Tradisi Lisan Suku Mentawai sebagai Bentang dari Provokasi Ideologi Trans-Nasional!

Tradisi Lisan Suku Mentawai sebagai Bentang dari Provokasi Ideologi Trans-Nasional!

- in Suara Kita
1018
0
Tradisi Lisan Suku Mentawai sebagai Bentang dari Provokasi Ideologi Trans-Nasional!

Satu lagi tentang kearifan lokal yang perlu kita ketahui dan perlu kita perkuat. Yaitu (tradisi Lisan) dari Suku Mentawai. Di mana, Suku Mentawai menempatkan tradisi lisan ke dalam tata-etika simbolis yang konstruktif terhadap identitasnya sendiri. Artinya, ini berperan untuk merangsang seseorang untuk mengenali identitasnya hingga tidak mudah terpengaruh dengan identitas orang lain.

Sebagaimana dalam tradisi lisan, Suku Mentawai selalu meniscayakan tuturan-tuturan lama, nasihat leluhur serta hikayat lama yang orientasinya sebagai media pengingat serta media penghubung untuk menghidupkan (jati diri) yang sebenarnya.

Bagaimana secara orientasi, tradisi lisan ini terus dipertahankan sebagai jalan (warisan adat) untuk memahami dan mengenali segala hubungan dirinya dengan alam, leluhur, dengan orang sekitar, serta hubungan dirinya dengan ruh suci (Tuhan).

Oleh sebab itulah, kenapa tradisi lisan dari Suku Mentawai perlu kita perkuat dan perlu kita hidupkan kembali. Agar, segala provokasi ideologi trans-nasional tidak mudah merusak dan membuat kita melupakan identitas kita sendiri. Sebab, tradisi lisan yang dipegang teguh oleh Suku Mentawai, selalu berinisiatif terhadap pengenalan jati diri serta pengasahan diri untuk memahami relasi hubungan dirinya dengan sesuatu yang di luar dirinya.

Semua itu dibangun atas dasar (tradisi lisan). Baik melalui cerita-cerita rakyat, dongeng kepahlawanan, pengajaran prinsip leluhur serta kisah-kisah akan ruh suci yang mereka percayai. Karena, tradisi lisan itu mengacu ke dalam penghidupan jati diri yang lebih filosofis. Berperan untuk mengenali siapa kamu, siapa aku, siapa kita, dari mana kita, apa yang harus kita dilakukan. Semua itu dibumbui dengan berbagai hikayat dan mitologi untuk menemukan jawaban-jawaban dari pertanyaan tadi.

Misalnya jika tradisi lisan kita korelasi-kan ke dalam situasi saat ini di tengah maraknya provokasi ideologi trans-nasional. Bagaimana ideologi impor ini selalu ingin menghilangkan kesadaran kita untuk “dibuat lupa” akan identitas kita. Baik secara kebudayaan, kebangsaan atau-pun keagamaan. Sebab, ketika kita dalam kondisi lupa, senyatanya akan jauh lebih mudah tertarik dengan ideologi, identitas impor atau-pun pemahaman dari luar yang sengaja ingin memecah-belah bangsa.

Oleh karena itu, kita perlu menghidupkan budaya atau tradisi lisan dari Suku Mentawai ini. Bagaimana secara (kontekstual) kita perlu menjadikan tuturn atau kisah-kisah sejarah kemerdekaan atau kepahlawanan sebagai penghubung emosional kita atas identitas dan jati diri bangsa ini. Sehingga, dengan cara seperti itulah kita akan semakin tertanam semangat nasionalisme yang utuh dan kokoh.

Kenapa? Karena tradisi lisan sejatinya akan membuat kita sadar secara emosional mengenai hubungan kita dengan apa yang ada di luar kita sendiri. Misalnya: Siapakah kita, dari mana kita dan apa yang perlu kita lakukan. Sebagaimana cara kerjanya, kita perlu melihat dan mendengarkan kisah-kisah atau cerita leluhur bangsa yang berjuang demi kemerdekaan ini. Serta bagaimana semangat untuk merebut kemerdekaan agar cucu-cucunya kelak (kita) bisa hidup nyaman dan damai.

Karena cara kerja tradisi lisan yang dipegang teguh oleh suku Mentawai ini tampaknya memiliki paradigma yang sangat positif untuk kita lestari-kan dan kita praktikkan. Karena, tradisi lisan yang semacam ini tidak hanya kita mendengarkan sebuah kisah. Melainkan sebagai (jalan simbolis) untuk merangsang kita agar lebih tahu dan memahami hubungan kita dengan alam, dengan leluhur, dengan orang sekitar atau-pun dengan ruh suci yaitu Tuhan.

Sehingga, tradisi lisan ini akan membuat kita semakin sadar bahwa kita adalah putra-putri bangsa Indonesia. Kita adalah bagian dari NKRI. Kita adalah pahlawan untuk terus berjuang bagi negeri ini. Sehingga, dengan kuatnya (hubungan emosional) yang semacam ini, niscaya kita tidak akan mudah termakan provokasi ideologi trans-nasional yang selalu berinisiatif untuk memecah-belah.

Facebook Comments