Tahun 2022: Selamat Tinggal Intoleransi, Selamat Datang Toleransi!

Tahun 2022: Selamat Tinggal Intoleransi, Selamat Datang Toleransi!

- in Suara Kita
720
3
Tahun 2022: Selamat Tinggal Intoleransi, Selamat Datang Toleransi!

Menjelang tahun 2022 nanti, ada kepergian di tahun 2021 yang sebetulnya sangat tidak perlu kita kenang dalam ingatan. Yaitu sikap, pola-pikir dan tindakan kita yang intolerant. Dia adalah pelajaran bagi kita untuk tidak diingat, namun perlu disesali. Karena, kita perlu menyongsong tahun 2022 ini dengan praktik sosial yang toleran dalam segala hal dan banyak hal.

Untuk itu, kita perlu (membersihkan) tahun 2022 nanti dari segala sikap, pola-pikir dan tindakan yang intoleransi. Dengan mengatakan, selamat tinggal intoleransi, selamat datang toleransi. Karena, kepergian intoleransi dan kedatangan toleransi adalah keputusan yang baik. Sebab, kepergian intoleransi dan kedatangan toleransi akan membuat bangsa ini menjadi lebih aman, damai, nyaman dan penuh keharmonisan satu-sama lain.

Karena, ketika kita menengok ke belakang. Kita telah “mengotori” tahun 2021 ini dengan segala sikap, pola-pikir dan tindakan yang penuh intolerant. Sebagaimana kita lihat, ada begitu banyak fakta-fakta sosial yang menampakkan bahwa intoleransi begitu merajalela. Baik dari kasus perusakan Masjid, ujaran kebencian di sosial media atau-pun tindakan-tindakan yang memunculkan konflik berbasis sentiment keagamaan.

Semua fakta yang semacam itu jangan kita jadikan ingatan yang membekas lalu kita kotori tahun 2022 dengan tindakan buruk yang sama. Sebab, di tahun 2022 nanti, kita perlu membangun konsep sosial yang tolerant. Kita perlu menyatakan selamat datang terhadap toleransi. Lalu kita mengatakan dengan tegas, selamat tinggal intoleransi.

Karena, kita sadari betul. Sikap, pola-pikir dan tindakan yang intolerant itu sejatinya tidak pernah membuat kehidupan kita senang, gembira atau bahkan kita tidak bisa menikmati kehidupan ini. Karena, secara psikologis, kita dilumuri oleh kebencian, kebencian dan terus kebencian. Sehingga, yang muncul akhirnya kegundahan diri. Di mana, secara psikologis, kita selalu merasa tidak pernah tenang dan bahkan selalu penuh dengan amarah.

Sebab, yang ada di dalam pikirkan kita adalah kebencian, keburukan, permusuhan dan kejahatan-kejahatan yang sebetulnya akan berdampak buruk terhadap diri kita sendiri. Jadi, sikap intoleransi itu sebetulnya tidak hanya merugikan orang lain. Melainkan juga akan mengakibatkan kehidupan kita sendiri menjadi tidak pernah bahagia. Karena dipenuhi dengan rasa permusuhan, kebencian dan selalu penuh dengan keburukan.

Tetapi, ketika kita selalu menanam toleransi, niscaya hidup kita akan benar-benar tenang, nyaman dan akan merasakan betapa indahnya hidup rukun satu-sama lain. Karena, toleransi akan menghasilkan semacam cara berpikir yang lebih terbuka, lebih menerima dan penuh kebaikan. Artinya, secara psikologis kita mengisi diri kita dengan hal-hal yang positif.

Sebab, menjalani kehidupan sosial yang bisa saling menghargai, saling terbuka, saling tolong-menolong dan penuh dengan keharmonisan itu tampaknya begitu indah. Tetapi mengapa masih begitu banyak yang tidak suka dengan pola kehidupan sosial yang semacam ini?

Padahal, agama begitu mengajarkan pentingnya toleransi. Karena secara fungsi dan substansi akan membawa dampak maslahat bagi tatanan sosial yang majemuk. Karena bisa terhindar dari konflik dan permusuhan. Pun, toleransi sejak dulu telah diamalkan oleh Nenek moyang kita (pahlawan bangsa). Karena, para pendahulu kita telah menjadikan toleransi sebagai prinsip hidup berbangsa.            

Maka, sebagaimana yang saya katakan di awal. Ada kepergian di tahun 2021 yang sebetulnya sangat tidak perlu kita kenang dalam ingatan. Yaitu sikap, pola-pikir dan tindakan kita yang intolerant. Dia adalah pelajaran bagi kita untuk tidak diingat, namun perlu disesali. Karena, kita perlu menyongsong tahun 2022 ini dengan mengatakan secara tegas. Selamat tinggal intoleransi, selamat datang toleransi.

Facebook Comments