Strategi Melawan Gerakan KKB Papua Untuk Keutuhan NKRI

Strategi Melawan Gerakan KKB Papua Untuk Keutuhan NKRI

- in Suara Kita
828
0
Strategi Melawan Gerakan KKB Papua Untuk Keutuhan NKRI

Beberapa tahun terakhir ini, beragam persoalan mulai bermunculan di negara Indonesia. Mulai dari krisis ekonomi, kesenjangan sosial, maraknya kasus intoleransi-klaim kebenaran tunggal dan hingga aksi gerakan kelompok radikalisme-terorisme. Salah satunya adalah masifnya gerakan Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) di Nduga, Papua.

Keberadaan KKB tersebut, belakangan ini menyita perhatian publik. Bukan hanya bagi warga Papua, tetapi juga Indonesia secara umum. Pasalnya, ia tidak sekadar suatu organisasi melainkan bertransformasi menjadi kelompok teroris yang kerap meresahkan masyarakat melalui aksi-aksi heroiknya, yakni kekerasan, penghancuran fasilitas publik dan bahkan membunuh warga termasuk aparat keamanan.

Misalnya, pada tahun 2021 ini terdapat beragam kasus penyerangan oleh KKB di Tanah Air ini di antaranya adalah: penembakan terhadap seorang guru di Disrik Beoga, penembakan kepala BIN Papua, penyerangan kantor Polisi Oksamol, penyerangan karyawan PT Sinama, pembunuhan dua pekerja proyek di Yahukimo dan hingga penyerangan terhadap anggota TNI AD dan lain sebagainya. (Tempo.co, Jumat, 3 September 2021)

Melihat kenyataan tersebut, KKB dengan segala sepak terjangnya menjadi ancaman nyata bagi bangsa Indonesia yang setiap saat, ia dapat meluluh-lantakkan terhadap keutuhan dan kesatuan NKRI yang telah lama diperjuangkan dan dirawat. Karenanya, pelbagai cara perlu dilakukan sebagai langkah preventif guna melawan teror KKB untuk Papua yang damai dan sejahtera.

Namun demikian melawan gerakan kelompok terorisme seperti KKB ini, bukanlah perkara yang terbilang mudah laiknya membalikkan telapak tangan. Sebab, kemunculannya-pun tidak dilatar-belakangi oleh satu faktor. Karenanya, diperlukan langkah dan strategi yang khusus, terstruktur, sistematis dan masif. Apalagi, model penyelesaiannya hanya sekadar menggunakan cara-cara militeristik, tentu tidak akan memberi dampak apapun (efek jerah) pada mereka. Bahkan, mereka semakin ganas dalam melancarkan aksinya.

Oleh karena itu, pemerintah dituntut untuk memilih jalan-jalan dialogis terhadap seluruh pemangku kepentingan di Papua guna mencari jalan keluar atau format ideal dalam menyelesaikan konflik (KKB) ini. Yang tujuannya adalah agar konflik tersebut segera berakhir, kekerasan dapat berhenti, terutama agar korban tidak terus menerus berjatuhan.

Selain itu, menurut Firman Noor dkk., langkah strategis yang patut dilakukan untuk penyelesaian konflik di Papua adalah: Pertama, pemantapan paradigma perubahan yang berorientasi pada keadilan dan kesejahteraan dengan segenap turunannya. Kedua, akselerasi perbaikan kualitas hidup manusia. Ketiga, memberikan akses dan kesempatan berkiprah yang luas bagi masyarakat Papua, baik di tanah Papua atau di seluruh Tanah Air.

Keempat, menciptakan social engagement terhadap seluruh elemen yang ada di Papua, baik sesama kalangan Papua ataupun antara orang Papua dan non-Papua. Kelima, memantapkan penegakan hukum yang setara baik kepada aparat pemerintah (termasuk militer dan kepolisian) maupun masyarakat. Keenam, pelibatan lebih banyak masyarakat Papua dalam pengambilan keputusan atau kebijakan penting bagi mereka. Ketujuh, pengakuan hak-hak adat dan kebebasan mengekspresikan hak tersebut. Kedelapan, memaksimalkan perlindungan terhadap Hak Asasi Manusia (HAM) dan memperkuat jaringan dialog dengan berbagai kalangan yang berkepentingan untuk memperbaiki kehidupan masyarakat Papua, baik di dalam maupun di luar negeri. (Firman Noor, dkk., Kedaulatan Indonesia di Wilayah Perbatasan: Perspektif Multidimensi, 2016. Hal, 38)

Pun, langkah yang patut ditempuh oleh pemerintah, baik pusat maupun daerah adalah; dengan membangun komunikasi (kerja sama) yang intens antara tokoh masyarakat, tokoh agama, tokoh adat, dan masyarakat secara umum. Karena, hal ini juga menjadi modal utama untuk melawan teror KKB yang semakin hari kian mengkhawatirkan. Dengan demikian, bukan mustahil kiranya apabila model dan strategi ini dilaksanakan (terapkan), konflik di Papua seperti gerakan KKB ini bisa berakhir sebagaimana kasus Gerakan Aceh Merdeka (GAM) beberapa tahun silam. Wallahu A’lam

Facebook Comments