Tafsir al Qur’an Tentang Masjid yang Disalahgunakan

Tafsir al Qur’an Tentang Masjid yang Disalahgunakan

- in Suara Kita
240
0
Tafsir al Qur'an Tentang Masjid yang Disalahgunakan

Kalau “rumah Tuhan” dikhianati lalu agama apa yang dianut para pengkhianat? Masjid adalah tempat suci dan sakral. Tempat ibadah, tempat belajar dan tempat mengenal agama sekaligus mengenal Tuhan.

Pengkhianatan terhadap fungsi masjid menjadi fenomena biasa di tanah air. Kondisi mutakhir di Indonesia mempertontonkan sekelompok orang yang mengaku muslim melakukan perbuatan tidak terhormat. Mereka menyulap masjid menjadi sarang radikalisme.

Fenomena ini mengingatkan kita pada sebuah film dokumenter Among The Believers. Film ini sangat relevan dengan kondisi kekinian di Indonesia. Kisahnya tentang Lal Mosque atau Masjid Merah di kota Islamabad, Pakistan yang menjadi sumber radikalisme dan terorisme. Masjid dipakai untuk melakukan kegiatan doktrinasi radikalisme.

Maknanya, fenomena rumah Tuhan disulap menjadi pusat kegiatan menyemaikan benih-benih terorisme sudah terjadi sejak lama, bukan fenomena anyar. Sejak dulu telah ada. Bahkan, diinformasikan dalam al Qur’an.

Kisah al Qur’an Tentang Masjid Radikal

Allah berfirman: “Dan (diantara orang-orang munafik itu) ada orang-orang yang mendirikan masjid untuk menimbulkan kemudharatan (pada orang-orang mukmin), untuk kekafiran dan untuk memecah belah antara orang-orang mukmin serta menunggu kedatangan orang-orang yang telah memerangi Allah dan Rasul-Nya sejak dahulu. Mereka sesungguhnya bersumpah: “Kami tidak menghendaki selain kebaikan”. Dan Allah menjadi saksi bahwa sesungguhnya mereka itu adalah pendusta (dalam sumpahnya)”. (QS. al Taubah:107)

Imam al Baghawi dalam kitab tafsirnya, masyhur dengan sebutan Tafsir al Baghawi menafsirkan ayat ini. Penuzulan ayat ini sebagai respon terhadap orang-orang munafik yang mendirikan masjid. Namun, tujuan mereka mendirikan masjid bukan untuk kemaslahatan umat Islam; untuk ibadah dan transformasi keilmuan agama yang benar. Tujuan mereka adalah untuk menggoyahkan Masjid Quba’.

Mereka mendirikan masjid untuk memprovokasi, membuat suasana tidak jelas dan menciptakan konflik antar umat Islam. Mendesain gesekan-gesekan antar umat Islam sehingga memicu konflik dan perpecahan.

Lebih lanjut al Baghawi menjelaskan, tujuan pembangunan masjid tersebut supaya sebagian umat Islam shalat disitu dan sebagian yang lain shalat di Masjid Quba’. Pada akhirnya nanti dua kubu masjid tersebut memicu perselisihan, kemudian mereka akan saling serang.

Al Qurthubi dalam tafsirnya menulis beberapa riwayat tentang sikap Nabi terkait masjid tersebut. Diantaranya adalah riwayat dari Ibnu Humaid dari Salamah dan Ibnu Ishaq dari Zuhri, Yazid bin Rauman, Abdillah bin Abi Bakr, Ashim bin Umar bin Qatadah, mereka berkata: ketika Nabi berangkat ke Tabuk beliau berencana untuk istirahat di Dzi ‘Awan. Para jamaah Masjid Dhirar datang untuk menemui Nabi. Mereka berkata: Wahai Nabi, kami telah membangun masjid untuk menampung orang-orang sakit, mereka yang sedang memiliki hajat (kebutuhan), yang kehujanan dan kemalaman.

Mereka meminta kepada Nabi untuk berkenan shalat di Masjid Dhirar. Namun beliau menolak secara halus. Nabi akan shalat di Masjid mereka pada suatu saat nanti, tapi beliau tidak berjanji. Sebab Nabi beserta rombongan telah melewati separuh perjalanan menuju Tabuk.

Ketika Nabi sampai di Dzi ‘Awan malaikat Jibril menyampaikan wahyu terkait masjid tersebut. Mendengar wahyu tersebut beliau kemudian memerintahkan Malik bin Dukhsyum dan Ma’na bin ‘Adi untuk berangkat menuju lokasi masjid. Namun, tugas mereka berdua bukan untuk shalat di masjid tersebut, tapi untuk merobohkan dan membakar masjid tersebut.

Masjid yang dibakar itu, dikenal dengan Masjid Dhirar. Dhirar adalah julukan yang berarti mudharat. Artinya, Masjid Dhirar adalah masjid yang membawa mudharat, karena itu harus dirobohkan.

Dengan demikian, fenomena masjid yang diselewengkan fungsinya telah terjadi sejak masa Nabi. Kelompok yang berlindung dan menggunakan simbol agama untuk suatu kepentingan telah merebak sejak dulu.

Kalau hari ini kita melihat fenomena yang sama, maka menjadi tugas kita bersama untuk menindak dan meminimalisir orang-orang seperti mereka. Bukan bentuk Islamofobia kalau kita bertindak untuk mensterilkan masjid dari kaum radikal. Hal itu, justru untuk melawan Islamofobia itu sendiri.

Facebook Comments