Tiga Bentuk Penyelewengan Khilafah dan Jihad; Manipulasi, Eksploitasi, Politisasi

Tiga Bentuk Penyelewengan Khilafah dan Jihad; Manipulasi, Eksploitasi, Politisasi

- in Suara Kita
1206
5
Tiga Bentuk Penyelewengan Khilafah dan Jihad; Manipulasi, Eksploitasi, Politisasi

Ditinjau dari sisi teologis maupun historis, khilafah dan jihad merupakan bagian dari Islam. Dari sisi teologis, kita bisa melacak ajaran Islam tentang khilafah dan jihad. Baik di dalam Al Quran maupun hadist Rasulullah. Demikian pula dalam konteks historis. Khilafah dan jihad merupakan bagian tidak terpisahkan dari sejarah peradaban dunia Islam. Di masa lalu, kita pernah mengalami masa kejayaan di bawah sistem kekhalifahan. Demikian pula, jihad juga menjadi bagian penting dari dakwah keislaman Rasulullah.

Lantaran merupakan bagian dari Islam, maka sebenarnya sama sekali tidak ada stigmatisasi atau pelabelan negatif terhadap khilafah dan jihad. Dalam mempelajari teologi dan histori Islam, tema tentang khilafah dan jihad merupakan bahasan yang lazim didiskusikan, dibedah, dan tentunya dikritisi. Di lembaga pendidikan formal seperti sekolah maupun non-formal seperti pesantren, khilafah dan jihad bukan merupakan tema yang tabu diperbincangkan.

Namun, kecenderungan itu mulai berubah. Khilafah dan jihad mulai dianggap sebagai momok menakutkan. Tidak hanya bagi kalangan non-muslim, namun di kalangan umat Islam sendiri. Titik balik ini bermula ketika khilafah dan jihad diselewengkan makna dan esensinya oleh segelintir kalangan di internal Islam. Adalah kelompok konservatif-radikal yang berusaha memelintir makna khilafah dan jihad demi mendukung agenda tersembunyi mereka.

Tiga Penyelewengan Khilafah dan Jihad

Setidaknya ada tiga bentuk penyelewengan makna khilafah dan jihad yang dilakukan oleh kaum konservatif-radikal. Pertama, memanipulasi esensi khilafah dan jihad yakni dengan mendekonstruksi makna keduanya agar sesuai dengan agenda dan kepentingan tertentu. Khilafah misalnya yang makna aslinya ialah kepemimpinan dimanipulasi maknanya sebagai sebuah agenda menegakkan imperium Islam global yang menerapkan hukum syariah. Demikian pula, jihad yang esensinya ialah memperjuangkan kebajikan dimanipulasi sedemikian rupa demi menjustifikasi aksi-aksi intoleransi, diskriminasi, dan kekerasan atas nama agama (Islam).

Kedua, eksploitasi khilafah dan jihad yang dilakukan dengan menjadikan isu khilafah dan jihad sebagai bahan propaganda gerakan politik radikal. Sudah menjadi rahasia umum bahwa kelompok radikal-terorisme dalam Islam selalu mengeksploitasi isu khilafah dan jihad sebagai komoditas gerakan mereka. Gerakan radikalisme-terorisme pada dasarnya ialah gerakan politik yang berorientasi pada kekuasaan. Namun, mereka lihai membungkusnya dengan ideologi agama. salah satunya dengan menyeret-nyeret isu khilafah dan jihad ke dalam gerakannya. Mereka mengklaim gerakannya mengusung agenda pendirian khilafah dan bagian dari jihad fi sabilillah.

Ketiga, politisasi khilafah dan jihad. Praktik ini umumnya dilakukan oleh para elite politik beraliran konservatif-kanan yang menjadikan sentimen keagamaan sebagai komoditas politiknya. Para elite politik ultra-konservatif itu akan mendekati calon pemilih bukan dengan tawaran program. Alih-alih itu, mereka akan mengambil simpati konstituen dengan imajinasi ihwal khilafah dan jihad. Pola yang demikian ini kian tumbuh subur di tengah bangkitnya politik identitas dan populisme Islam yang terjadi beberapa tahun terakhir ini di Indonesia.

Mengembalikan Subtansi Khilafah dan Jihad

Manipulasi, eksploitasi, dan politisasi khilafah serta jihad inilah yang lantas melahirkan stigmatisasi. Saban kali mendengar kata khilafah dan jihad, maka sebagian dari masyarakat akan mengasosiasikannya dengan gerakan-gerakan keagamaan berbasis ideologi kebencian dan kekerasan. Khilafah lantas berkonotasi dengan ISIS, Jamaah Islamiyah, Taliban, Boko Haram, dan kelompok garis keras lainnya.

Sedangkan jihad diidentikkan dengan bom bunuh diri, membakar rumah ibadah lain, menyerang aparat keamanan, dan tindakan sejenisnya. Kondisi ini tentu tidak bisa dibiarkan. Diperlukan langkah “radikal” untuk bisa mengembalikan makna khilafah dan jihad sesuai dengan subtansi dan esensinya.

Ini merupakan tugas seluruh elemen bangsa, terutama para ulama. Ulama harus memberikan pencerahan pada umat bahwa khilafah dan jihad pada dasarnya tidak identik dengan ideologi kekerasan. Khilafah ialah konsep kepemimpinan, dimana setiap komunitas harus memiliki pemimpin. Islam sendiri tidak secara spesifik memerintahan umatnya mendirikan negara Islam. Di dalam Islam, konsep bernegara dibangun di atas filosofi kesejahteraan, kesetaraan, dan perdamaian. Jadi, khilafah sebagaimana didefinisikan oleh kelompok Islam garis keras justru bertentangan dengan konsepsi Islam tentang kepemimpinan dan pemerintahan.

Demikian pula ihwal jihad. Umat idealnya memahami bahwa subtansi jihad bukanlah perjuangan fisik apalagi peperangan. Makna jihad dalam konteks kebangsaan kontemporer kiranya lebih dari sekadar mengangkat senjata. Di era kiwari, jihad idealnya dimanifestasikan sebagai sikap, cara pandang, dan perilaku yang senantiasa berorientasi pada kebajikan, baik bagi individu, kolektif, maupun untuk bangsa dan negara.

Facebook Comments