Tolak Provokasi SARA: Utamakan Dialog dan Bijaklah Bermedsos

Tolak Provokasi SARA: Utamakan Dialog dan Bijaklah Bermedsos

- in Suara Kita
151
1
Tolak Provokasi SARA: Utamakan Dialog dan Bijaklah Bermedsos

Isu rasisme kembali menyeruak ke publik. Insiden pengepungan asrama mahasiswa Papua pada Jumat (16/8) di Surabaya, serta dugaan diskriminasi terhadap mahasiswa Papua di Malang, berujung aksi protes di sejumlah wilayah di Papua dan Papua Barat, sejak Senin (19/8). Bahkan, aksi demonstrasi tersebut dikabarkan berujung ricuh. Sejumlah fasilitas umum seperti pasar, ATM, kendaraan umum, juga kantor DPRD, hingga rumah dibakar dan dirusak.

Kita mesti memahami dan bersimpati atas apa yang dirasakan saudara-saudara kita di Papua. Sebagai sesama saudara sebangsa, sudah semestinya kita saling menghormati dan menghargai satu sama lain. Segala bentuk sikap merendahkan atau rasisme mesti dihilangkan dan tidak boleh tumbuh di bumi Indonesia, di mana di dalamnya hidup beragam jenis suku bangsa. Kasus yang terjadi di Surabaya dan Malang, yang kemudian memantik aksi protes masyarakat Papua di beberapa tempat tersebur mesti menjadi catatan dan evaluasi penting bagi kita semua dalam menjalani hidup berbangsa dan bernegara.

Baik pemerintah dan pihak keamanan, ormas, maupun masyarakat luas, semua mesti bersama-sama melakukan refleksi untuk lebih meningkatkan sikap menghormati antarsesama. Segala bentuk kecurigaan jangan sampai membuat orang bertindak anarkis, provokatif, dan rasis. Segala bentuk persoalan mesti bisa diatasi dengan pendekatan yang damai, tanpa perlu melakukan tindakan-tindakan represif apalagi kekerasan. Aparat keamanan mesti tegas menindak oknum-oknum yang terbukti melakukan sikap atau tindakan rasis, juga berusaha kembali menciptakan situasi yang kondusif di tengah masyarakat.

Kedepankan dialog

Aksi protes di Papua bagaimana pun merupakan bentuk aspirasi dan solidaritas warga Papua dalam menyikapi terjadinya tindakan diskriminasi rasial yang dialami mahasiswa Papua di Surabaya dan Malang. Dalam menyikapi hal tersebut, negara mesti mengedepankan dialog agar bisa mendengarkan aspirasi masyarakat Papua, untuk kemudian bisa kembali merajut persaudaraan dan ikatan persatuan bangsa.

Baca Juga : Isu SARA dan Etika Bermedia Sosial

Mengenai hal tersebut, kita bisa belajar dari apa yang dilakukan Gus Dur, yang selama memimpin bangsa ini selalu mengedepankan dialog. Seperti dikatakan Alissa Wahid, Koordinator Jaringan Gusdurian, presiden keempat RI tersebut selalu mengedepankan dialog dengan melibatkan kepala suku dan tokoh agama dengan prinsip partisipatif, non-kekerasan, dan prinsip keadilan. Menurutnya, penyelesaian atas segala perbedaan harus berdasar pada kesetaraan, keadilan, dan kemanusiaan (kompas.com, 20/08/2019).

Prinsip-prinsip non-kekerasan tersebut menjadi pendekatan yang mesti dikedepankan untuk bisa menyelesaikan segala persoalan kebangsaan. Terlebih, untuk persoalan-persoalan terkait isu diskriminasi rasial. Sesama warga bangsa mesti bisa duduk bersama dan saling mendengar dan memahami. Negara mesti bisa menjamin keamanan, keadilan, dan perdamaian antarwarga bangsa.

Menolak provokasi SARA di dunia maya

Kita semua juga punya kewajiban yang sama dalam upaya mengembalikan keharmonisan sosial pasca kericuhan di Papua. Jangan sampai, isu-isu rasial memancing kerusuhan yang lebih luas di masyarakat karena berhembusnya kabar-kabar provokatif yang semakin mengeruhkan suasana. Sebab, isu-isu provokatif bernuansa rasial menjadi sangat membahayakan jika dibiarkan di tengah ingar bingar era medsos sekarang.

Kita hidup di era di mana segala macam isu dan informasi menyebar dengan sangat cepat, tanpa terkecuali isu-isu provokatif, bahkan hoax. Tak jarang, berawal dari provokasi di media sosial, muncul aksi-aksi dan gerakan yang berujung anarkis.

Seperti diungkapkan Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri, Brigjen Dedi Prasetyo, kerusuhan di Papua Barat dikabarkan juga di antaranya dipicu oleh video provokasi yang viral di media sosial. Ia mengatakan bahwa video provokatif tersebut berimbas pada terpancingnya mahasiswa dan masyarakat turun ke jalan pada Senin (19/8), bahkan berujung pada aksi anarkis seperti memblokasi jalan hingga pembakaran Gedung DPRD Papua Barat (Sindonews.com, 19/8/2019).

Belajar dari kejadian tersebut, sudah semestinya kita lebih bijak, terutama dalam beraktivitas di media sosial. Jangan sampai kita justru menjadi bagian dari rantai provokasi di ruang maya, yang kemudian memantik aksi-aksi berbuntut kericuhan.

Dalam menyikapi setiap kabar yang berhembus terkait isu-isu rasial, kita mesti mengedepankan sikap kritis dan kebijaksanaan. Sikap kritis mendorong kita selalu mempertanyakan kredibilitas sumber suatu berita atau informasi, sehingga bisa membekali kita kecerdasan menilai kabar-kabar provokatif, bahkan hoaks. Dengan begitu, kita akan mampu melakukan filter dan terhindar dari pengaruh provokasi yang dihembuskan di dalamnya.

Sedangkan, sikap bijak akan memandu kita untuk menilai dan menentukan sikap, sejauh mana sebuah informasi bisa memberikan dampak positif atau negatif jika disebarkan. Dengan kebijaksanaan, kita akan menolak segala bentuk provokasi berbau rasial yang berpotensi menciptakan kericuhan dan perpecahan di masyarakat.

Di tengah menguatnya penyebaran isu SARA di dunia maya saat ini, sudah semestinya kita menjadi semakin bijak dalam menggunakan sosial media. Di samping sikap kritis dan bijak, lewat media sosial, kita bisa berkontribusi mengembalikan situasi agar kembali kondusif lewat postingan-postingan menyejukan, yang mendepankan prinsip-prinsip dialog dan perdamaian.

Facebook Comments