Syawal Bulan Silaturahmi; Mengikis Kebencian, Menumbuhkan Solidaritas Kebangsaan

Syawal Bulan Silaturahmi; Mengikis Kebencian, Menumbuhkan Solidaritas Kebangsaan

- in Suara Kita
168
0
Syawal Bulan Silaturahmi; Mengikis Kebencian, Menumbuhkan Solidaritas Kebangsaan

Secara etimologis, kata “syawal” dalam Bahasa Arab bermakna peningkatan. Dalam lingkup spesifik, makna peningkatan di sini merujuk pada konteks peribadatan dan amal baik. Artinya, bulan syawal dimaknai sebagai bulan dimana umat Islam hendaknya meningkatkan amal dan ibadahnya pasca menjalani puasa Ramadan. Maka, salah satu amalan penting bulan Syawal ialah menjalani puasa Sunnah enam hari yang diklaim memiliki banyak keutamaan.

Sedangkan dalam lingkup yang lebih luas, makna bulan syawal sebagai peningkatan kiranya juga bisa dimaknai sebagai komitmen untuk menaikkan kualitas diri sekaligus kualitas sosial. Dalam pemaknaan inilah, bulan Syawal menjadi identik sebagai bulan penyucian jiwa agar kembali pada fitrah kemanusiannya sekaligus menjadi momentum untuk mempererat ukhuwah serta silaturahmi.

Dalam kultur Nusantara, Idul Fitri atau bulan Syawal lekat dengan sejumlah tradisi yang bernuansa kearifan lokal, seperti mudik, halal bi halal, dan silaturahmi. Syawal menjadi semacam festival silaturahmi antar-keluarga, tetangga, sanak-saudaraa, kerabat, handai-taulan, dan siapa saja yang memiliki koneksi sosial.

Mudik sebagai tradisi kolosal tahunan masyarakat Indonesia tidak hanya sekadar bermakna kembali ke kampong halaman. Lebih dari itu, mudik ialah representasi simbolik dari karakter manusia Indonesia yang selalu ingkat akan akarnya. Mudik pada dasarnya ialah perjalanan spiritual untuk kembali menemukan jatidiri kemanusiaan.

Demikian pula, tradisi halal bi halal dan silaturahmi yang rutin digelar saban bulan Syawal kiranya juga bukan sekadar seremoni artifisial. Praktik saling memberi maaf secara tulus dan tanpa syarat yang menadi inti prosesi halal bi halal dan silatuhami lebaran merupakan sebuah mekanisme rekonsiliasi sosial yang paling ampuh. Di suasana lebaran, semua individu dengan kesadaran penuh meminta maaf sekaligus memberi maaf atas kesalahan-kesalahan masa lalu.

Lebaran dan Habitus Solidaritas Kebangsaan

Dengan kalimat lain, kita bisa mengatakan bahwa halal bi halal dan silaturahmi lebaran yang menjadi tradisi bulan syawal bisa menjadi sarana efektif untuk mengikis kebencian sekaligus membangun solidaritas kebangsaan. Virus kebencian yang merajelela belakangan ini harus diakui telah merusak tatanan sosial-keagamaan yang susah payah kita bangun selama ini. Infiltrasi nalar kebencian telah melatari maraknya perpecahan, provokasi, dan permusuhan. Alhasil, bangunan kebangsaan pun perlahan rapuh dari dalam.

Kondisi itu tentu berbahaya terutama dalam konteks Indonesia yang dikenal multireliji dan multikultur. Di tengah masyarakat yang plural, virus kebencian bisa menjadi embrio pecahnya konflik horisontal. Sebelum itu terjadi, urgen kiranya membangun kembali relasi kebangsaan yang berbasis pada solidaritas sosial. Tradisi halal bi halal dan silaturahmi lebaran dalam konteks ini idealnya tidak hanya berhenti sekadar sebagai sebuah ritus tahunan. Lebih dari itu, tradisi halal bi halal dan silaturahmi lebaran idealnya bisa menjadi semacam habitus untuk membangun solidaritas kebangsaan.

Dengan terbangunnya solidaritas kebangsaan dan terkikisnya kebencian serta intoleransi, kita patut optimis membangun bangsa yang steril dari anasir radikalisme. Perilaku radikal seperti intoleran pada perbedaan dan kebencian pada pemerintah umumnya berakar pada buruknya relasi sosial yang menyebabkan munculnya kesalahpahaman dan ketidsaling-pengertian antarkelompok yang berbeda. Kondisi yang demikian ini membuat masing-masing kelompok hidup dalam zona nyamannya masing-masing. Inilah yang kerap disebut sebagai pola hidup ghetto minded. Yakni sebuah sikap menutup diri dari lingkungan sosial dan merasa nyaman hidup di cangkangnya tanpa merasa perlu mengenal keragaman sosial-budaya.

Pola pikir ghetto minded sangat tidak relevan dengan kondisi Indonesia yang multietnis, multireliji, dan multikultur. Di tengah keragaman agama, sosial, dan budaya, kita idealnya mengembangkan corak pemikiran yang bertumpu pada inklusivisme dan pluralisme. Yakni kehendak untuk mengakui keberadaan kelompok lain dan memposisikannya setara tanpa ada embel-embel dikotomi mayoritas-minoritas. Juga kehendak untuk menghormati (mutual respect) sekaligus mengenal (mutual understanding). Kehendak untuk saling menghormati dan saling mengenal itu akan menjadi modal utama mengikis nalar kebencian dan membangun solidaritas kebangsaan.

Facebook Comments