Tahun 2022 Kerja Nyata yang Kolaboratif Wujudkan Toleransi

Tahun 2022 Kerja Nyata yang Kolaboratif Wujudkan Toleransi

- in Suara Kita
338
5
Tahun 2022 Kerja Nyata yang Kolaboratif Wujudkan Toleransi

Tahun 2021 telah kita lewati bersama dengan meninggalkan kenangan-kenangan yang begitu banyak, terkhusus suka dan duka dalam memperjuangkan nilai toleransi dalam setiap masyarakat Indonesia, karena perjuangan tersebut harus tetap dijunjung tinggi agar kehidupan masyarakat Indonesia tetap aman dan tentram. Pekerjaan Rumah (PR) mengenai toleransi yang kita tinggalkan di tahun 2021 harus tetap dikerjakan dengan baik di tahun 2022, di mana usaha-usaha nyata harus dilakukan secara massif dan teroganisir untuk memerang narasi-narasi negatif dengan kerja nyata yang kolaboratif.

Namun harus kita sadari bersama bahwa padah tahun 2021 Covid 19 masih berkeliaran sangat ganas dan itu mempengaruhi persebaran narasi-narasi negatif secara offline, tapi persebaran narasi-narasi negatif secara online tidak pernah surut, justru semakin massif dan tidak bisa dibendung. sehingga individu atau kelompok yang memberikan narasi-narasi intolerasi, teorisme, radikalisme dan narasi negatif lainnya semakin diminati, karena semasa pandemi banyak orang menggunakan dunia maya terkhusus media sosial.

Dalam pernyataan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Komisaris Jendral Boy Rafli Amar pada koran Kompas, Selasa (28/12/2021) menyatakan bahwa, BNPT memberikan perlakuan khusus bagi individu pelaku teror yang mengalami radikalisasi melalui dunia maya terkhusus media sosial yang berisikan narasi-narasi intoleransi, radikalisme, terorisme dan narasi negatif lainnya, sehingga individu tersebut menjadi sosok berbahaya yang bisa kapan saja melakukan aksi teror.

Mengambil kutipan kembali dari koran kompas sepanjang Januari hingga Desember 2021, lebih dari 600 situs atau akun yang berpotensi radikal telah diindentifikasi BNPT untuk kemudian dihapus (take down) melalui kerja sama dengan Kementerian Komunikasi dan Informatika. Situs yang dihapus itu berisi konten propaganda dengan rincian serangan (409), anti-Negara Kesatuan Republik Indonesia(147), anti-Pancasila (85), intoleransi (7), dan takfiri (2). Selain itu, juga terdapat konten mengenai pendanaan dan pelatihan terorisme.

Dalam hal ini artinya memang sangat massif dan terorganisirnya narasi-narasi negatif yang dilakukan oleh kelompok-kelompok radikal yang menentang adanya toleransi hingga membuat sebuah kegaduan dimasyarakat. Maka dari itu kita harus memiliki sebuah kerja nyata yang matang untuk membuat konten tandingan atau narasi alternatif yang bisa menenggelamkan konten negatif tersebut.

Namun sebelum beranjak ke pembuatan konten tandingan yang berisi toleransi, perdamaian dan cinta tanah air, tentu kita juga harus meningkatkan literasi digital, hal ini juga sangat penting untuk diketahui, literasi digital harus diajarkan mulai dari kelompok kecil seperti keluarga, lingkungan rumah, lingkungan sekolah/kampus dan lingkungan kerja. Di mana literasi digital ini sebuah penyaringan konten-konten yang ada di media sosial agar masyarakat tidak mudah termakan narasi-narasi negatif.

Salah satu contoh nyata yang sudah pernah dilakukan adalah kegiatan peluncuran Modul Panduan Kontra-Narasi dan Narasi Alternatif Toleransi Perdamaian di Jakarta pada akhir tahum 2021 tepatnya hari Selasa (30/11/2021) yang dilakukan oleh Wahid Foundation dan BNPT. Tentu kerja nyata yang kolaboratif ini dilakukan untuk kesadaran masyarakat terhadap literasi mengenai toleransi dan menjaga perdamaian Indonesia, terkhusus literasi digital meningkat pesat. Lalu modul tersebut juga bisa dijadikan tolak ukur bagi siapapun individu, kelompok dan organisasi dalam memerangi narasi-narasi yang berbau intoleransi, terorisme, radikalisme dan narasi negatif lainnya yang bertebaran di masyarakat secara Online dan Offline.

Tentu ini merupakan kado terindah yang didapatkan pada akhir tahun 2021, kerja-kerja nyata yang dilakukan secara kolaborasi tentu harus ditingkatkan pada tahun 2022 karena jika tidak ada keperdulian dan kerja sama antar individu, kelompok dan organisasi maka akan sangat sayang sekali, apa lagi sudah memiliki sebuah pedoman dalam memerangi narasi-narasi negatif yang bertebaran di masyarakat. Jika hal ini terus menerus dilakukan maka sudah pasti sifat toleransi yang memberikan rasa perdamaian, aman, nyaman dan tentram bisa saja terelasisasikan sehingga konten-konten negatif secara sedikit demi sedikit teratasi dan lama kelamaan akan hilang dengan sendirinya.

Facebook Comments