Toleransi Ala Gus Dur

Toleransi Ala Gus Dur

- in Suara Kita
925
21
Toleransi Ala Gus Dur

Toleransi menjadi nilai terpenting dalam hidup yang dipenuhi dengan keberagaman.  Dengan adanya toleransi seseorang akan bisa menghormati dan menghargai antar kelompok ataupun individu dalam lingkungan tersebut. Perbedaan ini yang akan menjadikan Indonesia lebih unik, di mana seseorang diajak untuk memahami nilai-nilai toleransi yang secara nyata. Dan, apabila orang sudah memahami pentingnya bertoleransi, maka nilai kemanusiaan sudah pasti ada dalam dirinya. Tidak hanya itu, dirinya juga akan selalu merasa di hargai, meskipun berada di tengah-tengah golongan yang berbeda. Seperti halnya Gus Dur yang dihargai oleh banyak penganut agama lain, meskipun beliau adalah seorang muslim.

Di Indonesia Gus Dur menjadi sorotan utama ketika berbicara tentang pentingnya toleransi. Menurut Gus Dur, merawat toleransi merupakan proses penting untuk menciptakan keharmonisan dalam bersosialisasi dan beragama. Sebab, toleransi itu tidak hanya menciptakan, tetapi juga harus merawat. Dari sini Gus Dur berusaha mengajak masyarakat untuk menjaga bangsa Indonesia yang dipenuhi keanekaragaman di dalamnya. Di mana melalui konsep toleransi seseorang akan mengerti, bahwa yang paling tinggi derajatnya ialah menjadi manusia yang bisa menghargai, mencintai, serta memanusiakan manusia.

Menurut Gus Dur perbedaan yang ada di Indonesia adalah rahmat. Maka, perbedaan tersebut seharusnya tidak menjadi salah satu alat pemecah belah kebersamaan, atau terjadinya permusuhan. Perbedaan merupakan bentuk kasih sayang yang muncul di tengah-tengah kebinekaan. Dengan kata lain, seseorang bisa mempelajari betapa pentingnya toleransi dalam hidup ber-sosial. Dan seseorang yang sudah menerima adanya perbedaan, pastinya akan mudah untuk berdialog dan terbuka dengan orang lain. Sebagaimana yang sering diajarkan oleh orang-orang yang berada di pedalaman/pedesaan. Pasti di situ seseorang akan menemukan konsep kehidupan yang penuh dengan keharmonisan. Tutur sapa, saling membantu, gotong-royong, akan selalu dilakukan ketika tetangganya membutuhkan. Dan, semua itu dilakukan tanpa mengharapkan sebuah imbalan.

Dalam buku Wisdom of Gus Dur sendiri mengungkapkan, bahwa berdialog dapat menciptakan wajah manusia yang tidak memandang perbedaan suku, budaya, dan latar belakang sejarah, serta membuka jalan untuk mengangkat nilai-nilai universal dan komitmen budaya perdamaian dan kerukunan umat beragama. Sejalan dengan itu, agama itu inspiratif, kekuatan moral. Maka, dari itu agama harus membentuk etika dari masyarakat.

Ketika kita sering membaca buku-buku Gus Dur. Pasti beberapa akan menemukan ayat-ayat suci al-Quran di dalamnya. Seperti misalnya, “untukmu agamamu, dan untukku agamaku” (Qs.al-kafirun [109];6), “Tidak ada paksaan dalam agama” (QS. al-Baqarah [2]; 256). “Jikalau Tuhan menghendaki, tentu Dia menjadikan umat manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat”. (QS. Hud [11];119).

Potongan ayat-ayat di atas sering kali digunakan Gus Dur dalam tulisan-tulisannya yang berkaitan dengan toleransi. Gus Dur ingin menunjukkan, sejatinya sikap toleransi dan plural berakar dari penghayatan ayat-ayat suci al-Quran. Itulah mengapa sebagai umat muslim diharuskan untuk memahami pentingnya sikap toleransi tersebut. Karena Islam mengajarkan untuk penganutnya menjadikan Islam sebagai ajaran yang Rahmatal Lil Alamin, rahmat bagi semua orang. Maka, sebagai pemeluknya juga harus memberikan rahmat untuk penganut agama lain.  Yaitu menghormati dan menghargai dari pikiran dan hati.

Sejatinya perdamaian dan persatuan yang di cita-citakan Gus Dur didasari pada spirit multikulturalisme yang terdapat dalam al-Quran, yaitu, “Hai manusia sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu, di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah maha mengetahui dan maha mengenal. (QS. Al-hujurat [49];13).

Dalam hal ini Gus Dur memberikan teladan untuk terus melakukan dialog antara ilmu spirit dengan ilmu materi yang harus termanifestasi dalam kehidupan. Baginya kehidupan merupakan kemampuan menghubungkan spirit ketuhanan dengan tindakan, namun dalam pelaksanaannya harus disertai dengan kesabaran, demi terhindarnya kekerasan yang akan menodai harkat kemanusiaan. Dalam istilahnya, kehidupan harus mencari keseimbangan antara “normatif (ajaran agama)” dengan kebebasan berpikir”.

Banyak nilai-nilai yang terkandung ketika kita benar-benar ingin memahami toleransi di Indonesia. Di sisi lain ajaran toleransi yang ditawarkan oleh Gus Dur juga bisa diterapkan dalam dunia pendidikan untuk mencegah lahirnya sikap intoleransi. Gus Dur juga mengajak seseorang untuk membersihkan pikiran dan hatinya dengan menguatkan sikap menghargai dalam menyikapi setiap perbedaan yang ada di Indonesia. Hingga puncak dari ajaran toleransi, ialah mengenal dan saling berbagi tentang arti kemanusiaan. Karena tidak ada yang lebih tinggi lagi kecuali kita saling memanusiakan manusia.

Facebook Comments