Tiga Langkah Mencegah Masjid Menjadi Basis Gerakan Radikal-Intoleran

Tiga Langkah Mencegah Masjid Menjadi Basis Gerakan Radikal-Intoleran

- in Suara Kita
255
0
Tiga Langkah Mencegah Masjid Menjadi Basis Gerakan Radikal-Intoleran

Ada semacam perasaan tabu manakala membincangkan masjid yang menjadi basis gerakan ideologi radikal-intoleran. Padahal, itu fakta. Hasil pemetaan BIN pada tahun 2017 membuktikan bahwa memang ada sejumlah masjid yang menjadi basis penyebaran ideologi radikal. Hal itu diperkuat lagi oleh temuan-temuan lembaga pemerintah seperti BNPT, Polri, dan Kementerin Agama. Seturut fakta dan data tersebut alangkah bijaknya kita kalau dengan berbesar hati mengakui bahwa memang ada masjid yang dijadikan ruang penyebaran narasi intoleransi dan radikalisme.

Pengakuan itu penting agar kita tidak terus-menerus terjebak dalam self-denying yakni penyangkalan diri bahwa masjid radikal itu tidak ada. Pengakuan itu juga penting agar kita tidak muda melabeli segala temuan tentang fenomena masjid radikal dengan stigma Islamofobia dan sejenisnya. Boleh jadi memang tidak ada yang namanya masjid radikal. Namun, kita tidak bisa menutup mata bahwa kelompok radikal kerap menjadikan masjid sebagai basis gerakannya. Dan, hal itulah yang harus kita cegah bersama.

Mencegah masjid menjadi basis gerakan radikal tentu bukan hal mudah dan membutuhkan peran serta sinergi bersama antara pemerintah, lembaga keagamaan, tokoh agama, dan umat Islam. Hal pertama yang wajib dilakukan ialah mengumpulkan data yang valid ihwal jumlah masjid, berikut afiliasinya (mazhab, aliran, ormas dan sebagainya). Pemetaan ini penting sebagai langkah awal dalam menyusun semacam peta jaringan masjid di Indonesia dan mana saja yang patut diwaspadai sebagai basis gerakan radikal-intoleran.

Pemetaan ini idealnya dilakukan oleh pemerintah bekerjasama dengan perguruan tinggi dan ormas keagamaan yang memang kredibel. Tujuannya agar data yang diperoleh benar-benar valid dan bisa dipertanggung jawabkan. Dengan pelibatan perguruan tinggi dan ormas keagamaan tersebut, diharapkan tidak akan ada lagi narasi Islamofobia yang menyerang pemerintah.

Langkah kedua ialah melakukan pendekatan ke elemen yang selama ini menjadi penanggung jawab masjid. Antara lain takmir masjid dan kelompok remaja masjid yang biasanya menjadi aktor penggerak kegiatan keagamaan di masjid. Takmir dan remaja masjid ialah dua elemen penting yang akan menentukan corak pandangan keislaman di masjid tersebut; apakah akan condong pada moderatisme atau sebaliknya justru terjebak dalam radikalisme?

Maka, takmir masjid dan remaja masjid ini harus dikendalikan sepenuhnya oleh individu yang memiliki pandangan inklusif terhadap kemajemukan dan berkomitmen tinggi pada aspek kebangsaan. Jika lembaga takmir dan pemuda masjid ini dipegang oleh sosok-sosok yang moderat, inklusif, dan nasionalis maka besar kemungkinan mimbar khotbah dan keagamaan akan steril dari narasi perpecahan dan kebencian berbasia agama.

Langkah ketiga ialah membangun kesadaran di kalangan tokoh agama dan ormas keagamaan seperti NU, Muhammadiyah, LDII, Persis dan sebagainya untuk menjaga masjid di lingkungan komunitasnya agar tidak disusupi kaum radikal. Upaya ini penting mengingat banyak masjid-masjid moderat yang berafiliasi dengan sejumlah ormas keagamaan seperti NU dan Muhammadiyah serta masjid di lingkungan kampus yang justru diambil-alih oleh jaringan radikal. Hal ini terjadi karena tidak ada pengawasan majid yang terlalu longgar sehingga kerap kecolongan oleh infiltrasi kelompok radikal.

Di titik ini, para tokoh agama, ormas keagamaan dan lembaga sejenisnya harus memiliki mekanisme pengelolaan masjid yang ada di lingkungan dan komunitasnya. Minimal harus ada semacam road-map pengelolaan masjid, terutama dalam menentukan siapa yang akan berkhotbah atau berceramah dan apa temanya. Ini dilakukan agar khotbah jumat dan mimbar keagamaan di masjid tidak dijadikan sebagai ajang menyebarkan pemikiran intoleran dan paham radikal.

Himbauan Kepala BNPT agar masjid tidak dijadikan ruang penyebaran narasi intoleransi dan radikalisme kiranya patut direspons positif. Bukan sebaliknya justru dibingkai dengan narasi Islamofobia dan sejenisnya. Himabauan itu penting di tengah kencangnya arus pengambil-alihan masjid oleh kelompok radikal. Kenyataan ini sebenarnya sudah disadari oleh ormas-ormas keagamaan seperti NU dan Muhammadiyah.

Satu dekade lalu, dua ormas arusutama itu sudah mengeluarkan surat edaran berisi himbauan agar menjaga masjid di komunitasnya agar tidak disusupi paham-paham salafi, wahabi, dan takfiri yang bertentangan dengan prinsip Ahlussunnah wal Jamaah. Apakah itu artinya NU dan Muhammadiyah mengidap Islamofobia? Tentu tidak! Mensterilkan masjid dari narasi intoleransi dan radikalisme ialah upaya menutup ruang gerak kelompok radikal dalam menyebarkan paham yang mengancam keutuhan NKRI dan Pancasila.

Facebook Comments