Sufisme Nusantara, Puasa, dan Tenggang Rasa

Sufisme Nusantara, Puasa, dan Tenggang Rasa

- in Suara Kita
211
0

Puasa tak pelak lagi adalah sebentuk ibadah individual yang berimplikasi pula secara sosial. Meskipun seolah-olah bersifat eksistensial, dimana hanya kita sendiri dan bukannya orang lain yang mampu merasakan kehausan dan kelaparannya, namun ketika ditilik dari sisi batiniahnya ternyata puasa itu akan pula berimplikasi pada orang lainnya.

Mangkunagara IV, dalam Serat Wedhatama, mengungkapkan bahwa tapa brata tak melulu soal mengontrol hawa nafsu semata, namun juga berkaitan dengan menyenangkan hati sesama (karyenak tyasing sasama).

Nuladha laku utama

Tumrape wong Tanah Jawi

Wong agung ing Ngeksiganda

Panembahan Senapati

Kepati amarsudi

Sudane hawa lan nepsu

Pinesu tapa brata

Tanapi ing siyang ratri

Amamangun karyenak tyasing sasama

Meskipun Wedhatama menggambarkan tentang kepribadian Panembahan Senapati dalam bait itu, namun ia secara tepat menyingkapkan pula sisi sosial tapa brata atau puasa. Sisi sosial puasa atau laku-laku yang mengurangi tumangkar-nya hawa nafsu itu ternyata secara hakiki justru lebih membentuk sisi batiniah manusia daripada sisi lahiriahnya.

Tak sekedar menahan haus, lapar, dan syahwat belaka, ujung terdalam puasa justru adalah kalbu manusia yang identik dengan segala isinya: marah, tamak, sensualitas, dst. Dalam kearifan Jawa isi-isi kalbu itu ternyata memiliki pintu yang yang mesti ditutup dengan menahan haus, lapar, dan syahwat. Usut punya usut, ternyata memang ada keterkaitan yang erat antara kekenyangan dengan sifat tamak seumpamanya.

Dalam hal ini tampak Wedhatama melihat puasa, atau laku-laku yang berupaya mengontrol hawa nafsu,dari tahapan kalangan khawas sebagaimana yang pernah dipilah oleh al-Ghazali dalam Ihya’. Ketika puasa seseorang sampai pada tahap batiniah semacam ini output-nya jelas adalah juga menyentuh orang lainnya. Sebagai misal adalah ketika orang bersabar al-hasil ia akan cenderung toleran terhadap kepentingan orang lainnya yang sejalan dengan kepentingannya. Ketika orang tak dengki, di samping bahwa hatinya tak akan sakit atau nyeseg, ia akan dengan sendirinya bersikap demokratis.

Di sinilah kemudian karyenak tyasing sasama sebagai dimensi sosial puasa menemukan keterkaitannya—tentu apabila puasanya itu mampu menjangkau wilayah yang oleh al-Ghazali dirincikan sebagai wilayah khawas. Toleransi dan demokratisasi akan dengan sendirinya tumbuh ketika orang tak melulu mampu menahan haus, lapar, dan syahwat, namun secara ideal juga marah, tamak, dengki dan ganjen (kemayu ataupun mbagusi), dst.

Dengan demikian, dapat dimengerti di sini mengapa para sufi seperti al-Ghazali perlu memerikan tahapan-tahapan puasa atau ibadah-ibadah lainnya yang bagi sebagian orang berkecenderungan “masturbasif” atau radikal, barangkali, adalah sebentuk bid’ah atau hal yang diada-adakan.

Facebook Comments