Totalitas Berpuasa dan Bagaimana Ramadan Membentuk Sikap Sosial

Totalitas Berpuasa dan Bagaimana Ramadan Membentuk Sikap Sosial

- in Suara Kita
204
0

Puasa adalah sebuah benteng. Oleh karena itu, jika seseorang di antara kamu berpuasa maka jangan berkata kotor (rafats), jangan berbuat jahil (berperilaku bodoh). Dan, jika seseorang datang memusuhi atau mencaci maki, maka (jangan layani, dan) katakan, Sesungguhnya aku sedang berpuasa”. Itulah penggalan hadist Qudsi yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari.

Pesan penting dari hadist tersebut ialah bahwa puasa tidak sekadar menahan lapar-dahaga, melainkan mengendalikan diri dari segala bentuk kebencian. Bahkan, ketika ujaran kebencian itu menyasar diri kita, sudah selayaknya kita tidak membalasnya. Sabar dan ikhlas dalam menghadapi segala provokasi kebencian ialah kunci sukses meraih keutamaan puasa.

Meski demikian, dalam kenyataannya harus diakui bahwa di bulan Ramadan pun masih banyak umat Islam yang terjebak dalam sindrom kebencian dan permusuhan. Fenomena itu menandai bahwa iman kita bersifat naik-turun alias fluktuatif. Atau dalam bahasa agama (Islam) disebut dengan frasa al iman yazid wa yanqus.

Ramadan barangkali memang didesain Allah untuk meningkatkan keimanan manusia. Hal ini bisa kita lihat dari sejumlah hal. Antara lain janji ampunan dan rahmat Allah bagi mereka yang berpuasa dengan ikhlas. Selain itu, Allah juga menjanjikan pahala berlipat bagi hamba-Nya yang berpuasa. Di bulan Ramadan, ibadah dan amal saleh akan diganjar pahala 10 hingga 600 kali lipat dari ibadah dana mal saleh di bulan selain Ramadan. Allah dalam sebuah hadis Qudsi berjanji bahwa kebaikan manusia yang berpuasa akan mendapat balasan langsung dari Allah. Inilah satu dari sekian banyak keutamaan puasa Ramadan.

Dimensi Sosial Puasa Ramadan

Penjabaran di atas menunjukkan bahwa puasa Ramadan memiliki dimensi spiritual yang kental. Muslim yang berpuasa dengan ikhlas mendapat garansi langsung dari Allah dan dibalas kebaikannya baik di dunia maupun di akherat kelak. Namun, selain memiliki dimensi spiritual yang kuat, puasa Ramadan juga mengandung pesan-pesan sosial yang kaya.

Puasa Ramadan memang ibadah personal yang hanya melibatkan antara manusia dan Allah. Namun, puasa yang bersifat ibadah privat ini ternyata juga bisa membentuk kesalehan sosial. Lantas, bagaimana ibadah yang bersifat privat ini bisa membentuk kesalehan pribadi menuju kesalehan sosial?

Pada dasarnya, puasa Ramadan membentuk sebuah sikap pribadi dan sosial. Secara pribadi, puasa Ramadan membentuk sikap disiplin dan jujur. Orang yang berpuasa akan disiplin dalam mengatur pola makan, dan disiplin menjaga hawa nafsu. Begitu pula, orang yang berpuasa akan jujur, setidaknya pada diri sendiri. Ia bisa saja berbohong akan puasanya pada orang lain, namun tidak pada diri sendiri dan Allah.

Sikap disiplin dan jujur ini diharapkan juga melahirkan sikap empati dan simpati terhadap sesama. Simpati dan empati mustahil lahir dari pribadi yang munafik dan hidup dengan semaunya sendiri. Simpati dan empati lahir dari kesadaran akan pentingnya sebuah sikap sosial dalam kehidupan bermasyarakat.
Jika diamati, segala bentuk permusuhan dan perpecahan selama ini banyak dilatari oleh sikap munafik (tidak jujur) dan adanya saling ketidakpercayaan antar-kelompok masyarakat. Di saat yang sama, manusia terjebak hawa nafsu untuk menjadi yang paling dominan di antara sesama. Kehendak untuk menjadi yang paling dominan itu pun diwujudkan dengan menghalalkan segala cara, termasuk kekerasan.

Ramadan Sebagai Madrasah Membentuk Sikap Sosial

Secara psiko-sosiologis, fungsi ibadah puasa Ramadan ialah di antara fungsi puasa adalah menurunkan ego baik pribadi maupun ego sosialnya agar menjadi insan muttaqin. Yakni manusia yang didalamnya memiliki derajat spiritualitas yang tinggi sekaligus memiliki komitmen kuat pada kepedulian sosial.

Puasa Ramadan dengan demikian ialah semacam madrasah yang membentuk sikap individu dan sosial. Selama sebulan seluruh anggota badan dan jiwa kita dikondisikan untuk “berpuasa” dari segala keburukan. Telinga berpuasa dari ujaran kebencian dan segala bentuk kemaksiatan. Mata berpuasa dari melihat hal-hal yang mampu memalingkan pandangan kita dari Allah. Mulut berpuasa dari mengucap kebohongan, caci-maki, dan provokasi. Demikian juga, hati dan pikiran kita idealnya juga berpuasa dari segala sifat buruk; iri, dengki, marah, benci, memusuhi, dan sebagainya. Totalitas dalam berpuasa inilah yang akan melahirkan pribadi yang benar-benar bertakwa.

Facebook Comments