Tidak Boleh Mengejek, Apalagi Menginjak Keyakinan yang Berbeda

Tidak Boleh Mengejek, Apalagi Menginjak Keyakinan yang Berbeda

- in Suara Kita
196
0

 “Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan. Demikianlah Kami jadikan setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. Kemudian kepada Tuhan merekalah kembali mereka, lalu Dia memberitakan kepada mereka apa yang dahulu mereka kerjakan.” (Surat al- An’am ayat 108)

Surat al-An’am 108 menegaskan bagaimana sikap Islam untuk tidak hanya menyerang secara fisik, tetapi juga menghindari serangan teologis. Islam menghendaki perdamaian dan sikap toleransi. Al-Quran secara tegas melarang umatnya untuk mencaci sembahan, termasuk dalam hal ini cara mereka menyembah.

Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa, “Di jaman Nabi dulu, ada seorang muslim yang mencela sesembahan orang-orang kafir, lalu celaan tadi dibalas oleh orang kafir dengan berlebihan. Mereka mengolok-olok Allah SWT dengan celaan yang amat dan tanpa didasari ilmu”.

Sayangnya, belakangan ini media sosial kita ramai memberitakan bahwa ada seseorang yang mengaku muslim menendang sesajen yang disiapkan umat agama lain untuk pemujaan terhadap Tuhannya. Dalam surat di atas dikatakan bahwa sekedar memaki saja umat muslim dilarang untuk melakukannya, apalagi ini sampai ditendang.

Karena itulah, landasan ilmu itu sangat penting dimiliki oleh setiap muslim. Sesajen sebenarnya sudah ada sebelum Islam masuk ke Indonesia, karena memang agama yang dianut oleh nenek moyang kita adalah agama Hindu dan Budha. Dalam penyebaran Islam di Indonesia, Wali Songo tidak pernah melakukan hal yang buruk kepada umat agama lain, karena dalam penyebaran Islam sendiri, menghormati sejarah dan tradisi yang ada sebelum masuknya Islam.

Dahulu orang Jawa memakai sesaji dan diletakkan di sawah, tindakan tersebut memiliki tujuan supaya sesaji yang disajikan tersebut dimakan oleh penunggunya. Namun jika kita mau berfikir dari segi logikanya, pada akhirnya yang memakan adalah burung, ayam dan binatang-binatang yang lainnya. Bukankah berbagi dengan sesama makhluk hidup juga penting untuk dilakukan?

Dahulu juga para Wali dalam menyebarkan Islam tidak pernah mengkafir-kafirkan tradisi sesajen seperti itu. Justru tradisi sesajen dimodifikasi dengan mengubahnya menjadi sedekah ke tetangga tetangga. Kultur yang sudah ada sebelum Islam masuk itu tidak perlu untuk dilawan, namun cukup dengan diubah caranya supaya bisa berjalan beriringan.

Masyarakat Indonesia kini banyak yang sedang mabuk agama, namun landasannya saja mereka tidak tahu, sampai-sampai sering kita jumpai aksi-aksi frontal dari sebagian kelompok yang secara sekilas dianggap benar dengan mengedepankan emosional. Di antara isu yang mudah untuk diangkat dan di godok adalah isu keagamaan. Sebagian besar dari kelompok tersebut tidak memahami atau menolak paham konsekuensi dari penetapan suatu hukum, dengan tidak mengesampingkan tindakan preventif.

Bertindak tanpa mempertimbangkan dampak dan akibat, justru malah akan memunculkan masalah baru yang mudharatnya bisa saja lebih besar. Banyak pihak yang menyamakan perbuatan orang menendang sesaji itu dengan perbuatan Nabi Ibrahim saat menghancurkan berhala. Sejatinya tindakan tersebut tidaklah sama. Dalam Islam terdapat hukum syariat, di mana dahulu Nabi Ibrahim saat itu menyampaikan keesaan Allah dengan kondisi dan situasi pada jaman tersebut. Sedang kita sebagai umat Nabi Muhammad, seharusnya meneladani Nabi Muhammad yang tidak menghancurkan berhala-berhala di luar kota kota Makkah. Alasan Rasulullah menghancurkan berhala yang ada di Makkah karena Mekkah memiliki status khusus yang merupakan tanah suci yang oleh Allah dan Rasul-Nya dinyatakan tidak boleh dihuni kecuali orang beragama Islam.

Sudah jelas Allah dan Rasul melarang non muslim masuk Mekkah, jadi otomatis berhala sudah tidak dibutuhkan di sana. Jadi sah-sah saja jika Rasulullah memindahkan atau menghancurkan berhala di Mekkah. Penghancuran berhala yang dilakukan oleh Nabi Muhammad di Mekkah sangat berbeda konteksnya dengan perbuatan orang yang menendang sesajen di Gunung Semeru, di mana Indonesia ini memang mengakui beberapa agama bisa hidup di dalamnya.

Para sahabat Rasulullah dahulu juga ketika datang ke kota Mesir, Irak, dan Syiria, mereka banyak menemukan berhala yang dipuja oleh masyarakat, namun mereka memilih untuk tidak menghancurkan karena Rasulullah sudah membekali mereka ilmu dan landasan surat al-Quran untuk memiliki sikap toleransi. Sebagai umat Islam tentunya boleh-boleh saja mengamini sebuah kebenaran, namun seharusnya tidak dilakukan dengan cara yang ekstrem apalagi tanpa landasan ilmu yang benar.

Facebook Comments