Toleransi, Semar, dan Autochthony

Toleransi, Semar, dan Autochthony

- in Suara Kita
117
0
Toleransi, Semar, dan Autochthony

Barangkali, Semar adalah figur yang tak ada usainya untuk digelar. Kedekatan nama Semar dengan istilah samar seolah menegaskan kembali hukum bahasa, baik bahasa gambar maupun kata-kata: semakin minimalis bentuk maupun kata-kata, maka semakin kaya pula maknanya. Barangkali, Semar memang sebuah puisi yang tak ada makna yang tunggal dan final di dalamnya. Atau justru Semar memang tak secara khusus dihadirkan sebagai sebuah bahan pembicaraan: “Luwih ewuh/ Lurah Semar yen ginunggung/ Yen jalua samar/ Jaja mungal lir pawestri/ Yen estria kekuncungan” (Sungguh tak gampang/ Lurah Semar digambarkan/ Seandainya lelaki sangatlah samar/ Dadanya menggelambir seperti perempuan/ Seandainya perempuan rambutnya berkuncung).

Se-pupuh tembang pocung yang selalu dikumandangkan para dalang dalam pagelaran wayang purwa itu, khususnya gaya Yogyakarta, seperti langsung membidik keadaan Semar. Keadaan pamomong para ksatria utama ini seolah merepresentasikan pandangan hidup orang-orang Nusantara di masa silam. Sebab, tak sebagaimana karakter-karakter wayang lainnya, Semar merupakan hasil kreasi orang-orang Nusantara yang tak ada duanya di India ataupun negara-negara lainnya.

Sebuah pandangan hidup tentu saja adalah seturut dengan kondisi atau ruang yang merupakan rahimnya. Taruhlah konsep atau kepercayaan golongan Islam tertentu pada para orang yang ditengarai sebagai habib atau yang konon merupakan keturunan Nabi Muhammad yang pantas diistimewakan. Ruang yang melahirkan konsep atau kepercayaan ini tentu saja adalah dunia Arab yang dipandang sebagai asal-usul agama Islam, setidaknya demikianlah yang menjadi pandangan awam.

Di Jawa, atau daerah-daerah Nusantara lainnya yang secara paradigmatik tak terbingkai oleh salah satu corak penafsiran belaka dalam tradisi Islam, sudah pasti tak mengenal kebiasaan untuk mengkultuskan para habib, meskipun agamanya sama-sama Islam dan mengklaim sebagai umat Nabi Muhammad. Ruang kebudayaan dan ruang geografisnya sepertinya asing dengan kebiasaan pengkultusan semacam itu. Karena itulah Mangkunagara IV, meskipun beragama Islam tanpa menghilangkan kejawaannya, pernah menyatakan “perang kebudayaan” dengan para keturunan Nabi Muhammad yang kala itu cukup rese dan memengaruhi kaum muda yang disebutnya sebagai para “pengung” (Islam Radikal dalam Filsafat Perwayangan dan Serat Wedhatama, Heru Harjo Hutomo, https://etnis.id).

Durung pecus

Kasusu kasrlak besus

Amaknani rapal kaya Sayid weton Mesir            

Pendhak-pendhak angendhak gunaning janma

Ruang kebudayaan dan ruang geografis Nusantara, khususnya Jawa, yang tak mengenal radikalitas keagamaan ataupun kultus individu yang kebablasan, sebenarnya dapat dibaca dalam karakter ataupun bentuk wayang Semar. Dahyang tanah Jawa ini merupakan titik simpul segala perbedaan yang terdapat di Nusantara. Maka saking kayanya perbedaan yang dikandung, Semar pun seolah tampil laiknya konsep différance dari Jacques Derrida yang menuntut untuk toleran: menunda, membedakan, dan tak secepat kilat menghakimi.

Dengan demikian, tepatlah se-pupuh tembang pocung yang selalu mengiringi kehadiran Semar dalam pagelaran wayang purwa untuk melukiskan penyikapan orang-orang Nusantara di masa silam terhadap perbedaan. Istilah “ewuh” adalah sebentuk ekspresi penangguhan dan pembedaan agar makna tak bersifat tunggal dan final. Semar adalah sebuah kearifan lokal tentang perbedaan yang sebenarnya bersifat organis, dapat dibedakan tetapi tak dapat dipisahkan, seperti Tuhan dan insan, siang dan malam, kaya dan melarat, suka dan duka, beriman dan kafir, lelaki dan perempuan, dst. Dan dalam falsafah Jawa, Semar inilah yang dianggap sebagai puncak sikap berketuhanan (dan berkehidupan). Maka, dalam kebudayaan Jawa, Semar dipercaya sebagai Dahyang atau leluhur penunggu tanah Jawa yang sebenarnya hanyalah istilah lain untuk konsep dan prinsip autochthony yang secara alamiah selalu mengeliminasi dengan sendirinya mana yang laik hidup dan mana yang laik mati (Ma-Hyang: Melibatkan yang Silam Pada yang Mendatang, Heru Harjo Hutomo, CV. Kekata Group, Surakarta, 2020).

Facebook Comments