Terbentuk dan Terburainya Narasi Kebencian

Terbentuk dan Terburainya Narasi Kebencian

- in Suara Kita
164
0
Terbentuk dan Terburainya Narasi Kebencian

Nalar kebencian pada dasarnya adalah sebuah nalar yang beranjak bukan dari hal-hal yang besar. Ia kecil-kecil saja. Namun, pikiran dan pengetahuan manusia mampu membuatnya kelihatan besar dan bahkan seperti terlembagakan. Sangkuni dan Drona adalah beberapa tamsil tentang terbentuk dan terburainya nalar kebencian.

Sebermulanya Sangkuni adalah seorang yang patah hati karena Kunti, wanita idamannya, lebih memilih Prabu Pandu sebagai suaminya. Naluri patah hati ini pada akhirnya menyebabkan Sangkuni untuk menyingkirkan Prabu Pandu beserta anak keturunannya dari kerajaan Hastinapura. Dari hal ini, maka berawallah epos besar perang Bharatayudha yang lengkap dengan segala konflik turunannya: kebaikan vs. keburukan, elitisme vs. populisme, moral vs. politik, dst.

Dengan berkaca pada kisah pewayangan, ternyata nalar kebencian yang selama ini mendasari jagat perpolitikan Indonesia kontemporer bukanlah fenomena yang sama sekali baru. Agitasi, provokasi, perundungan, hoaks, ujaran kebencian, ternyata adalah fenomena-fenomena yang barangkali sudah setua usia manusia itu sendiri. Namun, dari kacamata budaya, kiranya orang perlu menelisik kembali kearifan-kearifan lokal warisan seperti wayang untuk menyikapinya. Sebab, perspektif hukum, dengan massifnya diseminasi narasi-narasi yang mengandung nalar kebencian itu seakan-akan hanya dapat memberikan efek sesaat belaka.

Drama perpolitikan Indonesia kontemporer, yang diperparah pula dengan nuansa agama, juga bukanlah fenomena yang terbilang baru. Kembali pada kisah pewayangan, ternyata Sangkuni tak bekerja sendirian. Drona, yang merupakan representasi agama dan agamawan, seolah melengkapi peran sekular Sangkuni untuk lebih tampak “tak bisa disalahkan”—untuk tak menyebutnya “suci.”

Keberadaan Drona sendiri rupanya juga beranjak dari nalar kebencian yang kecil-kecil saja. Di samping isterinya yang konon menjadi kuda tunggangan orang-orang dan anak semata wayangnya, Aswatama atau sang anak kuda, perasaan tak diakui sebagai saudara oleh Prabu Drupada di Pancala adalah faktor yang membentuk nalar kebencian sang rsi untuk menjual pengetahuan agamanya pada Kurawa yang dinilai buruk secara moral dan salah secara hukum.

Perpaduan antara Sangkuni dan Drona inilah yang kemudian seperti mampu menjelaskan bagaimana radikalisme keagamaan di Indonesia kontemporer selalu berkaitan dengan politik dan sebaliknya dinamika politik di Indonesia kontemporer selalu berkaitan dengan sentimen keagamaan.

Dengan demikian, kearifan wayang, dengan tamsil Sangkuni-Drona, kiranya  cukup memberikan gambar besar tentang jalannya jagat perpolitikan dan sosial Indonesia kontemporer yang disesaki dengan nalar kebencian. Politik dan agama di hari ini, ketika dibaca dengan bingkai Sangkuni-Drona, ternyata tak seluhur yang dikira.

Dengan kearifan semacam itulah orang kemudian perlu menyikapi keadaan yang sudah sesak oleh nalar kebencian. Paling tidak, orang tak perlu mempertaruhkan kembali anyaman keberagaman di Indonesia yang secara historis sudah tertata apik dengan tergiur oleh bujuk-rayu Sangkuni-Drona. Ketika hukum seolah tak mampu membuat jera, maka dengan budaya setidaknya nalar kebencian yang seakan terlembagakan tak akan menjadi sebuah pilihan. Sangkuni-Drona cukuplah menjadi tamsil atas rendahnya politik dan agama yang tak perlu diwariskan.

Wayang iku

Wewayangan kang satuhu

Lelakoning janma ing alam janaloka

Titenana wong cidra mangsa langgenga

Wayang itu

Adalah kaca benggala kehidupan

Perca cerita kehidupan manusia di dunia Saksikanlah bahwa pengkhianat tak akan lama

Facebook Comments