Tidak Ada Pelabelan “Kafir” di Nusantara!

Tidak Ada Pelabelan “Kafir” di Nusantara!

- in Suara Kita
185
0

Di Nusantara, sejak dulu tidak ada istilah atau pelabelan “kafir” terhadap mereka yang berbeda keyakinan. Semua adalah (saudara). Karena, perbedaan tidak pernah dijadikan alasan atau penghalang untuk hidup berdampingan dan merajut persatuan di tengah perbedaan itu.

 Misalnya, sejak dulu masyarakat Nusantara telah memiliki budaya (Titip Rumah). Di mana, ketika ada tetangga yang beragama Islam ingin pula kampung, seperti pada saat lebaran Idul Fitri. Maka, mereka yang beragama Kristen akan menjaga rumah mereka. Begitu juga sebaliknya, ketika perayaan Natal. Umat Islam akan menjaga rumah mereka yang beragama Kristen ketika sedang mengunjungi keluarga yang jauh misalnya.

Budaya ini telah bertahan sejak puluhan tahun di daerah Sulawesi Selatan, tepatnya di Desa Moncongloe Lappara di Kabupaten Maros. Hal ini menandakan satu bukti nyata, bahwa masyarakat Nusantara tidak pernah memberi batasan atau sekat sosial meskipun berbeda keyakinan. Bahkan, tidak ada istilah atau pelabelan “kafir” yang mengacu kepada musuh atau bukan saudara terhadap mereka yang berbeda keyakinan.

 Selain itu, ada tradisi/budaya yang disebut dengan (megibung) di Bali daerah Singaraja Buleleng. Hal ini sama persis dengan tradisi Jawa yang dinamakan (Bancakan). Tradisi ini merupakan strategi penting (Wali Songo) untuk menanamkan nilai keharmonisan dan toleransi antar umat beragama. Sebagai bukti bahwa Islam dan agama lain di Nusantara sudah terbangun secara harmonis tanpa saling menegasi dengan istilah kafir atau musuh.

 Di mana, umat Islam dan umat Hindu dikumpulkan menjadi satu. Dalam rangka, makan bersama dengan satu wadah yang begitu besar. Artinya apa? ini merupakan bukti kuat kental-nya kebersamaan dan keharmonisan di tengah perbedaan yang ada di Nusantara pada saat itu. Jadi, tidak ada istilah mereka beda atau mereka bukan umat Islam atau mereka bukan dari umat Hindu. Semua bersama yang disatukan oleh nampan besar untuk menghubungkan keharmonisan.

Selain itu, Nusantara juga memiliki tradisi/kebudayaan berupaya (budaya Ngejot). Hal yang semacam ini merupakan kebiasaan yang sangat “mendarah-daging” dari masyarakat Nusantara. Di mana, budaya Ngejot itu memiliki fungsi untuk (saling memberi) makanan di saat ada perayaan dalam agama-agama tertentu.

 Misalnya di Bali, ketika keluarga atau tetangga Muslim sedang merayakan lebaran. Di situ, mereka akan mengantarkan hidangan makanan berupa opor ayam, ketupat sayur dan lain sebagainya untuk diberikan kepada tetangga yang beragama Hindu atau agama lainnya. Begitu juga umat Hindu ketika merayakan hari raya Galungan, Nyepi atau Kuningan. Mereka akan mengantarkan masakan yang (halal) secara hukum Islam untuk diberikan kepada tetangga yang Muslim.

Sehingga, dari tiga tradisi keharmonisan antar umat beragama yang berkembang di Nusantara ini, membuktikan satu hal penting. Bahwa, tidak ada istilah atau pelabelan kata “kafir” atau “Musyrik” atau “musuh” terhadap mereka yang berbeda keyakinan. Karena, masyarakat Nusantara menganggap semua adalah keluarga dan semua adalah saudara dalam ikatan (kebersamaan-persatuan).

IKN Nusantara untuk Comeback Mengembalikan Keharmonisan, Bukan Saling Meng-Kafirkan!

Dari penjelasan di atas, perihal budaya Nusantara yang berkaitan dengan keharmonisan, di sinilah pentingnya kesadaran kita bersama. Bahwa, sejak dulu (nenek moyang) kita di Nusantara, tidak pernah menggunakan istilah kafir atau kebencian untuk memusuhi mereka yang berbeda keyakinan. Semua bersaudara dan semua bersama meskipun tidak sama secara agama.

Maka, di sinilah alasan paling fundamental di balik terpilihnya Nusantara sebagai nama Ibu Kota Negara (IKN) adalah cara kita untuk flashback terhadap (Budaya Bhinneka Tunggal Ika). Agar, bangsa ini bisa come back. terhadap budaya-lama kita yang begitu  “hampir” terkontaminasi, tereduksi dan teracuni oleh budaya luar yang condong ingin memecah-belah bangsa.

Facebook Comments