakta-fakta di atas adalah sederetan bukti bahwa merebaknya paham radikalisme melalui jejaring internet terus saja menemukan jalan. Akses terhadap dunia maya ini menjadi ladang subur bagi persemaian radikalisme, sebab kaum ekstrimis pintar menyembunyikan jejak digital mereka.

Potong Mata Rantai Radikalisme

Dikarenakan masih massifnya persebaran paham radikalisme melalui internet, maka harus terus dilakukan upaya pencarian solusi. Di antara cara yang bisa diambil untuk menghambat laju radikalisme di internet ini adalah dengan memotong mata rantai radikalisme tersebut sejak dini. Setidaknya ada tiga hal yang bisa dilakukan.

Pertama, pendampingan keluarga. Dalam urusan pembinaan kepribadian, keluarga memiliki peranan yang begitu urgen. Apalagi untuk mengimbangi pengaruh internet yang biasa diakses oleh salah satu dari anggota keluarga tersebut. Fungsi keluarga dalam hal ini adalah memberikan bimbingan karakter agar anggota keluarga memiliki pribadi yang positif. Lebih jauh fungsi keluarga disini adalah fungsi internal sebagaimana diungkapkan Friedman (1998). Yakni membentuk dasar kekuatan kekeluargaan. Di dalamnya terkait dengan saling mengasihi, saling mendukung dan saling menghargai antar anggota keluarga.

Ini berbeda dengan sifat internet. Menurut Takano (1996) sifat internet adalah kebebasan, yakni setiap penggunanya bebas mengakses apa saja. Ini tentu melahirkan sikap egois dan acuh tak acuh, serta menghilangkan kasih sayang. Maka dalam hal inilah keluarga akan menjadi filter yang efektif untuk menanggulangi kebebasan internet tersebut.

Kedua, aktifitas sosial masyarakat atau bermasyarakat. Dengan bermasyarakat, maka manusia akan saling memahami dinamika kehidupan, mampu mengerti keadaan orang lain, dan memiliki kepribadian yang ekstrovert. Hal ini berbeda dengan manusia yang hanya duduk manis di depan internet, mereka cenderung memiliki kepribadian yang introvert karena tidak berinteraksi secara langsung dengan orang lain. Kepribadian introvert inilah yang selama ini menjadi sasaran empuk kaum radikal untuk melakukan rekrutmen anggota.

Lihat bagaimana keseharian pelaku radikal di berbagai tempat, seperti pelaku bom bunuh diri di Pos Polisi Kartasura kemarin. Mereka adalah sosok yang pendiam, dan kurang bermasyarakat. Maka mereka mudah terpapar paham radikal.

Ketiga, pendidikan agama melalui lembaga yang kredibel. Pendidikan agama menjadi pondasi yang sangat penting terhadap penangkalan radikalisme. Apalagi selama ini, radikalisme di Indonesia kebanyakan adalah radikalisme berbasis agama. Yakni, ajaran radikalisme muncul dari pemahaman agama yang keliru. Agama yang semestinya membawa rahmat, justru malah menjadi laknat dan musibah.

Pendidikan agama harus ditempuh melalui lembaga-lembaga pendidikan yang sudah kredibel. Sebab, lembaga-lembaga ini sudah terkoneksi satu sama lain, sehingga tingkat kepercayaannya sudah terbukti. Berbeda dengan pengajaran agama model kaum radikal yang rata-rata dilakukan dengan cara tertutup. Model pendidikan seperti ini rawan untuk disusupi ajaran radikal.

Dengan pendidikan agama melalui lembaga yang kredibel, maka paham keagamaan yang muncul adalah paham yang moderat. Bukan ekstrim kanan atau pun ekstrim kiri. Pengaruh-pengaruh negatif dari internet pun bisa ditepis, sebab telah terpatri ajaran moderasi yang kuat. Internet sifatnya hanya sekedar informasi dan menambah wawasan. Bukan untuk dijadikan pedoman pokok dalam beragama.

 

Facebook Comments