Tetap NKRI: Secara Dasar Negara Indonesia Sangat Bersyariah!

Tetap NKRI: Secara Dasar Negara Indonesia Sangat Bersyariah!

- in Suara Kita
147
0
Tetap NKRI: Secara Dasar Negara Indonesia Sangat Bersyariah!

74 tahun kemerdekaan bangsa Indonesia. Kemerdekaan yang diperoleh bangsa ini bukan dengan cuma-cuma. Para pendahulu bangsa ini telah berjuang sampai darah penghabisan. Warisan kemerdekaan Indonesia harus dijaga dan selalu dirawat dari rong-rongan pihak yang mau menyengsarakan. Mulai dari Presiden Ir. Soekarno sampai Presiden Ir. Joko Widodo telah berusaha membangun bangsa ini. Semua pihak harus mengisi, mensyukuri dan bekerjasama menyempurnakan kemerdekaan. Bangsa ini bisa unggul serta terbebas dari ajakan paham radikalisme kalau ekonominya mapan. Sebagai warga negara tidak usah meperdebatkan soal ke-syariah-an bentuk negara.

Bangsa Indonesia mendapatkan keistimewaan (kemerdekaaan) yaitu pada 9 Ramadhan 1364 Hijriyah. Wacana NKRI bersyariah itu telat! Kemerdekaan Indonesia tidak lepas dari perjuangan para pahlawan, Kiai, Santri dan masyarakat waktu itu. Walaupun secara kesepakatan peringatan Proklamasi di peringati 17 Agustus tahun Masehi. Orang yang berwacana membuat NKRI bersyariah bearti tidak paham Indonesia. Sedangkan secara dasar negara Indonesia memiliki UUD 1945, Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika yang sangat jelas bermuatan nilai-nilai yang sangat agamis.

Rakyat harus bangga terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan memiliki empat pilar yaitu; Pancasila, Bhineka Tunggal Ika, NKRI dan Undang-undang 1945. Empat pilar ini menjadi kelebihan bangsa Indonesia terhadap negara-negara lain. Tidak usah membandingkan Indonesia dengan negara yang sudah maju. Boleh membandingkan tapi jangan sampai mengurangi kebanggaan terhadap bangsa sendiri. Hilangnya kebanggaan, sama halnya hilangnya wujud syukur atas kemerdekaan yang pernah diberikan kepada Allah.

Semua itu sudah ada tuntutannya pada Al-Qur’an Surat Ibrahim ayat 7 yang artinya, “Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” Jadi cukup jelas semakin bangsa ini mensyukuri nikmat kemerdekaan, maka kesejahteraan, keadilan dan kedamaian Indonesia akan dipenuhi oleh Allah.

Baca Juga : Menjadi Muslim Kaffah, tidak Harus Bernegara Syariah

Mensyukuri yang ada dapat menimbulkan sikap qona’ah (rela dan menerima pemberian Allah). Peringatan untuk bersyukur termuat dalam hadist yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah bahwa Nabi Muhammad S.A.W bersabda yang artinya: “Lihatlah kepada orang yang lebih rendah dari kalian dan janganlah memandang kepada orang yang lebih tinggi dari kalian, sebab hal itu lebih baik agar kalian tidak menghina nikmat Allah.” Sangatlah jelas hadist ini untuk mengingatkan umat manusia agar selalu bersyukur.

Orang yang kehilangan rasa bersyukur maka akan kehilangan kenikmatan yang diberikan Allah. Bangsa Indonesia sudah diberi kenikmatan yang begitu besar yaitu kemerdekaan. Tinggal bagaimana bangsa ini mempertahankan, mengisi dan mensyukuri kemerdekaan ini. Para pejuang sudah berdarah-darah dalam waktu dua setengah abad berperang. Dua setengah abad dalam kondisi perang itu menyakitkan. Begitu menderita bangsa Indonesia dalam kekuasaan para penjajah, beliau harus merasakan; kelaparan, penindasan, siksaan dan pembunuhan. Nenek Moyang bangsa ini sudah berjuang luar biasa dalam mendirikan NKRI ini.

Ramadhan adalah saksi sejarah puncak kemerdekaan NKRI. Mulai pembentukan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) dibentuk satu hari sebelum malam satu Ramadhan waktu itu. Lalu satu Ramadhannya Jepang lumpuh setelah Kota Nagasima di bom oleh Sekutu. Keesokan harinya pada tanggal dua Ramadhan, Soekarno, Hatta dan Radjiman menemui Marsekal Terauchi di Vietnam untuk membicarakan kemerdekaan Indonesia. Pada tanggal 6 Ramadhan Jepang menyerah kepada sekutu.

Pada malam harinya sekitar pukul 22.00 tanggal 7 Ramadhan para pemuda yang dipimpin oleh Wikana mendatangi kediaman Soekarno untuk mendesak Proklamasi kemerdekaan dilakukan malam ini juga. Dini hari pada 8 Ramadhan Soekarno dan Hatta diculik ke Rengasdengklok. Selama masa persiapan menuju kemerdekaan,Bung Karno meminta rekomendasi dari beberapa Ulama.Tanggal 17 Agustus 1945 merupakan rekomendasi yang diberikan oleh KH. Abdoel Moekti dari Muhammadiyah. KH. Hasyim Asy’ari dari Nahdlatul Ulama memberikan kepastian kepada Bung Karno untuk tidak takut memproklamirkan kemerdekaan.

Penculikan berakhir ketika Mr. Achmad Soebardjo menjemput Soekarno dan Hatta untuk kembali ke Jakarta. Menurut Mr. Achmad Soebardjo, pukul 03.00 pada waktu sahur Ramadhan teks proklamasi didiktekan oleh Bung Hatta, dan di tulis oleh Bung Karno. Berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa proklamasi dilaksanakan pada hari Jum’at, 9 Ramadhan 1364 Hijriyah (17 Agustus 1945) pada Pukul 10 pagi di kediaman Bung Karno Jalan Pegansaan Timur 56 Jakarta.

Saat ini kita perlu merenungkan kembali makna proklamasi bagi Umat Islam. Rangkaian peristiwa luar biasa yang terjadi di bulan Ramadhan adalah fakta sejarah bahwa dasar NKRI sangatlah bersyariah. Teks proklamasi ditulis ketika melaksanakan sahur Ramadhan yang merupakan Sunnah Rasulullah. Kemudian dibacakan oleh Bung Karno yang sedang menjalankan ibadah puasa. Semua proses pembentukan dasar negara sampai pembacaan proklamasi sudah atas dasar kebenaran.

Semestinya 74 tahun kemerdekaan bangsa sudah cukup mengajarkan kita untuk tidak lagi bersantai-santai, menghabiskan umur bangsa dan energi secara sia-sia. Bangsa ini benar-benar menanti munculnya anak-anaknya dengan mental patriot sejati. Ajaran patriotisme perlu dipompakan kepada anak bangsa ini sejak usia dini demi munculnya para patriot dengan mental pejuang sejati. Tahun 2045 sudah berada di depan mata, musim bergulir kencang sekali, tak terasa tinggal waktu 26 tahun menuju satu abad kemerdekaan RI.

Facebook Comments