Tiga Strategi Menguatkan Imunitas Bangsa dari Provokasi Bertopeng Agama

Tiga Strategi Menguatkan Imunitas Bangsa dari Provokasi Bertopeng Agama

- in Suara Kita
1129
0
Tiga Strategi Menguatkan Imunitas Bangsa dari Provokasi Bertopeng Agama

Harus diakui, marak persebaran paham radikalisme yang memakai topeng keagamaan. Alhasil, tidak sedikit masyarakat yang terpengaruh dengan propaganda tersebut. Beberapa orang berubah menjadi sosok radikal dan bahkan menjelma teroris lonewolf, sementara yang lainnya saling menyalahkan perbedaan dalam pemahaman keagamaan dan bahkan saling melempar ujaran kebencian. Tentu saja, apabila ini terus diabaikan, persatuan dan kesatuan NKRI akan semakin terancam.

Perlu diingat, sentimen keagamaan merupakan alat paling manjur untuk menciptakan perpecahan. Hal ini karena perihal agama menyentuh aspek mendasar dalam emosi seseorang. Orang-orang akan mudah marah apabila keyakinan mereka terusik. Dan bahkan, sejarah mencatat, pada saat awal berdiri, Republik Indonesia nyaris terpecah-belah hanya karena soal penyebutan salah satu agama. Itulah sebab, frasa “Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluknya” dalam naskah Piagam Jakarta kini diubah menjadi “Ketuhanan Yang Maha Esa” dalam Pancasila.

Perlu dipahami, ajaran agama apa pun selalu memiliki klaim kebenaran (truth claim) yang diyakini oleh pemeluk-pemeluknya. Inilah menjadikan pemeluk agama yang tidak memiliki wawasan dan pemahaman keagamaan yang luas akan cenderung bersikap eksklusif, intoleran, bahkan arogan. Klaim kebenaran yang diusung agama ini menjadi semacam tembok yang memisahkah antar-pemeluk agama yang berbeda. Tidak jarang, pemeluk agama hidup dalam cangkang kebenarannya masing-masing tanpa mengakui ada kebenaran yang lain.

Kondisi inilah yang dimanfaatkan oknum tertentu untuk memanfaatkan agama sebagai alat adu-domba, provokasi serta propaganda baik dalam konteks politik maupun radikalisme. Identitas keagamaan yang menjurus pada fanatisme dikomodifikasi dan dieksploitasi sedemikian rupa untuk membuat publik terpolarisasi dan terfragmentasi. Di tengah situasi yang demikian ini, kaum radikal akan dengan leluasa menyebarkan ideologinya (Nurrochman, 2021).

Dalam konteks tersebut, menjadi keniscayaan bagi seluruh bangsa Indonesia untuk bersama-sama memerangi persebaran paham radikal yang memakai topeng agama. Agar, kita terbebas dari ancaman perpecahan dan terpecah-belah. Sehingga, kita lebih leluasa dalam upaya bersama membangun bangsa.

Setidaknya ada tiga hal yang dapat kita lakukan untuk menciptakan imunitas kebangsaan dari ancaman bahaya provokasi berkedok agama. Pertama, lakukan verifikasi atas setiap informasi yang kita dapatkan. Harus diakui, kemudahan setiap orang dalam menyebarkan informasi di era media sosial seperti sekarang, membawa petaka berupa kebiasan esensi informasi yang kita dapatkan. Ini karena semua bisa berkomentar atas hal apa pun.

Itulah yang dimanfaatkan oleh kelompok berkepentingan (interest group) untuk sengaja memlintir pemahaman atas ayat-ayat Alquran demi menguntungkan mereka sendiri. Bahkan, mereka tak segan-segan menebar berita bohong dan narasi adu domba untuk memecah-belah sesama umat beragama dan sesama warga negara. Mereka sadar, apabila masyarakat terus bersatu, maka mereka akan susah untuk mencapai tujuannya.

Verifikasi informasi yang kita lakukan ini, tentu saja harus didasarkan kepada sumber yang dapat dipercaya dan dipertanggungjawabkan. Dari situs online yang memegang teguh penerapan kaidah jurnalistik. Dari tokoh yang diakui memiliki keilmuan yang mumpuni. Dalam konteks isu agama, kita harus mengkonfirmasinya kepada ulama atau tokoh agama yang memiliki pemahaman yang mendalam lagi luas dalam memahami ajaran agamanya.

Kedua, mengembangkan semangat keberagamaan ‘jalan-tengah’—istilah populer sekarang disebut moderasi. Beragama dengan memegang teguh prinsip moderasi akan menjadi gerakan penyeimbang dalam memerangi derasnya persebaran propaganda dan provokasi yang mengatasnamakan agama, bahkan bisa juga sebagai gerakan nir-kekerasan. Keberagamaan ‘jalan tengah’ bukan saja diperlukan untuk menangkal paham-paham radikal, ia juga sekaligus sebagai laku kehidupan yang bisa menciptakan harmoni dalam kehidupan beragama.

Ketiga, menjadikan Pancasila sebagai pedoman kehidupan berbangsa dan bernegara, serta mengamalkan semua nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Pancasila ialah falsafah kebangsaan mengakomodasi berbagai aspirasi warga negara. Melalui Pancasila inilah, selanjutnya semua perbedaan dapat dirangkul dalam konsep persatuan dan kemufakatan. Pancasila ialah wujud kompromi beragam ideologi. Fakta sejarah mencatat, meskipun Pancasila pernah dihadapkan secara vis a vis dengan ancaman ideologi sosialisme dan komunisme, serta juga sempat ditentang para pengusung ideologi Islam pada masa awal kemerdekaan, Republik Indonesia dengan ideologi Pancasila masih tegak berdiri sampai saat sekarang, dan menyatukan elemen-elemen bangsa.

Goenawan Mohammad menyatakan, ”Kita membutuhkan Pancasila kembali karena ia merupakan rumusan yang ringkas dari ikhtiar bangsa kita yang sedang meniti buih untuk dengan selamat mencapai persatuan dalam perbedaan…. Kita membutuhkan Pancasila kembali untuk mengukuhkan, kita mau tak mau perlu hidup dengan sebuah pandangan dan sikap yang manusiawi—yang mengakui peliknya hidup bermasyarakat. Kita membutuhkan Pancasila kembali karena merupakan proses negosiasi terus-menerus dari sebuah bangsa yang tak pernah tunggal, tak sepenuhnya bisa ”eka”, dan tak ada yang bisa sepenuhnya meyakinkan, dirinya, kaumnya, mewakili sesuatu yang Maha benar. Kita membutuhkan Pancasila kembali: seperti saya katakan di atas, kita hidup di sebuah zaman yang makin menyadari ketidaksempurnaan nasib manusia.”

Epilog

Tidak mudah merajut persatuan dan kesatuan seluruh warga negara dalam naungan NKRI. Namun, sungguh mudah untuk memporak-porandakan harmoni kebinekaan yang sudah dibangun sejak dahulu. Maka itu, dalam memahami dan memproses setiap isu agama yang digulirkan oleh seseorang, kita harus bijak untuk mengolahnya. Mengedepankan verifikasi informasi serta menyandarkan setiap hal yang kita terima dengan kesesuaian terhadap prinsip moderasi dan Pancasila, menjadi pilihan tepat untuk terbebas dari belenggu provokasi bertopeng agama. Jika diterapkan, perlahan namun pasti, akan tercipta imunitas bangsa dari beragam upaya adu domba.

Facebook Comments