Substansi Filosofis Punakawan Sebagai Daya Tangkal Paham Radikal dan Kekerasan

Substansi Filosofis Punakawan Sebagai Daya Tangkal Paham Radikal dan Kekerasan

- in Suara Kita
252
0
Substansi Filosofis Punakawan Sebagai Daya Tangkal Paham Radikal dan Kekerasan

Sultan Fattah, sebuah buku yang ditulis oleh achmad Abdullah menjelaskan terkait Wayang dan kaitannya dengan Islam. Pada mulanya, cerita wayang berasal dari ajaran Hindu. Seperti Mahabarata dan Ramayana. Setelah islam masuk ke tanah jawa dengan dibawakan oleh para wali, terjadilah akulturasi dan asimilasi budaya. Dimana pada saat Walisongo menyebarkan Islam kepada masyarakat Jawa memasukkan unsur-unsur ajaran islam yang rahmatan lil alamin pada kebudayaan dan tradisi bangsa yang dianggap tidak menyimpang dari syariat agama.

Ajaran Islam masuk ke Indonesia dengan proses yang jauh berbeda dengan masuknya islam di negara-negara Eropa. Islam datang dengan wajah yang ramah, tidak dengan perang. Begitu pula penyebaran Islam di Nusantara sangat mengedepankan toleransi, karena pada saat itu rakyat Indonesia sudah mengenal agama dan memiliki budaya. Hal ini yang kemudian mendorong munculnya akulturasi budaya tadi.

Punakawan, adalah hasil dari proses akulturasi budaya yang dilakukan oleh Sunan Kali Jaga pada waktu itu. Substansi filosofis dari masing-masing tokoh Punakwan dapat dijadikal refleksi untuk menangkal paham radikal berkembang di tengah masyarakat. Secara harfiah nama tokoh Punakawan berasal dari bahasa arab dan memiliki makna filosofis tersendiri yang dapat pula dijadikan rujukan untuk mengokohkan ideologi kita agar tidak goyah dengan paham-paham radikal.

Semar berasal dari bahasa arab simaarun yang berarti paku. Memberikan ajaran bahwa Islam yg telah dipeluk oleh rakyat jawa harus dihujamkan ke dalam hati sampai kokoh bagaikan paku yang sulit dicabut. Sifat kokoh seperti paku perlu dimiliki oleh masing-masing kita untuk memperkuat ideologi kebangsaan. Paham radikal yang mengancam keutuhan bangsa, akan sulit berkembang ketika setiap masyarakat berpegang teguh pada ideologi Pancasila.

Petruk berasal dari bahasa arab fatruk yang secara harfiah berarti tinggalkanlah. Merujuk juga pada  fatruk kulla man siwallah tinggalkanlah segala sesembahan selain Allah. Kembali pada makna harfiah, yakni tinggalkanlah. Kita asumsikan Petruk adalah sebuah perintah untuk meninggalkan segala hal buruk, dan melakukan kebaikan. Kita semua tau bahwa paham radikal memiliki dampak yang cukup mengkhawatirkan bagi Masa Depan bangsa, untuk itu milikilah sifat Petruk, meninggalkan segala hal yang dapat menimbulkan keburukan.

Baca juga : Membumikan Toleransi dengan Meneguhkan Pancasila di Dunia Maya

Gareng berasal dari kata qariin (nalaa qariin) yang artinya memperbanyak sahabat/ saudara. Setelah kita memiliki pribadi yang teguh dalam berideologi serta mampu meninggalkan segala bentuk keburukan. Tugas kita sebagai Khalifatullah adalah menjalin relasi, memperbanyak sahabat dan jaringan. Karena tidak mungkin jika kemudian kita menyuarakan untuk menangkal paham radikal sendirian. Kita perlu menggerakkan banyak masa, membuat jaringan yang positif dan mampu menebarkan pesan-pesan damai anti kekerasan diseluruh lapisan masyarakat dan juga dunia maya. Untuk itulah kepribadian gareng perlu juga untuk kita implementasikan.

Bagong berasal dari kata baghayan bughat yang artinya menentang segala bentuk kedzaliman, ada pula yang menafsirkan jangan sekali-kali membangkan pada pemimpin. Kita ketahui bersama bahwa paham radikal muncul ketika suatu golongan mengaggap golongannya yang terbaik dan yang lainnya adalah sampah dan halal untuk didzalimi. Padahal dalam Islam, sebaik-baiknya golongan adalah tergantung pada kadar ketaqwaannya kepada Allah SWT. Untuk itu sifat saling mendzalimi harus kita hindari sejak dini, agar tidak menumbuhkan benih-benih paham radikal.

Selain itu, kita sebagai masyarakat yang tinggal di suatu bangsa, Indonesia. Tidaklah pantas jika kemudian membangkan pada pemimpin bangsa sendiri. Kaum-kaum radikal cenderung menentang pemerintahan dan pemimpin suatu bangsa karena dianggap bertolak belakang dengan ideologi mereka. Disinilah nilai edukasi sifat wayang Bagong, mengajarkan agar menentang segala bentuk kedzaliman dan tidak menentang pemimpin bangsanya.

Selain tokoh Punakawan, Sunan Kali Jaga menambahkan satu tokoh lagi yakni Togog yang berasal dari kata thaghut  yang berarti iblis. Menjauhi segala thaghut yang disembah selain Allah. Tokoh ini semacam menjadi self reminder bagi kita semua bahwa dewasa ini. Kita telah menuhankan selain Allah. Kita cenderung menuhankan waktu, uang, pekerjaan, bahkan jabatan. Dari sini kemudian kita perlu refleksi, untuk menjadi pribadi yang mau meyuarakan anti paham radikal dan hidup harmonis dalam beragama dalam keberagaman, sudahkah kita benar-benar menuhankan Tuhan?

Sebagai seorang Wali, Sunan Kali Jaga tentu bukan tanpa tujuan  baik membuat tokoh-tokoh dalam pewayangan yang bernuansa Islam namun tidak menghilangkan budaya (local wisdom) yang telah ada sebelumnya. Selain agar memudahkan dalam mendakwahkan islam. Nilai-nilai filosofis dari penokohan wayang tersebut setidaknya dapat kita jadikan refleksi dini menumbuhkan sifat pribadi yang nantinya dapat bermanfaat untuk menangkal paham radikal.

Wallahu ‘Allam.

Facebook Comments