Tahun Baru Islam; Momentum Hijrah Kebangsaan dari Kebencian dan Perpecahan

Tahun Baru Islam; Momentum Hijrah Kebangsaan dari Kebencian dan Perpecahan

- in Suara Kita
758
0
Tahun Baru Islam; Momentum Hijrah Kebangsaan dari Kebencian dan Perpecahan

Tahun baru Islam akan segera tiba. Tidak terasa, kita akan memasuki tahun baru 1444 Hijriah. Datangnya tahun baru selalu identik dengan dua kata, yakni refleksi dan resolusi. Refleksi dibutuhkan untuk mengetahui apa yang sudah dan belum tercapai di tahun lalu. Sedangkan resolusi diperlukan untuk mencanangkan rencana di masa depan.

Dalam tradisi Islam, hijrah identik dengan satu peristiwa besar, yakni hijrahnya Nabi Muhammad dari Mekkah ke Yastrib atau kelak disebut Madinah. Hijrah bukan semata peristiwa teologis, namun juga sosiologis, sekaligus juga politis. Secara teologis, peristiwa hijrah tidak lain merupakan perintah Allah. Jadi, kepindahan Nabi Muhammad dari Mekkah ke Madinah ialah dalam rangka menaati perintah Allah.

Secara sosiologis, hijrah merupakan sebuah migrasi alias perpindahan penduduk dari Mekkah ke Madinah yang melatari adanya semacam revolusi atau transformasi kebudayaan. Proses akulturasi dan asimilasi dua kelompok, yakni Muhajirin dan Anshar turut andil melahirkan corak kebudayaan baru yang belum pernah ada sebelumnya.

Sedangkan secara politik, hijrah menandai awal lahirnya bentuk tatanan kenegaraan dan kebangsaan baru yang dibangun oleh Rasulullah. Sejarah mencatat, periode hijrah Nabi di Madinah ialah titik awal munculnya gagasan kenegaraan dalam Islam. Di Madinah, Nabi Muhammad tidak hanya mendakwahkan Islam, namun juga membangun sistem sosial yang berbasis pada prinsip pluralism (kebinekaan) dan egalitarianism (kesetaraan). Konsep sosio-politik di Madinah inilah yang kelak menjadi prototipe negara Islam.

Memaknai Hijrah Secara Holistik

Sebagai peristiwa teologis, sosiologis, sekaligus politis, hijrah tentu memiliki makna yang penting bagi umat Islam, termasuk muslim di Indonesia. Terlebih dalam konteks keindonesiaan saat ini kita tengah menghadapi berbagai persoalan terkiat maraknya ujaran kebencian dan narasi perpecahan yang disebar di kanal-kanal media sosial. Maraknya narasi kebencian dan perpecahan di media sosial menandai masih belum dewasanya kita sebagai bangsa.

Cilakanya, sikap tidak dewasa itu tidak hanya terjadi di kalangan kelompok awam tidak terdidik. Seringkali, nalar kebencian dan permusuhan juga menghinggapi kelompok elite dan terpelajar. Kasus baru-baru ini dimana seorang tokoh publik ditetapkan jadi tersangka kasus pelanggaran UU ITE membuktikan bahwa kebencian dan permusuhan tidak dimonopoli oleh kelompok masyarakat bawah saja, namun juga menjadi sindrom di kalangan atas.

Pendek kata, kebencian bukanlah problem yang identik dengan kelas sosial tertentu, melainkan problem psikologis yang bisa menjangkiti siapa saja. Dalam tinjauan psikologis, kebencian biasanya muncul karena perasaan cemas dan takut terhadap seseorang atau satu hal tertentu. Individu yang hidup di dalam perasaan yang cemas, khawatir, dan takut terhadap sesuatu atau seseorang yang dipersepsikan sebagai ancaman atau musuh cenderung memiliki naluri untuk membenci.

Sebagai sebuah penyakit psikologis, kebencian tentu bisa disembuhkan dengan beragam metode. Salah satunya ialah dengan menjaga kesehatan mental tetap stabil. Caranya tentu dengan senantiasa berpikir positif (khusnudzan) dan selalu mengedepankan budaya tabayyun dalam menerima informasi yang belum jelas kebenarannya agar tidak berakhir menjadi fitnah. Momen perayaan tahun baru Islam ini kiranya bisa menjadi inspirasi bagi umat Islam untuk berhijrah dari pola pikir negatif (suudzan) ke pola pikir positif (khusnudzan) demi terjaganya stabilitas kesehatan mental dan terhindari dari nalar kebencian.

Hijrah dan Transformasi Kebangsaan

Dalam konteks yang lebih luas, tahun baru Islam kiranya bisa menjadi momentum hijrah kebangsaan yakni transformasi menuju tatanan sosial-politik yang bebas dari unsur permusuhan apalagi perpecahan. Dalam konteks kebangsaan, peristiwa hijrah yang dialami Rasulullah idealnya dipahami sebagai sebuah upaya menciptakan tatanan sosial, politik, dan agama yang stabil dan bebas dari kebencian, permusuhan, dan kekerasan.

Perpindahan Rasulullah dari Mekkah ke Madinah dilatari oleh tiga tujuan pokok. Yakni menyelamatkan akidah Islam dari ancaman kaum kafir Quraisy, memenuhi undangan masyarakat Yatsrib untuk mendamaikan suku yang bertikai dan membangun masyarakat Islam yang beradab (civilized). Dan, sejarah mencatat Nabi Muhammad sebagai sosok yang berhasil membangun peradaban masyarakat madani yang anti-sektarianisme.

Di dalam leksikon Bahasa Arab, makna “hijrah” itu tidak hanya berpindah, namun juga memutuskan hubungan dengan pihak lain atau meninggalkan pekerjaan tertentu. Dalam tafsiran yang lebih luas dan relevan dengan kondisi Indonesia saat ini, hijrah kiranya bisa dimaknai sebagai upaya meninggalkan sifat buruk yang berkonotasi destruktif menuju sifat positif yang berorientasi konstruktif.

Momentum tahun baru Islam ini hendaknya dijadikan sebagai titik awal kebangkitan umat Islam di Indonesia. Yakni bangkit dari tidur panjang kejumudan akibat provokasi dan adu-domba yang selama ini menjebak kita dalam perseteruan nyaris tanpa ujung. Arkian, selamat Tahun Baru Hijriah 1444; mari berhijrah dari segala kebencian dan permusuhan menuju tatanan sosial-keagamaan yang mempersatukan.

Facebook Comments