Tidurnya Orang Puasa, Membuatnya Dosa

Tidurnya Orang Puasa, Membuatnya Dosa

- in Suara Kita
175
0
Tidurnya Orang Puasa, Membuatnya Dosa

Sebuah hadis populer yang lazim didengar dari penceramah saat menjalankan puasa Ramadan adalah naumu al-shaim ibadatun (tidurnya orang berpuasa adalah ibadah). Hadis ini sepintas memberikan motivasi pahala dan menguntungkan bagi orang yang berpuasa, tetapi jika ditelaah lebih cermat, sesungguhnya mengandung suatu perbuatan yang justru akan berujung pada dosa. Mengapa demikian?

Pertama, status hadis itu belakangan menurut para ahli dinilai palsu alias dhaif, tidak dapat dijadikan sebagai alasan (hujjah, dalil). Namun sebenarnya, kalau pun shahih/valid dan bisa dijadikan rujukan, jelas memiliki prasyarat yang ketat. Tidur yang dimaksud bukan sembarang tidur.

Jika seorang yang berpuasa, dan di malam hari ia justru melakukan perbuatan maksiat atau hal yang dilarang oleh norma agama, lalu di pagi hari tidur sampai jelang maghrib, jelas bukan pahala yang diperoleh, tetapi dosa. Ia telah melabrak ajaran Islam dengan tidak mengerjakan kewajiban shalat dhuhur dan ashar.

Yang dimaksud tidurnya orang berpuasa sebagai bentuk ibadah jika ia mengisi waktu di malam hari dengan ibadah pula, misal membaca/tadarus al-Qur’an, zikir, pengajian, dan lain-lain. Karena kondisi tubuh yang letih efek aktivitas mulia di malam hari itulah, sangat wajar jika di waktu pagi tertidur, tetapi tetap juga wajib mengerjakan shalat dhuhur dan ashar.

Baca juga : Puasa Hoaks untuk Rekonsiliasi

Kedua, kondisi berpuasa mestinya secara ideal membuat orang semakin produktif, semangat berkerja, sebab itu merupakan jihad akbar yang harus dijalani. Pada saat berpuasa, hawa nafsu berupa keinginan-keinginan duniawi yang dapat membatalkan dan mengurangi pahala justru menjadi tantangan untuk berkata “tidak!” melakukan perilaku negatif itu, seperti bukan hanya sekadar menahan makan, minum, berhubungan badan bagi suami-istri, termasuk dosa-dosa aktual berupa ujaran kebencian dan sebar berita bohong/hoaks.

Bermalas-malasan dengan memilih pasif, berdiam diri di rumah, bahkan di masjid, padahal ia sebagai kepala rumah tangga wajib bekerja untuk mencari nafkah tapi diabaikan, bisa terjerumus ke dalam lembah dosa. Puasa sesungguhnya mengajarkan produktivitas dan tetap menjaga semangat untuk menjalani hidup seperti biasa, bahkan jika kondisi memungkinkan, mestinya semakin bersemangat.

Semangat meraih kemenangan

Itulah makna kemenangan dengan menjalankan ibadah puasa. Apalagi, fakta sejarah membuktikan, banyak peristiwa besar dalam kejayaan Islam justru terjadi di bulan suci Ramadan. Said Aqiel Siradj (2001) menginventarisir tidak kurang dari sembilan peristiwa yang terukir dalam catatan sejarah.

Pertama, Nabi Muhammad Saw. menerima wahyu pertama kali pada tanggal pada 17 Ramadhan. Kedua, pertempuran perdana antara kaum muslimin dengan orang-orang kafir dalam perang Badar yang jatuh pada 17 Ramadhan 2 H. Dalam pertempuran itu, sungguh pun rasio perbandingannya 1:3, tetapi pasukan Nabi Saw. di pihak yang memperoleh kemenangan. Ketiga, peristiwa fathu Makkah (pembebasan kota Mekkah) dari golongan kuffar pada 10 Ramadhan 8 H. Semenjak peristiwa itu, kota Mekkah dihuni kaum muslimin hingga saat ini. Keempat, perang terakhir pada masa Rasulullah, perang Tabuk, juga jatuh pada bulan suci ramadhan 9 H.

Kelima, kalahnya Hulaghu Khan setelah menaklukkan Baghdad dari tangan Sultan Qutus ‘Ain Jalut pada tanggal 15 Ramadhan 658 H (3 September 1260 M). Keenam, penaklukan Andalusia (Spanyol) di bawah pimpinan Panglima Thariq ibn Ziyad pada tanggal 28 Ramadhan 92 H (19 Juli 711 M). Ketujuh, pada tanggal 25 Ramadhan 479 H, Yusuf ibn Tasyfin dari Dinasti Murabithin menaklukkan pasukan Eropa. Dan kesembilan, kemerdekaan Republik Indonesia dari penjajahan Belanda bertepatan dengan tanggal 8 Ramadhan 1364 H.

Karena itulah, tidak ada alasan bagi orang yang berpuasa untuk lemah semangat, sebab momen inilah kita sedang melakukan jihad akbar. Puasa wajib kita jalankan dengan khidmat, tetap bersemangat menjalankan aktivitas keseharian, melawan godaan setan dengan tidak melakukan ujaran kebencian serta penyebaran hoaks. Semoga.

Facebook Comments