Tanggung Jawab Penceramah secara Spiritual dan Moral-Kebangsaan

Tanggung Jawab Penceramah secara Spiritual dan Moral-Kebangsaan

- in Suara Kita
182
0
Tanggung Jawab Penceramah secara Spiritual dan Moral-Kebangsaan

Saya mengamini betul. Bahwa, setiap yang berkaitan dengan perjalanan spiritualitas umat itu, pasti membutuhkan yang namanya ketenangan, kenyamanan dan kedamaian diri. Maka, jangan sekali-kali mudah mengikuti mereka (oknum penceramah) yang membawa alasan demi menjaga spiritualitas-keimanan umat, tetapi berbuat kegaduhan terhadap tatanan negeri ini.

Cobalah kita pahami. Mengapa Nabi Muhammad SAW lebih dahulu memperbaiki tatanan moral-sosial kemanusiaan, sebelum berdakwah mengajarkan agama-Nya terhadap umat manusia? Karena, kalau kita amati, ini tidak lain perihal cara Nabi Muhammad SAW untuk memperkokoh tatanan sosial umat manusia agar tidak terjadi kekacauan dan pertumpahan darah. Sehingga, penanaman spiritualitas keimanan dan ketakwaan bisa terbangun dengan baik.

Maka, perilaku Nabi yang semacam ini, seharusnya menjadi satu bukti penting. Bahwa, tanggung jawab seorang pembawa agama/penceramah itu sejatinya tidak hanya berhenti terhadap ranah spiritualitas-keimanan saja. Akan tetapi, juga memiliki rasa tanggung-jawab secara moral-kebangsaan. Agar, tatanan sosial-nya bisa tetap menjaga keharmonisan, kebersamaan dan perdamaian. Agar terhindar dari konflik dan permusuhan.

Karena, tatanan sosial yang aman, damai dan nyaman itu adalah kunci di balik terbentuknya spiritualitas umat yang mapan. Pun, sebaliknya. Tatanan sosial yang penuh dengan konflik, peperangan dan kebencian adalah kunci terbengkalai-nya spiritualitas umat itu sendiri. Karena, antara spiritualitas dan moralitas kebangsaan itu seperti wadah dan isi. Di mana, spiritualitas umat akan terwadahi dengan baik ketika (tatanan sosial) atau moral kebangsaan itu berada dalam siklus yang aman, damai dan nyaman.

;Sebagaimana dalam konteks penceramah, sejatinya tidak hanya tentang spiritualitas atau iman. Sebab, segala yang berjkaitan dengan kehidupan umat dan kondisi sosial-umat juga merupakan (tanggung-jawab) seorang penceramah. Karena, dua dimensi demikian merupakan (keharusan) bagi seorang penceramah yang tidak boleh berat-sebelah atau-pun ditinggalkan salah-satunya.

Cobalah lihat sejarah perjuangan Nabi Muhammad SAW itu. Hal yang dilakukan pertama kali bukan berbicara tentang tauhid, keesaan Tuhan atau-pun tentang prinsip-prinsip syariat agama-Nya. Sebab, yang dilakukan pertama kali adalah memperbaiki moral-kebangsaan. Di mana, umat manusia dibimbing agar bisa memiliki etika yang baik, tahu baik dan buruknya perilaku dan diajarkan bagaimana cara mencintai tanah airnya terlebih-dahulu.

Karena, hal-hal yang semacam itu adalah fondasi yang harus kokoh. Sebelum umat diajarkan bagaimana kebenaran agama atau puncak pencapaian spiritualitas keimanan dan ketakwaan kepada-Nya itu. Bahkan, di saat Nabi Muhammad SAW membangun kota Madinah yang begitu gemilang, hal yang paling menjadi titik tekan agar umat manusia bisa mapan secara spiritual adalah dengan menjaga dan merawat tatanan agar terhindar dari konflik, permusuhan dan pertumpahan darah.

Sebab, tidak ada yang namanya perjalanan spiritualitas yang mapan itu lahir di tengah-tengah konflik, kekacauan atau-pun kondisi sosial yang dipenuhi dengan peperangan. Bahkan, di negara-negara konflik yang kita ketahui, mereka tidak lain selain mengharapkan hidup nyaman dan beribadah dengan tenang. Karena, segala yang berkaitan dengan keamanan, kenyamanan dan kedamaian hidup agar tidak terjadi kekacauan itu adalah kunci terbentuknya spiritualitas itu sendiri.

Maka, sekali lagi saya katakan bahwa, seorang penceramah itu memiliki dua tanggung jawaban sekaligus. Yaitu, menjaga spiritualitas umat agar siklus keimanan dan ketakwaan kepada-Nya tetap mapan. Selain itu, penceramah juga memiliki tanggung-jawab untuk menjaga moral-kebangsaan tetap terjaga dengan baik. Seperti sikap sosial agar terhindar dari permusuhan atau konflik.            

Sebagaimana, seorang penceramah mampu mendidik umat bisa memiliki kadar spiritualitas keimanan dan ketakwaan yang baik. Juga, bisa membangun tatanan sosial yang anti permusuhan, anti kebencian dan berada dalam siklus kedamaian. Sebab, menjaga moral-kebangsaan adalah cara menjaga tempat-tinggal kita semua agar tidak rusak. Serta, menjaga keimanan atau spiritualitas umat adalah jalan untuk menjaga hubungan antar umat dengan sang pencipta-Nya.

Facebook Comments