Tiga Tantangan Ulama di Tengah Transformasi Terorisme

Tiga Tantangan Ulama di Tengah Transformasi Terorisme

- in Suara Kita
1495
0
Tiga Tantangan Ulama di Tengah Transformasi Terorisme

Menjadi ulama berarti harus siap memikul tanggung jawab agama, sosial, politik, dan budaya sekaligus. Dari sisi agama, ulama ialah warasatul anbiya’ yang meneruskan perjuangan Nabi dalam menyampaikan akidah Islam dan memperbaiki akhlak manusia. Dari sisi sosial, ulama ialah sosok panutan, teladan, alias role model dari segi ucapan dan tindakan. Dari sisi politik, ulama ialah perekat bangsa yang terdiri atas entitas yang beragam. Sedangkan dari segi budaya, ulama ialah aktor penjaga kelestarian adat dan budaya masyarakat.

Menjadi ulama dengan demikian tidak pernah mudah. Ulama ialah gelar organik yang disematkan oleh umat kepada sosok yang dinilai layak dan mumpuni, baik secara keilmuan, integritas akhlak, serta rekam jejak perilakunya. Maka, jika ada sosok yang mendaku diri ulama namun perilakunya justru bertentangan dengan karakteristik di atas, bisa dipastikan itu ialah ulama gadungan.

Di era ketika gerakan radikalisme dan terorisme telah bertransformasi sedemikian rupa ini, tantangan ulama pun kian beragam. Ulama tidak hanya menghadapi isu agama, namun juga dituntut mampu merespons segala isu yang berkembang di masyarakat. Jika dipetakan, setidaknya ada tiga tantangan utama yang dihadapi oleh ulama di era transformasi terorisme ini.

Tiga Tantangan

Pertama, ulama dihadapkan pada model dakwah keislaman yang berkarakter intoleran dan memecah-belah umat. Model dakwah yang demikian ini tidak diragukan telah mendegradasi nilai kesucian agama (Islam). Ajaran Islam yang bertumpu pada filosofi keselamatan (salam), justru dipelintir ke dalam tafsir yang bersentimen kebencian dan kekerasan. Corak dakwah yang demikian ini belakangan marak mengokupasi ruang publik digital kita.

Di titik ini, ulama sejati (khos) kiranya bisa menjadi semacam penyelamat agama. Yakni sosok yang mengembalikan nilai sakralitas agama sebagaimana mestinya. Ulama harus berada di barisan terdepan dalam menyelamatkan agama dari pembajakan kaum radikal-terorisme. Caranya ialah dengan mengembangkan dakwah keislaman moderat (washatiyah). Yakni dakwah yang mempertemukan antara dimensi keislaman di satu sisi dengan dimensi kebangsaan di sisi lain.

Tantangan kedua ialah maraknya narasi adu-domba di kalangan ulama atau lembaga keulamaan itu sendiri. Hal ini mewujud pada munculnya fenomena takfirisme di kalangan internal Islam sendiri. Yakni satu fenomena ketika satu golongan dalam Islam menuding aliran lain yang masih seagama sebagai kafir. Takfirisme ialah embrio dari perpecahan di dunia Islam. Dan dimana ada perpecahan, maka di situ paham radikalisme-terorisme akan tumbuh subur.

Menghadapi tantangan ini, ulama dan lembaga keagamaan-keulamaan harus mampu menjadi motor penggerak bagi terwujudnya persatuan, baik dikalangan internal Islam maupun antar-sesama anak bangsa yang berbeda agama. Ulama dan lembaga keagamaa-keulamaan harus menjadi lem perekat kebangsaan yang menutup celah bagi munculnya segregasi sosial-keagamaan.

Ketiga, tantangan berupa maraknya infiltrasi gerakan radikalisme-terorisme yang menarget individu ulama maupun lembaga keulamaan. Seperti kita lihat dalam beberapa tahun terakhir, gerakan terorisme kian lihai bertransformasi, berkamuflase, dan menyusup ke segala lini kehidupan umat. Belakangan mereka juga mulai menginfiltrasi ulama dan menarget lembaga keagamaan-keulamaan. Hal ini tentu menjadi bagian dari skenario besar menguasai umat dari atas.

Di titik ini, tidak ada jalan lain kecuali ulama dan lembaga keulamaan-keagamaan harus memiliki sistem imunitas untuk melawan infiltrasi terorisme yang datang dari segala arah. Sistem imunitas itu kiranya dapat dibangun dengan jalan membumikan diskursus keagamaan yang senantiasa menjunjung tinggi rasionalitas, kritisisme, dan progresivisme. Ulama dan lembaga keagamaan-keulamaan harus menjadi lokomotif yang menarik gerbong umat beragama menuju kemajuan, bukan kemunduran.

Dalam menghadapi gelombang infiltrasi terorisme, ulama tentu tidak bisa berjalan sendirian. Ulama membutuhkan semacam supporting system, terutama dari pemerintah dan umat itu sendiri. Di satu sisi, pemerintah harus tegas menindak jaringan teroris yang berusaha menginfiltrasi ulama dan lembaga keulamaan. Jangan sampai, adanya satu oknum teroris di lembaga keagamaan atau keulamaan justru merusak keseluruhan lembaga di dalamnya.

Di sisi lain, umat harus mendukung langkah pemerintah dalam memerangi terorisme. Narasi kriminalisasi ulama, rezim islamofobia, atau pemerintahan anti-Islam sudah sepatutnya diakhiri. Umat harus menjadi makum umara dalam pemberantasan terorisme. Dengan begitu, pemerintah bisa lebih fokus memberangus kelompok teroris tanpa terdistraksi oleh isu-isu miring yang sengaja diembuskan kelompok simpatisan terorisme.

Facebook Comments