Strategi Mewujudkan 2022 Sebagai Tahun Toleransi

Strategi Mewujudkan 2022 Sebagai Tahun Toleransi

- in Suara Kita
445
5
Strategi Mewujudkan 2022 Sebagai Tahun Toleransi

Tahun telah berganti. Harapan-harapan baru telah ditanan, agar selama setahun harapan-harapan bertumbuh subur sesuai harapan. Salah harapan terbesar untuk kita bersama adalah hidup rukun dan saling menghormati satu sama lain dalam perbedaan. Pada tahun 2021 indeks kerukunan antar masyarakat mengalami peningkatan dari pada tahun sebelumnya. Hal tersebut berdasarkan pada data hasil riset Balai Litbang dan Riset Kementerian Agama RI pada 2021, di mana indeks Kerukunan Umat Beragama (KUB) rata-rata nasional pada tahun ini berada pada skor 72,39 atau naik 4,93 poin dari tahun sebelumnya sebesar 67,46.

Indeks KUB berdasarkan atas tiga indikator yaitu Indeks toleransi (68,72), indeks kerjasama (73,41) dan indeks kesetaraan (75,03). Rata-rata dalam 5 tahun terakhir, indeks nasional Kerukunan Umat Beragama (KUB) berada pada nilai baik atau rukun tinggi dengan skor 71,37. Indikator indeks toleransi (69,296), indeks kerjasama (72,484) dan indeks kesetaraan (72,08).

Di sisi lain, indeks radikalisme yang mengarah pada tindakan terorisme terus mengalami penuruanan secara signifikan. Berdasarkan hasil riset BNPT (Badan Nasional Penanggulangan Terorisme), indeks radikalisme pada tahun ini sebesar 14 % dari 2017 sebesar 55,2% dan 2019 sebesar 38,4%.

Kemudian berdasarkan laporan Global Terrorism Index pada tahun ini telah menempatkan Indonesia pada peringkat 37 atau medium terdampak teroris. Di Asia Tenggara, Indonesia masih lebih aman dari ancaman terorisme dibandingkan Philipina, Thailand dan Myanmar.

Mempertahankan Toleransi

 Indeks toleransi yang sudah dicapai pada tahun 2021, bukan titip final dalam mewujudkan Indonesia menjadi negara toleransi atas semua perbeda yang ada. Tetapi merupakan awal spirit yang harus dibangun untuk menjalankan kehidupan pada tahun 2022. Toleransi harus selalu ditingkat setiap saat.

Toleransi merupakan nilai yang harus selalu ditanan di negara-negara yang memiliki keanekaragaman budaya dan keyakinan. Tanpa adanya sikap tolernasi dalam kehidupan masyarakat yang majemuk, maka muda terjadi gesekan. Ketika ini terjadi dalam masyarakat, maka kehidupan berbangsa akan mudah rundah. Sebab kebhinekaan merupakan spirit yang tidak bisa tergantikan untuk mempertahankan keutuhan berbangsa.

Untuk mewujudkan toleransi yang lebih baik, ada tiga tahap yang harus dilakukan; pertama, mengenal diri sendiri. Mengenal semua yang ada dalam diri sendiri, baik itu keyakinan atau agama yang kita anut. Dengan mengenal itu semua, kita mudah memahami perbedaan-perbedaan yang ada diluar kita. Cara ini harus mudah, tetapi akan memenetukan cara selanjutnya. Sebab mengenal yang ada dalam diri kita, akan mudah membuka perbedaan yang ada di luar diri kita.

Kedua, mengenal lingkungan sekitar. Cara ini untuk mengenal orang-orang yang ada dilingkungan sekitarnya. Berbedaan yang ada kita dapat pahami dan tidak saling bersinggungan dalam kehidupan bermasyarakat. Seperti perbedaan dalam kehidupan seorang muslim dan kristen, dalam kehidupan seorang muslim, beberapa pendapat bahwa liur anjing adalah najis. Dan para muslim lebih banyak menjauhi hewan tesebut.

Berbeda dengan orang Kristen, bahwa anjing sebagai hewan yang penurut dan mudah diajak bergaul dalam kehidupan manusia. Perbedaan ini harus tetap dijaga, muslim pada pendirian dan Kristen pada keyakinannya. Berbedaan ini harus dipahami semua orang agar dalam kehidupan bermasyarakat tetap terjaga.

Ketiga, saling memaafkan. Hal ini dalam kehidupan masyarakat tidak luput dalam ketidaktahuan. Oleh sebab itu, rasa maaf harus dikedepankan agar permasalahan kecil dapat diselesaikan dengan cara kekeluargaan. Maaf, merupakan kata yang ampuh untuk menyelesaikan semua yang ada.

Wajib Toleransi

Dengan ketiga cara tersebut, toleransi akan tetap tumbuh dalam kehidupan majemuk ini. Kita tidak hanya untuk dihormati atas pilihan yang kita yakini, tetapi kita juga mengetahui dan memhami apa yang diyakini orang lain. Memahami diri sendiri, memahami lingkungan dan memaafkan merupakan nilai dasar yang harus ditanam setiap individu untuk mewujudkan kehidupan yang damai dan rukun.  

Kita tahu, toleranasi merupakan sarana menuju pada bentuk kehidupan yang dinegasikan oleh radikaslime dan esktremisme, bukan merusak kehidupan. Masyarakat yang memiliki toleransi yang tinggi dalam kehidupannya, maka indeks kebahagiaany lebih tinggi. Sebab toleransi bukan sebatas ”hak” untuk berbeda saja, tetapi juga merupakan ”kewajiban” untuk menghargai perbedaan-perbedaan yang ada berdasarkan pada konsensus.

Facebook Comments