Teroris(me) Adalah Musuh Ulama, Umara, dan Umat

Teroris(me) Adalah Musuh Ulama, Umara, dan Umat

- in Suara Kita
1165
0
Teroris(me) Adalah Musuh Ulama, Umara, dan Umat

Isu terorisme kembali mencuat pasca ditangkapnya salah seorang anggota Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI), Zain An Najah. Zain dibekuk Densus 88 atas perannya sebagai Dewan Syuro Jamaah Islamiyyah. Pro-kontra publik pun tidak terelakkan. Kelompok simpatisan teroris yang bersekutu dengan golongan oposisi destruktif menuding pemerintah anti-Islam, Islamofobia, dan sengaja mengkriminalisasi ulama. Di saat yang sama, muncul respons reaktif masyarakat yang menuntut MUI dibubarkan saja.

Dua narasi tersebut menurut hemat penulis sama-sama tidak konstruktif dan kontra-produktif terhadap agenda utama pemerintah memerangi terorisme (war on terror). Narasi kriminalisasi ulama, islamofobia, bahkan anti-Islam jelas merupakan narasi yang absurd alias tidak masuk akal. Penangkapan Zain an Najah, lebih karena perannya sebagai pentolan JI, yang notabene merupakan organisasi teroris. Bukan karena sepakterjangnya sebagai tokoh agama, apalagi dalam kapasitasnya sebagai anggota Komisi Fatwa MUI.

Demikian pula, narasi pembubaran MUI dalam banyak hal juga tidak relevan. Sejauh ini, keterlibatan Zain an Najah dalam jaringan terorisme lebih bersifat pribadi dan bukan kelembagaan. MUI sendiri sudah mengambil sikap tegas untuk menonaktifkan Zain an Najah sebagai anggota MUI. Ini artinya, ada komitmen tegas dari MUI untuk mengamputasi anasir terorisme dari tubuhnya.

Wacana Konstruktif

Apa yang kita perlukan hari ini ialah diskursus atau wacana yang konstruktif. Kita semua perlu membangun kesadaran bahwa terorisme ialah musuh bersama antara umara (pemerintah), ulama, dan umat.

Bagi umara, terorisme mengancam stabilitas sosial-politik dan lebih dari itu menghadirkan ancaman bagi keutuhan bangsa dan negara. Terorisme pada dasarnya ialah gerakan politik yang dibalut dengan sentimen keagamaan. Agenda utama terorisme ialah merebut kekuasaan yang sah, dengan jalan kekerasan dan menebar teror. Kaum teroris berkeyakinan bahwa dengan menimbulkan ketakutan dan kekacauan sosial, mereka akan dengan mudah merebut kekuasaan.

Bagi ulama, teroris ialah bentuk penyelewengan ajaran agama yang fatal. Agama yang mengajarkan cinta-kasih dipakai sebagai alat untuk menjustifikasi tindakan kekerasan. Perilaku teroris pada dasarnya ialah penistaan agama yang paling fatal. Sakralitas agama dilecehkan sedemikian rupa untuk menyokong hasrat akan kekuasaan. Bagi ulama, terorisme ialah musuh ideologis yang mengancam sakralitas ajaran agama.

Sedangkan bagi umat, terorisme telah menghadirkan situasi kecemasan, ketakutan, dan ketidakpastian. Aksi teror keji, eksploitasi kekerasan, dan dramatisasi kebencian telah merusak tatanan kehidupan sosial yang harmonis. Terorisme ibarat virus yang menggerogoti ketahanan sosial dari dalam. Pelan, namun pasti, terorisme akan merusak ekosistem sosial yang menjadi modal penting kehidupan manusia.

Sinergi Bersama

Maka dari itu, kunci melawan terorisme ialah menciptakan sinergi yang kuat antara ulama, umara, dan umat. Langkah pertama yang harus ditempuh ialah kita perlu menyamakan persepsi antara ulama, umara, dan umat tentang ap aitu terorisme. Selama ini harus diakui masih ada beda persepsi dalam memahami terorisme. Secara definitif terorisme kiranya bisa kita pahami sebagai sebuah gerakan, paham, dan tindakan yang mengarah pada ekstremisme dan kekerasan yang mengancam keamanan publik dan ketahanan negara. Dengan definisi itu, segala paham dan gerakan kekerasan yang mengancam publik dan negara patut disebut sebagai terorisme.

Langkah selanjutnya ialah mengoptimalkan peran masing-masing entitas, baik itu umara, ulama, maupun umat. Umara memiliki peran sebagai penentu sekaligus pelaksana kebijakan. Dalam isu terorisme, umara atau pemerinta memiliki tugas dan wewenang untuk menyusun aturan atau undang-udang terkait terorisme dan memastikan aturan itu dilaksanakan. Di saat yang sama, umara juga memiliki wewenang untuk menggunakan kekuatan militer dan keamanannya untuk membasmi terorisme. Peran inilah yang kiranya harus dioptimalkan olah umara.

Sedangkan ulama, lebih berperan dari sisi keagamaan dan kebudayaan. Yakni memberikan pencerahan ke umat ihwal bagaimana beragama secara moderat, inklusif, dan toleran. Ulama harus mampu menjadi teladan bagi masyarakat, dalam kehidupan beragama dan bernegara. Ulama harus mampu menerjemahkan ajaran agama dari teks-teks suci ke dalam praktik keagamaan di masyarakat yang senantiasa menjunjung sikap welas asih terhadap sesama.

Terakhir, peran umat dalam mengatasi persoalan terorisme ialah dengan selalu memperkuat kewaspadaan dan kesiapsiagaan menghadapi infiltrasi paham/gerakan terorisme. Umat perlu mencerdaskan diri untuk mengidentifikasi sekaligus menolak paham radikal-ekstrem keagamaan yang menjadi cikal-bakal lahirnya terorisme. Terlebih di era sekarang, ketika wabah radikalisme banyak menyebar melalui kanal-kanal internet dan media sosial.

Facebook Comments