Tafsir Surat al Muntahanah 8-9 : Menguji Kesahihan dalil al Wala’ wal Bara’

Tafsir Surat al Muntahanah 8-9 : Menguji Kesahihan dalil al Wala’ wal Bara’

- in Keagamaan
176
0
Tafsir Surat al Muntahanah 8-9 : Menguji Kesahihan dalil al Wala' wal Bara'

Doktrin al wala’ wal bara’ sepertinya sengaja dihembuskan oleh kelompok radikal untuk menghipnotis pola pikir umat Islam untuk digiring pada pola keberagamaan ekslusif, reduktif dan parsial. Doktrin ini diramu menjadi konsep teologis dengan dalih terdapat dalil dalam al Qur’an. Dalih mereka, “Al Qur’an-nya bilang seperti itu, kita harus taati”.

Islam diajarkan dalam narasi kebencian dan permusuhan melalui al wala’ wal bara’, doktrin teologis yang menanamkan kebencian atas nama loyalitas. Hanya berteman, bersaudara dan bergaul dengan yang seagama saja (wala’) dan membenci serta memusuhi orang lain/kelompok yang beda agama (bara’).

Menurut kelompok radikal, doktrin ini memiliki kekuatan hujjah karena merupakan hasil ijtihad yang bersumber dari ayat-ayat al Qur’an. Apa memang benar doktrin al wala’ wal bara’ merupakan perintah al Qur’an? Tafsir surat al Muntahanah (60): 8-9), sebagai jawabannya.

Persoalannya adalah mereka selalu memotong ayat dengan tidak memahami secara komrpehensif. Mereka selalu memakai ayat 9 Muntahanah dan melupakan ayat 8 Muntahanah. Mari kita pahami secara utuh berserta konteks yang melatarinya.

Tidak Ada Larangan Bersahabat dengan Non Muslim

“Allah tidak melarang kamu berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangimu dalam urusan agama dan tidak mengusir kamu dari kampung halamanmu. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil”. (Al Muntahanah (60): 8).

Imam Syamsuddin al Qurthubi dalam tafsirnya Al Jami’ li Ahkamil Qur’an mengutip beberapa pendapat ulama mengurai setting sejarah ayat di atas. Ayat ini berkisah tentang ibu dan anak beda agama. Adalah Qatilah, janda Abu Bakar al Shiddiq yang ditalak sejak masa jahiliah, hendak mendatangi putrinya, Asma’ binti Abu Bakar. Sang ibu mengunjungi putrinya untuk memberikan anting dan barang-barang lainnya.

Tetapi yang terjadi sungguh tidak diduga. Bukan sambutan hangat seorang anak bertemu ibunya. Asma’ yang saat itu telah memeluk agama Islam menolak secara kasar hadiah ibunya, bahkan menyuruh ibunya keluar dari rumahnya dengan alasan, umat Islam tidak boleh membina kerukunan dan pergaulan baik dengan non muslim.

Qatilah kemudian mengadukan hal tersebut kepada Rasulullah. Ia menyampaikan kekecewaannya. Anaknya sendiri telah menolak kehadirannya karena alasan perbedaan agama. Kemudian turunlah ayat di atas.

Fakhruddin al Razi dalam Tafsir Mafatihul Ghaib mengatakan, ayat ini menjadi dasar moderasi beragama, sekaligus larangan terhadap intimidasi teologis, apalagi kekerasan teologis kepada yang berbeda keyakinan.  Ayat ini mengajarkan suatu nilai; Islam itu selamat, damai, membahagiakan, menjaga kerukunan dan kedamaian terhadap siapapun tanpa sekat agama.

Dalam ayat ini ada anjuran untuk berbuat baik kepada penganut agama lain. Berinteraksi dengan non muslim dan membina keharmonisan dengan mereka.

Praktik interaksi muslim-non muslim yang dimaksud adalah bersikap adil, berinteraksi dengan baik, tidak menggangu dan saling tolong menolong. Non muslim bukan musuh yang harus dibenci, dimusuhi dan diisolir dari pergaulan umat Islam. Lebih dalam lagi, Fakhruddin al Razi menjelaskan, Islam mengajarkan umatnya untuk mengedepankan sikap toleransi, berteman dan bersahabat dengan non muslim secara sopan, adil dan bijaksana.

Pendapat senada disampaikan Syaikh Abu Abdillah bin Abdurrahman al Sa’di dalam tafsirnya Alqawa’idul Hissan fi Tafsiril Qur’an. Ada banyak alasan untuk melakukan kebaikan, sekalipun kepada non muslim. Misalnya, bergaul dengan dasar kesopanan, berbuat baik karena ada hubungan kerabat atau karena faktor bertetangga. Andaipun semua itu tidak ada, minimal atas dasar hubungan kemanusiaan.

Spirit ayat di atas, agama melarang tindakan-tindakan manusia yang bertentangan dengan kemanusiaan atas nama agama. Maka, al wala’ wal bara’ adalah perilaku yang bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan atas nama agama.

Kapan Dilarang Berteman dengan Non Muslim?

Larangan umat Islam bergaul dan berteman dengan non muslim apabila non muslim menyerang/memerangi umat Islam atau membantu kelompok-kelompok yang menyerang umat Islam.

“Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan mereka sebagai kawanmu orang-orang yang memerangi kamu dalam urusan agama dan mengusir kamu dari kampung halamanmu dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu. Barang siapa menjadikan mereka sebagai kawan, mereka itulah orang-orang yang zalim”. (Al Muntahanah (60): 9).

Dalam ayat ini ada dua catatan kapan muslim harus membenci dan tidak membangun persahabatan dengan non muslim. Pertama, apabila mereka memerangi umat Islam dalam urusan agama. Kedua, mengusir umat Islam dari tanah kelahiran.

Sampai di sini sangat jelas bahwa doktrin al wala’ wal bara’ bertentangan dengan dua ayat di atas. Doktrin ini dibuat oleh mereka yang miskin basis teks dan basis intelektual. Menempatkan ayat bukan pada tempat yang semestinya dan melakukan politisasi penafsiran.

Facebook Comments