Tahun Toleransi : Membangun Fondasi Sejak dalam Keluarga

Tahun Toleransi : Membangun Fondasi Sejak dalam Keluarga

- in Suara Kita
813
39
Tahun Toleransi : Membangun Fondasi Sejak dalam Keluarga

Sesunguhnya toleransi adalah karakter bangsa yang sejak lama menjadi ciri khas pergaulan interaksi sosial di nusantara. Sikap saling menghargai dan menghormati yang berbeda sudah menjadi langgam budaya masyarakat. Apapun latar belakang keyakinan dan status sosial, budaya saling membantu dan bekerjasama merupakan pemandangan yang biasa ditemukan di seluruh pelosok negeri ini. Sikap ramah terhadap yang berbeda pun menghiasi pemandangan harmoni negeri ini.

Namun, rasanya sikap itu mulai luntur akibat sikap yang merasa benar dan paling benar. Identitas primordial mulai ditonjolkan sebagai pembeda terhadap yang lain. Perhelatan kontestasi politik semakin memperlebar jurang dengan memanfaatkan politik identitas sebagai komoditas. Tak kalah dahsyatnya, infiltrasi ideologi trans nasional yang acapkali mudah menyalahkan, membid’ahkan dan bahkan mengkafirkan semakin marak di tengah masyarakat.

Masyarakat Indonesia kemudian secara pergaulan mulai tersegregasi dari pergaulan paling bawah hingga paling atas. Hal yang biasa dilakukan secara Bersama mulai digugat. Jangankan ingin membantu sesamanya yang berbeda, sekedar mengucapkan terhadap perayaan dan kegembiraan yang berbeda seolah menjadi hal yang tabu. Setiap tahun, misalnya, ucapan Natal laksana hukum yang selalu menjadi kontroversial. Kenapa persoalan ini menjadi sangat sensitif bagi bangsa Indonesia yang beragam?

Intoleransi mulai menjadi virus yang mematikan nalar beragama yang sehat. Virus ini begitu cepat menular dalam dua dekade terakhir dalam kehidupan berbangsa. Penyebarannya pun begitu massif dari level pendidikan hingga ruang sosial di media sosial. Sungguh pemandangan yang menyeramkan di negeri yang bhineka yang telah lama merawat toleransi. Bagaimana mengembalikan watak dan karakter toleransi bangs sini?

Toleransi dari Rumah

Sungguh merupakan ikhtiar besar untuk melakukan kampanye Bersama tahun toleransi. Namun, terpenting adalah merumuskan strategi menanamkan toleransi. Saya memilih menerapkan toleransi haruslah dilakukan sejak dini, dalam lingkup kecil. Toleransi sangat efektif ditanamkan pada anak di lingkungan keluarga.

Anak bisa di edukasi oleh orang tua dengan mengenalkan Pancasila, sila ketiga yang berbunyi “persatuan Indonesia” persatuan merupakan cita-cita, tujuan, dan harapan bangsa. Sikap ini mengajarkan kita untuk menerima segala perbedaan yang ada dan kita harus menjaga sikap toleransi ini agar tidak menimbulkan perselisihan dan perpecahan.

Penanaman sikap toleransi yang dimulai dari rumah akan dapat menimbulkan kesadaran untuk menghargai setiap perbedaan yang ada. Dalam menerapkan sikap toleransi dalam keluarga, orang tua dapat mengajarkan beberapa hal, seperti hal paling kecil:

Saling Membantu dan Bekerjasama dalam pekerjaan rumah tangga

Anak-anak harus diberikan pemahaman bahwa nilai dasar pertama yang penting adalah berbakti kepada orang tua. Membekali pemikiran kepada anak bahwa pekerjaan di dalam rumah harus dilakukan Bersama-sama. Pekerjaan rumah juga akan mampu mendorong kemandirian pada diri sang anak, dengan ia menyelesaikan pekerjaannya akan terlihat kepuasan dari wajah mereka. Menyelesaikan pekerjaan rumah tepat waktu dan dengan cara yang benar, membuat anak merasa ia telah melakukan pencapaian. Dan jangan lupa memberikan sanjungan atas pencapaian anak.

Menghargai perbedaan dalam anggota keluarga

Setiap anggota keluarga pasti memiliki pendapat atau cara pandang yang berbeda dalam menyikapi suatu hal. Orang tau perlu memberikan pengetahuan bahwa berbeda pendapat itu merupakan sesuatu hal yang wajar dan tidak akan bisa di hindari. Perbedaan justru harus disikapi secara bijaksana dengan cara musyawarah dan mencari penyelesaian terbaik.

Pelajaran memahami perbedaan juga penting dilakukan orang tua kepada anak-anak untuk selalu mengajak pada tempat-tempat yang memiliki tingkat perbedaan yang tinggi. Anak-anak sejak awal harus dikenalkan bahwa perbedaan itu sunnatullah dan kodrat manusiawi. Tidak bisa hidup tanpa perbedaan, tetapi belajarlah menghargai perbedaan.

Mengembangkan etika sopan santun dalam berbicara

Perilaku suka meniru amat melekat pada anak-anak. Karena itulah orang tua harus mampu membimbing dan memberikan mereka contoh secara langsung supaya anak dapat menirukan apa yang dilakukan orang tuanya. Namun, anak mencontoh bukan hanya dari apa yang dilihat atau didengar hanya dari orang tuanya saja, namun juga dari lingkungannya, apalagi di era gadged seperti sekarang ini.

Anak begitu mudah mengakses social media seseorang dan melihat tindakan yang bahkan kurang pantas. Begitu mereka melihat sesuatu yang baru, maka mereka akan dengan cepat mengadopsi perilaku tersebut termasuk kata kasar dan jorok. Jika melihat perubahan anak orang tua wajib mensterilkan lingkungan sang anak, tidak marah secara berlebihan atau mengeluarkan kata tidak pantas ataupun membentak karena itu sama saja orang tua memberikan pelajaran kurang baik pada anak, memberitahukan apa yang diucapkan merupakan suatu hal yang tidak pantas.

Menumbuhkan simpati dan empati

Penting sekali bagi orang tua untuk tidak menjadikan anak menjadi ekslusif dan senang menyendiri. Perilaku demikian akan mendorong sikap yang antipati terhadap lingkungan sosial. Anak harus didorong memahami pengalaman orang lain yang berbeda sehingga menimbulkan simpati dan empati.

Membiasakan anak untuk melakukan tindakan kerelawanan dan membantu yang membutuhkan adalah salah satu cara efektif agar tumbuh dalam diri anak sikap yang mudah menolong orang lain tanpa melihat latarbelakang perbedaan yang dimiliki. Anak harus dikenalkan bahwa persaudaraan itu universal tidak mengenal batas. Dan menolong sesama manusia adalah bagian tugas penting sebagai manusia.

Facebook Comments