Syawalan Sebagai Kearifan Lokal dalam Mencegah Intoleransi dan Kebencian

Syawalan Sebagai Kearifan Lokal dalam Mencegah Intoleransi dan Kebencian

- in Suara Kita
161
0
Syawalan Sebagai Kearifan Lokal dalam Mencegah Intoleransi dan Kebencian

Bagi sebagian besar umat Islam Indonesia, khususnya masyarakat Jawa, bulan Syawal selalu identik dengan berbagai macam perayaan dan hajatan sosial. Bagi umat Islam di Jawa, Idul Fitri tidak hanya dirayakan pada hari pertama bulan Syawal saja. Melainkan dirayakan selama satu bulan penuh dengan berbagai macam acara dan kegiatan. Mulai dari silaturahmi, halal bi halal, hingga pengajian. Semua itu dikemas dalam satu tradisi yang kerap disebut sebagai “syawalan”.

Syawalan berasal dari kata syawal yang mendapat akhiran “an”. Secara terminologis, istilah syawalan merujuk pada semua jenis kegiatan yang bertujuan merayakan atau menyemarakkan bulan syawal. Ditinjaus secara sosio-kultural, tradisi syawalan yang mencakup silaturahmi, halal bi halal, pengajian, maupun kegiatan seperti kirab (parade), festival, dan sebagainya merupakan bentuk akulturasi antara ajaran Islam dan budaya Nusantara.

Dalam tinjauan budayawan Umar Khayam, tradisi syawalan bermula dari upaya ulama-ulama penyebar Islam dalam mengenalkan agama yang disebarkannya melalui pendekatan budaya. Dengan cara itulah, dimungkinkan agama Islam dapat disebarluaskan tanpa menimbulkan kebencian terhadap sesama dan ketegangan sosial.

Dalam perkembangan selanjutnya, syawalan telah menjadi semacam cultural DNA bagi masyarakat musliim Indonesia. Syawalan telah menjadi bagian tidak terpisahkan dari momen perayaan Idul Fitri. Tradisi silaturahmi, halal bi halal, ziarah kubur, pengajian lebaran, dan aktivitas kebudayaan di bulan syawal bisa dikatakan merupakan ekspresi kesalehan kultural masyarakat muslim Indonesia.

Dimensi Sosial Syawalan

Lebih lanjut, tradisi syawalan ini bukan hanya sekedar memberikan manfaat secara spiritual, maupun kultural. Lebih dari itu, tradisi syawalan dapat memberikan manfaat secara sosial. Antara lain ialah terhindarnya umat dari virus intoleransi dan kebencian. Di satu sisi, tradisi syawalan yang intinya ialah bertemunya umat Islam dalam satu tempat dan waktu untuk saling bermaaf-maafan merupakan sarana terapi psikologis dalam pergaulan sosial.

Seperti kita tahu, hari ini kita hidup di era yang penuh kompetisi dan kepentingan. Nyaris semua manusia bertindak egois, pragmatistik, dan individualistik lantaran memperjuangkan kepentingannya masing-masing. Hal ini tidak jarang membuat manusia terjebak dalam konflik kepentingan. Maka dari itu, syawalan yang penuh dengan nilai kebaikan kiranya bisa menjadi semacam terapi kemanusiaan.

Di sisi lain, syawalan kiranya juga merupakan ikhtiar untuk senantiasa menjaga spirit Ramadan yang anti-kebencian dan kekerasan. Prosesi syawalan yang bersifat kolektif dan komunal memungkinkan setiap individu untuk menyadari keberadaan orang lain secara utuh. Kesadaran akan eksistensi orang lain ini penting untuk menumbuhkan sikap toleran dan menghargai sesama manusia.

Prosesi syawalan, apa pun bentuknya entah itu silaturahmi, halal bi halal, pengajian, ziarah kubur, maupun festival Idul Fitri menggambarkan bagaimana sesungguhnya manusia itu setara. Tidak ada pembeda dalam konteks status sosial-ekonomi, identitas kultural, dan sejenisnya. Si kaya meminta maaf kepada si miskin dengan tulus tanpa pretensi ialah pemandangan umum dalam tradisi Syawalan. Seorang pejabat duduk setara dengan rakyat juga hal lumrah pada momen syawalan.

Syawalan Mencegah Ideologi Kebencian

Ringkas kaya, syawalan kiranya bisa menjadi salah satu kearifan lokal yang berguna untuk mencegah ideologi kebencian dan intoleransi. Kebencian dan intoleransi seringkali dilatari oleh kondisi masyarakat yang segregatif. Yaitu ketika masyarakat hidup dalam cangkangnya masing-masing dan nihil komunikasi dan interaksi dengan kelompok lain. Alhasil, masyarakat menjadi mudah curiga satu sama lain dan rawan diprovokasi dari luar.

Kondisi masyarakat yang demikian itu ibarat rumput kering yang mudah sekali terbakar hanya karena percikan bara api kecil. Di tengah masyarakat yang segregatif, konflik sosial bisa muncul kapan saja akibat provokasi dari luar. Rapuhnya relasi sosial antar-kelompok kerap menjadi celah bagi kekuatan asing (eksternal) untuk menghancurkan masyarakat dari dalam. Kondisi inilah yang saat ini kita hadapi.

Adanya segregasi sosial dan polarisasi politik membuka celah bagi masuknya ideologi dan gerakan yang berwatak intoleran dan anti-kemajemukan. Akibatnya, umat Islam begitu mudah tercerai-berai hanya karena perbedaan mazhab, aliran fiqih, bahkan perbedaan pilihan politik.  Jika dibiarkan, maka ancaman konflik yang lebih besar akan lebih nyata.

Di titik inilah, tradisi Syawalan menjadi sangat relevan bagi kondisi umat Islam di Indonesia. Tradisi syawalan memungkinkan masyarakat bertemu, berinteraksi dan mengenal kelompok lain. Dari sinilah diharapkan muncul kesadaran untuk menjaga solidaritas kebangsaan. Maka, tradisi syawalan harus terus dilestarikan sebagai bagian dari ekspresi kesalehan kultural sekaligus kearifan lokal untuk menggerus virus intoleransi dan kebencian.

Facebook Comments