TPQ sebagai Benteng Anak dari Paham Radikal

TPQ sebagai Benteng Anak dari Paham Radikal

- in Suara Kita
151
1
TPQ sebagai Benteng Anak dari Paham Radikal

Taman Pendidikan Al Quran atau yang disering disebut TPQ merupakan lembaga yang mengajarkan pelajaran agama kepada anak-anak usia 7-12 tahun. Lembaga non formal yang bekerjasama dengan masyarakat ini tumbuh disetiap masjid atau musholla di Indonesia. TPQ mempunyai tujuan untuk memberikan pelajaran baca tulis Al Quran dan nilai-nilai ke-Islaman bagi santri-santri yang mengikuti ngaji di masjid atau musholla setiap daerah.

Keberadaan TPQ merupakan salah satu upaya untuk mengurangi buta huruf Al Quran. Selain itu, TPQ juga memberikan pelajaran konsep kehidupan sehari-hari untuk saling menghormati dan menghargai. Sehingga TPQ mempunyai fungsi untuk mencerdaskan para santri dalam membaca dan menulis Al Quran serta mendidik santri-santrinya untuk ber-akhlakulkarimah. Kegiatan para santri di TPQ merupakan contoh nyata untuk mendidik anak-anak sejak usia dini guna menjadi manusia yang seutuhnya di masa depan.

Dengan begitu TPQ mempunyai peran penting dalam mengajarkan agama Islam yang rahmatan lil alamin. Sehingga pada waktunya para santri tumbuh menjadi generasi muda yang bertanggung jawab dalam mengemban amanat kepada agama, bangsa dan negara. Seperti dalam peribahasa “belajar pada masa muda ibarat mengukir diatas batu, sedang belajar di hari tua ibarat mengukir di atas air. Dengan adanya TPQ, diharapkan mampu membendung faham radikalisme yang mulai menyetuh dunia pendidikan sejak dini.

Bersama masyarakat serta orang tua santri lembaga TPQ harus saling bersinergi guna membendung ajaran radikalisme sejak dini. Hal ini dikarenakan penyebaran paham radikal tidak mengenal tempat dan waktu. Maka upaya yang harus dilakukan adalah dukungan orang tua beserta lembaga pengajaran non formal seperti TPQ untuk memberikan pemahaman kepada para santri melalui metode yang sesuai. Para santri yang masih berusia 7-12 tahun sering kali menirukan hanya dengan mendengar dan apa yang dilihatnya. Sehingga ustad dan ustazah berusaha mencari ide guna mencerdaskan para santri agar tidak terjangkit virus radikalisme.

Baca juga : Sekolah Bukan Sarang Radikalisme

Perkembangan permainan anak yang kini cenderung memakai smartphone telah memberikan celah masuknya faham radikal dan kekerasan sesama anak. Banyak kasus karena sering melihat tontonan di dunia maya berpengaruh pada anak untuk mempraktekan di dunia nyata seperti berkelahi, mencemooh kepada yang lebih tua dan lain sebagainya. Maka perlu TPQ sebagai lembaga non formal untuk memberi pemahaman mengenai hal tersebut dan membuat inovatif agar anak tidak kecanduan bermain smartphone yang berimbas terjangkit paham radikalisme serta kekerasan pada anak.

Upaya TPQ dalam membendung radikalisme pada anak

TPQ lembaga non formal yang dipilih orang tua untuk memberikan pelajaran kepada anaknya harus mampu memenuhi tuntutan zaman. Artinya TPQ harus berusaha memberikan pemahaman mengenai akhlak kepada anak-anak didiknya selain baca dan tulis Al Quran. TPQ adalah tempat belajar yang menyenangkan dan terjadi kontak sosial secara langsung antara anak satu dengan lainnya sambil belajar. Ustad atau ustazah mempunyai peran mengawasi perkembangan dan pertumbuhan setiap anak dalam belajar baca tulis Al Quran serta pelajaran akhlak yang telah diberikan.

Seperti dalam salah satu judul buku Quraish Shihab “yang hilang dari kita adalah akhlak”. Judul buku itu menegaskan bahwa dalam dekade terakhir ini akhlak dari manusia atau dalam bahasa jawa “ungah ungguh” mulai pudar. Pada tahapan ini maka TPQ perlu juga memperkuat pelajaran akhlak. Dalam memberi pelajaran kepada anak didik TPQ bisa menggunakan kitab yang dibaca dengan nadhoman “dilagukan” guna mempermudah pemahaman dan hafalannya. Kitab yang dikarang oleh Kiai Bisri Mustofa yang berjudul “Ngudi Susilo” bisa menjadi referensi.

Kitab Ngudi Susilo memberikan gambaran secara nyata dan mudah dipahami oleh anak-anak. Isi dan subtansinya pun menggambarkan kehidupan sehari-hari dan selalu terjadi dalam keseharian setiap anak. Pada awal syair pembuka juga ditujukan kepada anak-anak –iki syiir kanggo bocah lanang wadon -nebehake tingkah laku engkang awon- artinya syiir untuk anak laki-laki dan perempuan -untuk menjauhkan tingkah laku yang tidak terpuji. Kitab ini sangat relavan sebagai pedoman TPQ disetiap daerah untuk bahan ajar selain baca dan tulis Al Quran.

Kitab ini dituliskan menggunakan bahasa jawa. Subtansi dari kitab yang dikarang oleh Kiai Bisri Mustofa menerangkan pengajaran anak mulai umur 7 tahun seperti dalam salah satu bait syairnya –bocah iku wiwit umur pitung tahunkudu ajar tata kheben ora getun– yang berarti anak sejak umur tujuh tahun harus diajari tata krama agar tidak rugi. Nah kitab seperti ini yang harus menjadi rujukan agar anak bisa mempunyai tata krama kepada yang lebih tua dan sesamanya. Dan jika seorang anak sudah mengerti isi kitab tersebut melalui lembaga TPQ bukan tidak mungkin akan menjadi benteng radikalisme untuk masa depan bangsa.

Jika anak sudah menerapkan akhlakulkarimah maka paham radikal akan sulit masuk, bahkan kekerasan terhadap anak akan berkurang. Anak-anak akan bisa menilai apa yang dilakukan ini baik atau tidak, sehingga tercipta interaksi sosial yang lebih mengedepankan akhlak dan kemaslahatan bersama.

Facebook Comments