Toleransi Bukan Mengkompromikan Keyakinan, Tetapi Bukti Kuatnya Iman

Toleransi Bukan Mengkompromikan Keyakinan, Tetapi Bukti Kuatnya Iman

- in Suara Kita
439
0
Toleransi Bukan Mengkompromikan Keyakinan, Tetapi Bukti Kuatnya Iman

Kasus intoleransi yang selalu berulang menjadi problem serius kemanusiaan dan kebangsaan kita. Efek intoleransi adalah tumbuhnya sikap membenci pihak lain yang berbeda; agama, suku, etnis dan golongan. Padahal, sejatinya kebencian ada karena ditanamkan, diajarkan dan didoktrinkan, bukan fitrah kemanusiaan atau bukan sifat yang melekat dalam diri manusia. Sementara kasih sayang merupakan perasaan yang secara alami ada pada masing-masing manusia, perasaan yang ada pada semua manusia sebagai sifat alamiah.

Intoleransi sebagai penyebab kebencian juga demikian, bersemayam pada seseorang karena diajarkan, ditanamkan dan didoktrinkan. Hal ini tentu saja bertolak belakang dengan kodrat kemanusiaan. Semestinya sifat ini dihilangkan karena memang tidak sesuai dengan tujuan manusia diciptakan untuk memakmurkan bumi, tidak ada kebencian terhadap sesama, permusuhan apalagi pertumpahan darah.

Dalam agama Islam, apa yang disebut toleransi bukanlah hal yang luar biasa, ia biasa-biasa saja, karena Islam memang mengajarkan hal tersebut. Justru, Islam sangat melarang tindakan intoleransi atas nama apapun. Persaudaraan kemanusiaan sangat dianjurkan dalam agama Islam, karena dengan demikian orang akan tertarik memeluknya. Ajaran rahmatan lil’alamin adalah kasih sayang kepada semua mahluk Tuhan. Dan, hanya kasih sayang yang mampu menggugah hati manusia. Sementara kekerasan dan permusuhan senantiasa akan menciptakan suasana yang saling curiga. Dalam kondisi seperti ini, kebenaran sebenar apapun sulit untuk diterima karena akal sehat tidak akan berfungsi.

Sebab itu, agama Islam kemudian mengajarkan pentingnya moderasi beragama karena akan menumbuhkan sikap toleransi. Toleransi adalah ketulusan, saling pengertian dan kasih sayang. Sikap seperti ini yang akan memudahkan seseorang untuk membaur dan membuka diri terhadap siapa saja dan memahami segala macam bentuk perbedaan.

Kenapa agama Islam menganjurkan moderasi beragama yang efeknya adalah sikap toleran? Keimanan seorang muslim terhadap agama Islam semestinya adalah keimanan yang sempurna, tidak goyah oleh apapun. Warna perbedaan yang memang harus ada dan menjadi kodrat Tuhan semestinya tidak menjadi sesuatu yang dianggap mengancam terhadap keimanan yang telah kokoh tersebut. Karenanya, menolak kehadiran seseorang atau kelompok yang berbeda; madhab maupun agama, menjadi tolak ukur kelemahan iman dan akidah yang dimiliki.

Seharusnya, muslim dengan keimanan yang kuat dan kokoh memiliki sifat percaya diri untuk bergaul dengan siapa saja, dari latar agama dan madhab apapun. Dengan demikian, membuka peluang untuk mengenalkan kebenaran dan kesempurnaan agama Islam dengan menampilkan keluhuran akhlak mulia. Bayangkan kalau semua muslim membenci dan tidak membuka diri terhadap pemeluk agama lain, lalu kepada siapa dakwah akan ditujukan?

Kalau muslim tidak santun dan elegan dalam perbedaan, tentu ada sesuatu yang tidak beres dalam pemahamannya terhadap ajaran agamanya. Sebab prinsip-prinsip ajaran Islam, seluruhnya, adalah kasih sayang, toleransi, dan keadilan terhadap semua manusia. Dakwah dalam Islam adalah seruan untuk memperbaiki kemungkaran dengan cara yang ma’ruf, bukan dengan cara yang mungkar, seperti pemaksaan dan kekerasan.

Perlu dipahami, toleransi bukan asimilasi. Tasamuh (toleransi) dalam Islam adalah ajaran untuk menghormati perbedaan; agama, keyakinan dan madhab tanpa pembauran akidah dan keimanan. Maka, itu tadi, keimanan tidak akan goyah gara-gara toleransi, justru sikap intoleransi yang menyebabkan iman seseorang melemah karena adanya rasa tidak percaya diri terhadap keimanan yang dimiliki. Khawatir imannya tercerabut kalau bergaul dengan non muslim, iman menjadi hilang kalau menghormati orang atau kelompok yang berbeda, menjadi bukti kelemahan iman.

Semua ini menjadi bahan renungan dan refleksi. Telah sempurna atau belum keimanan kita? Mengukurnya gampang; kalau kita masih melihat keberagaman sebagai musuh yang harus dimusnahkan, disitu telah menunjukkan keagamaan yang tidak totalitas. Keyakinan terhadap identitas kita yang paling benar merupakan suatu keharusan. Namun, kalau klaim tersebut harus dipaksa manunggal karena itu harus dipaksakan merupakan kesalahan besar.

Facebook Comments