Tiga Amalan Syawal dan Signifikansinya untuk Mengikis Sindrom Kebencian

Tiga Amalan Syawal dan Signifikansinya untuk Mengikis Sindrom Kebencian

- in Suara Kita
259
0
Tiga Amalan Syawal dan Signifikansinya untuk Mengikis Sindrom Kebencian

Syawal merupakan bulan kemenangan bagi umat Islam setelah menjalani ibadah puasa Ramadan. Muhammad bin Allan Al Shiddiqi dalam Dalil Al Falihin mengatakan, kata Syawal diambil dari kalimat Sya-lat al-ibil yang artinya seekor unta yang mengangkat ekornya. Pendapat ini senada dengan Ibnu Manzur dalam Lisanul Arab. Hanya saja kata Syawal diambil dari Syalat an-naqah bin dzanabiha.

Saban tanggal 1 Syawal, umat Islam merayakan Idulfitri. Momentum Idulfitri  memiliki hakikat dan makna seperti dijelaskan M. Quraish Shihab dalam bukunya Membumikan Al Qur’an: Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat. Menurut Quraish Shihab,  Idulfitri terdiri dari dua suku kata, yakni “id” yang artinya kembali, dan “alfithri” yang memiliki tiga makna, yakni agama yang benar, kesucian, dan asal kejadian.

Dari uraian singkat di atas bisa diambil kesimpulan bahwa pada dasarnya Syawal ialah bulan kemenangan dan kesucian. Kemenangan dan kesucian dari apa? Terutama dari segala jenis intoleransi, kebencian, maupun kekerasan. Maka dari itu, Syawal ialah momentum atau awal yang tepat untuk membuka lembaran hidup baru yang steril dari sindrom kebencian dan intoleransi.

Tiga Amalan Syawal untuk Mengikis Kebencian

Setidaknya ada tiga amalan Syawal yang memiliki signifikansi untuk menangkal sindrom kebencian. Pertama, menjalankan puasa Sunnah bulan Syawal selama enam hari. Dalam banyak riwayat, disebutkan bahwa puasa Sunnah enam hari di bulan Syawal memiliki banyak keutamaan dan kemuliaan. Salah satunya ialah menyempurnakan ibadah puasa Ramadan dan menjadi semacam pembuktian bahwa puasa kita diterima oleh Allah. Dalam pemaknaan yang lain, banyak ulama menyebutkan bahwa puasa Sunnah di bulan Syawal ialah ikhtiar untuk menjaga spirit Ramadan tetap bertahan di bulan-bulan setelahnya.

Menjaga spirit pasca-Ramadan ini penting mengingat seperti kita tahu iman manusia cenderung fluktuatif. Di bulan Ramadan, sebagian besar umat Islam cenderung bersikap toleran, welas asih, dan menghormati sesama. Namun, hal itu acapkali berbalik arah ketika Ramadan berakhir. Pasca Ramadan, banyak umat Islam yang kembali ke karakternya yang gemar bertikai, berseteru, dan berpecah belah. Alhasil, pasca Ramadan ruang publik kita pun kembali ramai oleh cacian, cemoohan, dan ujaran kebencian.

Puasa Sunnah enam hari di bulan Syawal kiranya bisa menjadi semacam pengingat agar umat senantiasa menjaga spirit Ramadan selama sepanjang tahun. Bulan dan hari-hari pasca Ramadan wajib dijaga kesuciannya dari sindrom intoleransi dan kebencian.

Kedua, menyambung silaturahmi dengan keluarga, saudara, dan sejawat dalam bingkai kesetaraan. Dalam lingkup personal-individual, silaturahmi memiliki manfaat psikologis yakni menyehatkan mental. Di dalam Islam pun disebutkan bahwa silaturahmi dapat memperpanjang umur dan membuka pintu-pintu rejeki. Argumen ini masuk akal mengingat praktik silaturahmi sama saja dengan melakukan terapi kejiwaan sekaligus membangun koneksi sosial.

Sedangkan dalam konteks sosio-kultural, silaturahmi ialah mekanisme rekonsiliasi sosial yang dapat meredakan atau mencegah perpecahan maupun konflik. Silaturahmi menjadi sarana untuk merekatkan kembali relasi sosial yang renggang karena berbagai kecurigaan, prasangka, dan konflik kepentingan yang melatarinya.

Perintah silaturahmi selama bulan Syawal sebagaimana diserukan Islam kiranya bisa dipahami dalam kerangka menciptakan rekonsiliasi sosial, politik, kultural, dan keagamaan. Terlebih dalam konteks Indonesia hari ini dimana kita tengah menghadapi problem terkiat segregasi sosial dan polarisasi politik.

Ketiga, melaksanakan halal bi halal yang merupakan akulturasi antara ajaran Islam dan kearifan lokal. Merujuk pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), halal bihalal adalah hal maaf-memaafkan setelah menunaikan ibadah puasa Ramadan. Biasanya kegiatan diadakan sekelompok orang di tempat tertentu seperti masjid, gedung pertemuan, sekolah, kantor, dan sejenisnya. Halal bi halal pada prinsipnya mirip dengan silaturahmi lebaran, yakni momen bertemunya sejumlah orang untuk bermaafan. Namun, halal bi halal umumnya dilakukan secara terencana, dan melibatkan lebih banyak orang dalam satu acara.

Menurut Quraish Shihab, halal bihalal merupakan kata majemuk bahasa Arab dari kata halala yang diapit dengan satu kata penghubung bi. Kata tersebut berarti penyelesaian masalah, mencairkan yang beku, dan melepaskan ikatan membelenggu. Dalam pengertian yang demikian ini, halal bi halal dapat dimaknai sebagai upaya individu atau kelompok untuk lebih memahami keberadaan liyan tanpa ada persepsi negatif yang membelenggu.

Facebook Comments