Tradisi Silaturrahmi; Mengebalkan Imunitas dari Paham Radikalisme

Tradisi Silaturrahmi; Mengebalkan Imunitas dari Paham Radikalisme

- in Suara Kita
156
0
Tradisi Silaturrahmi; Mengebalkan Imunitas dari Paham Radikalisme

Umat Islam memiliki tradisi silaturrahmi setiap bulan Syawal. Di mana semua umat Islam saling berkunjung ke rumah atau sering disebut dengan istilah “badan atau lebaran”, halal bi halal, mudik, saling memaafkan satu sama lain, dan berkumpul bersama. Tradisi tersebut dapat mengebalkan imunitas dari paham radikalisme. Tradisi silaturrahmi ini harus tetap dilakukan sepanjang bulan Syawal, karena silaturrahmi yang menjembatani para umat Islam untuk saling mengenal yang berbeda.

Silaturrahmi berasal dari dua kata bahasa arab, yakni silah dan rahiim yang memiliki makna tali persaudaraan. Dilakukannya silaturrahmi sebagai upaya agar tali persaudaraannya tidak terputus. Menjaga hubungan baik antar sesama manusia salah satu ajaran Islam. Hal ini termaktub dalam potongan surah An-Nisa ayat 36 “…berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapak, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga dekat dan jauh, serta teman sebaya, Ibnu sabil, hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri.”

Semua manusia yang hidup di dunia harus menyeimbangkan antara hablum minallah (sesuatu yang bersangkutan langsung dengan Allah Subhanahu Wa Ta’ala) dengan hablum minannaas (sesuatu yang bersangkutan dengan sesama manusia). Ibadah seorang umat muslim tidak sempurna tanpa keseimbangan keduanya. Silaturrahmi termasuk hablum minannaas sebagai penyempurna ibadah. Jikalau hati sulit memaafkan orang lain, maka perlu mengingat bahwa Allah Subhanahu Wa Ta’ala (Sang Pencipta) Maha Pengampun. Dengan begitu akan lebih mudah memaafkan orang lain. Sejatinya manusia tempatnya salah dan khilaf. Allah Subhanahu Wa Ta’ala lebih menyukai orang yang mengakui kesalahannya lalu meminta maaf daripada ‘merasa’ dirinya tidak punya salah.

Tradisi silaturrahmi terjadi satu tahun sekali, pada tanggal 1 Syawal setelah berpuasa ramadhan 29 hari atau 30 hari. Dalam melakukan tradisi ini, antar sesama umat muslim saling berjabat tangan sambil bermaaf-maafan. Adanya tradisi silaturrahmi semakin merekatkan tali persaudaraan, dan mengikis kebencian.

Tradisi silaturrahmi juga berguna untuk mengebalkan imunitas dari paham radikalisme. Paham radikalisme adalah suatu paham yang berkeinginan merubah maupun mengganti ideologi bangsa melalui cara kekerasan atau ekstrem. Seseorang akan mudah terhasut oleh kelompok yang membawa paham radikalisme, jikalau dilanda masalah kesenjangan sosial. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia ( KBBI ), kesenjangan sosial bermakna ketidakseimbangan, perbedaan, dan jurang pemisah dalam suatu tatanan masyarakat. Adanya tradisi silaturrahmi ini dapat meminimalisir kesenjangan sosial, sehingga imunitas akan kebal dari hasutan paham radikalisme atau tidak mudah terpengaruh/terhasut dari orang lain.

Semua orang berpotensi terkena paparan paham radikalisme, karena kelompok radikal semakin merajalela. Namun potensi tersebut dapat ditangkal selain dengan melakukan tradisi silaturrahmi, juga dapat ditangkal dengan berpedoman pada ideologi Pancasila, semboyan Bhinneka Tunggal Ika, serta Undang-Undang Dasar 1945 sebagai modal umat muslim dalam berbangsa dan bernegara. Selain itu, berpegang teguh pada al quran dan hadits. Sejatinya semua ajaran Islam tertera di dalamnya. Sejatinya paham radikalisme banyak disebarkan dengan mengatas namakan agama. Sebagai umat Islam harus selalu waspada dan tabayyun (mencari kebenaran) terhadap informasi-informasi yang didapatkan.            

Oleh karena itu, para umat Islam harus mempertahankan tradisi silaturrahmi ini sebagai tameng kekebalan imunitas dari paham radikalisme. Sesama umat Islam semakin merekat tali persaudaraannya, maka kekebalan imunitas semakin tinggi dan tidak menutup kemungkinan paham radikalisme akan terpecahkan. Kerentanan terhadap paham radikalisme, semestinya harus menanamkan rasa solidaritas yang tinggi.

Facebook Comments